tirto.id - Penduduk Kota Islamabad, Pakistan, turut merasakan ketidakpastian jalannya negosiasi penghentian perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Aktivitas penduduk berhenti selama kota itu menggelar upaya diplomasi. Hal ini membuat para penduduk seakan kembali mengalami lockdown semasa pandemi.
Seturut The Guardian, Islamabad dalam beberapa hari terakhir telah menjadi ibu kota negara yang teramat sepi. Islamabad jadi layaknya sebuah kota yang dikenai karantina wilayah.
Jalan-jalan di ibu kota Pakistan itu terus lengang selama berhari-hari. Toko-toko ditutup dan transportasi umum dihentikan.
Para buruh diminta untuk bekerja dari rumah. Beberapa buruh harian bahkan terpaksa kehilangan pendapatan.
Ada beberapa manusia yang sibuk hilir mudik atau berdiri berjejer di sejumlah sudut kota, namun mereka semua mengenakan seragam tentara dan polisi. Aktivitas para pemakai seragam ini jadi satu-satunya aktivitas manusia yang tampak mendominasi di Islamabad yang sepi.
Bagi banyak penduduk, situasi ini terasa seperti masa pagebluk, ketika semua wilayah dikenai karantina. Namun, kali ini penyebabnya bukan virus, melainkan perundingan tahap kedua antara AS dan Iran untuk menghentikan perang yang pecah sejak 28 Februari lalu.
Perang itu telah menyebabkan banyak negara di dunia kena imbasnya. Korban jiwa yang terbunuh meluas di kawasan Teluk hingga Lebanon dan Israel. Ribuan nyawa manusia terbunuh dalam kurun waktu sekitar 50-an hari.
Iran juga telah menutup Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi dunia. Kenaikan harga terjadi di banyak negara karenanya, termasuk di Indonesia.
Di tengah situasi itu, Islamabad dijadwalkan jadi tempat berlangsungnya perundingan tahap kedua antara negara yang bermusuhan pada Rabu. Keamanan kota lalu diperketat, aktivitas para penduduk terpaksa dikesampingkan demi upaya menuju perdamaian.
Akan tetapi, seiring waktu yang dijadwalkan mendekat, ketidakpastian menyelimuti agenda penting tersebut. Delegasi Iran memutuskan untuk tidak datang bernegosiasi di Islamabad, sementara delegasi AS dikabarkan telah berangkat ke Pakistan.
Warga Islamabad Frustrasi
Warga Islamabad tetap terpaksa melakukan karantina di kotanya sendiri imbas rencana negosiasi AS-Iran. Hal ini meningkatkan rasa frustrasi di antara mereka yang kehidupannya sangat bergantung pada pusat ekonomi di kota tersebut.
Banyak pekerja yang tak mampu menyewa flat di Islamabad dan Rawalpindi, dilaporkan mengalami pengusiran dari asrama pada Sabtu (18/4). Hal ini disebut terjadi ketika Pemerintah Pakistan secara buru-buru memerintahkan puluhan ribu orang mencari tempat tinggal baru.
Salah satu pekerja yang terpaksa keluar dari asrama itu adalah Areej Akhtar. Ia adalah seorang petugas kesehatan di Institut Ilmu Kedokteran Pakistan, sebuah rumah sakit pemerintah di Islamabad.
"Hari Sabtu sangat kacau. Saya cukup beruntung karena desa saya berjarak tiga jam perjalanan. Tetapi banyak orang [yang] berasal dari kota dan provinsi yang jauh harus memohon kepada kolega, teman, dan kerabat mereka untuk mengizinkan mereka tinggal sampai negosiasi AS-Iran berlangsung," kata Akhtar.
Ketika ketidakpastian terus menyelimuti proses negosiasi AS-Iran, status karantina terus diperpanjang. Hal ini membuat para buruh di Islamabad mempertanyakan berapa lama lagi mereka harus terpisah dari mata pencaharian mereka.
Akhtar juga merasakan rasa frustrasi itu. Ia tak bisa bekerja karena transportasi umum telah dihentikan. Menurutnya, ia seperti "hidup dalam sangkar" selama menunggu proses negosiasi para pejabat selesai dilakukan.
"Kita tidak bisa kembali bekerja. Banyak orang seperti saya tidak mampu menyewa apartemen, itulah sebabnya kami tinggal di hostel," katanya.
Bagi warga Islamabad, pengamanan ketat ibu kota selama proses negosiasi AS-Iran telah memperparah kondisi ekonomi mereka. Pakistan sebelumnya merupakan salah satu negara paling terdampak secara ekonomi oleh adanya perang.
Pakistan telah terdampak krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz. Ada pemadaman listrik selama tujuh jam yang diberlakukan di sana. Banyak restoran di ibu kota juga terpaksa tutup karena kekurangan gas untuk memasak.
Bagi Muhammad Zubair, seorang buruh harian di Islamabad, pengamanan ketat kota telah membuatnya merana. Ia menyebut tak bisa mendapatkan pekerjaan selama enam hari terakhir.
“Penguncian wilayah berarti tidak ada pekerjaan dan tidak ada pekerjaan berarti tidak ada makanan. Pemerintah tidak peduli dengan kaum miskin. Kita butuh pekerjaan untuk memberi makan anak-anak kita," katanya.
Karantina Islamabad juga berdampak bagi penduduk yang tengah berusaha meningkatkan taraf ekonomi mereka. Perundingan antara Washington dan Teheran di Islamabad telah membuat lokasi ujian bagi 1.200 calon pegawai sipil Pakistan harus dipindahkan ke Lahore.
Islamabad dan Lahore berjarak lebih dari 370 km. Hal itu menyulitkan penduduk yang tengah mengikuti ujian tersebut.
Salah satunya Yasir Mushtaq. Ia seharusnya ikut ujian tersebut, namun lokasi ujian yang diubah ke Lahore membuatnya kesulitan membiayai perjalanan.
"Saya harus meminjam uang," katanya. "Lebih buruk lagi bagi calon perempuan. Banyak perempuan tidak bisa berpergian sendirian tanpa didampingi orang tua. Beberapa berpikir untuk melewatkan ujian mereka."
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































