tirto.id - Perkembangan perang Iran-Amerika terbaru, Pentagon dilaporkan memberikan informasi ke Kongres Amerika Serikat (AS) bahwa operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz dapat berlangsung hingga enam bulan lamanya. Hal ini meningkatkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak imbas perang tersebut.
The Washington Post mengeluarkan laporan pada Kamis (23/4/2026) yang menyebutkan bahwa Pentagon telah memberikan informasi perkiraan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz.
Disebutkan dalam laporan itu, seorang pejabat senior Kementerian Pertahanan AS menyampaikan perkiraan lama waktu operasi pembersihan ranjau itu dalam pengarahan rahasia untuk Kongres AS pada Selasa (21/4). Keterangan ini disebut bersumber dari tiga pejabat anonim yang mengetahui pembicaraan.
Para sumber anonim mengatakan, pengarahan rahasia itu disambut dengan rasa frustrasi oleh anggota DPR dari Demokrat maupun Republik. Hal ini dikarenakan durasi enam bulan berarti harga bensin masih dapat tetap tinggi meskipun gencatan senjata tengah berlangsung.
Presiden AS Donald Trump sendiri mengeluarkan pernyataan yang berubah-ubah tentang seberapa lama kenaikan harga minyak akan bertahan. Sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut bahwa harga minyak baru akan mencapai level normal pada akhir September mendatang.
Setelah laporan The Washington Post dirilis, Pentagon segera membantah informasi itu. Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyebut outlet media itu memberikan informasi yang tidak akurat.
"Media yang memilih-milih informasi yang bocor, yang sebagian besar salah, dari pengarahan tertutup dan rahasia, adalah jurnalisme yang tidak jujur," kata Parnell, dikutip dari The Times of Israel.
Parnell juga bersikap sangat defensif terhadap laporan The Washington Post itu. Dalam pernyataannya dia menyebut bahwa outlet media itu telah menerbitkan klaim palsu dan tidak berpihak pada kebenaran.
"Dengan memutuskan untuk menerbitkan klaim palsu ini, Washington Post telah memperjelas bahwa mereka lebih peduli pada memajukan agenda daripada kebenaran," katanya.
Akan tetapi, Komando Pusat AS (CENTCOM) dan Gedung Putih menolak untuk berkomentar atas persoalan ini. Kedua lembaga itu tidak mengonfirmasi isi laporan maupun membantahnya.
Perkiraan Jumlah Ranjau Iran di Selat Hormuz
Perairan Selat Hormuz kini diduga telah dipasangi benyak ranjau laut oleh Iran. CNN melaporkan hal tersebut pada Maret lalu.
Tiga sumber pejabat anonim The Washington Post menyebut, jumlah ranjau Iran di Selat Hormuz kini mencapai 20 buah atau bahkan lebih. Anggota parlemen AS disebut telah diberikan informasi perkiraan jumlah ranjau tersebut.
Beberapa ranjau disebut telah ditempatkan dari jarak jauh dengan teknologi GPS dan mempersulit pasukan AS untuk mendeteksinya. Beberapa ranjau lainnya diyakini telah diletakkan pasukan Iran dengan perahu-perahu kecil.
Sejauh ini Iran tidak secara eksplisit mengakui bahwa pasukannya telah memasang ranjau laut di Hormuz. Namun Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) telah memperingatkan "zona bahaya" di Selat Hormuz dengan luasan sekitar 1.400 kilometer persegi.
Sementara itu, The New York Times mengeluarkan laporan pada bulan April dan mengutip seorang pejabat AS yang mengatakan bahwa ada kemungkinan Iran kini tidak dapat menemukan semua lokasi ranjau yang telah mereka pasang di Hormuz.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id































