tirto.id - Penyebab demonstrasi besar para generasi muda atau lebih dikenal dengan demo gen Z di Madagaskar dipicu oleh krisis listrik dan air di negara tersebut. Lantas, kenapa Presiden Madagaskar Andry Rajoelina bersembunyi?
Demo Gen Z di Madagaskar berlangsung mulai 25 September 2025 hingga saat ini masih terus bergulir. Militer Madagaskar yang sebelumnya mengamankan demo agar tidak ricuh, saat ini malah mendukung para pendemo yang menuntut Presiden Andry Rajoelina turun dari jabatannya.
Penyebab Demo Gen Z di Madagaskar
Penyebab demo besar-besaran di Madagaskar berakar dari ketidakpuasan rakyat terhadap kondisi kehidupan yang memburuk dan pemerintahan yang dianggap gagal menjalankan fungsinya.
Awalnya, demonstrasi dipicu oleh keluhan atas krisis air dan listrik yang parah. Tak hanya di perumahan, berbagai bisnis di Madagaskar pun sering mengalami pemadaman lebih dari 12 jam setiap harinya.
Protes dengan cepat berkembang menjadi gerakan anti pemerintah. Mereka kini tak hanya mengeluhkan krisis listrik dan air melainkan juga menyoroti dugaan korupsi yang dilakukan pemerintah, tingginya biaya hidup, serta kesenjangan sosial yang semakin lebar.
Dilansir Al Jazeera, dari data Bank Dunia menunjukkan bahwa sekitar 80% dari 31 juta penduduk Madagaskar hidup dalam kemiskinan, dan hanya sepertiga yang memiliki akses terhadap listrik.
Pendemo juga menilai jika ada ketimpangan Pemerintah dalam memperlakukan rakyatnya. Para elit politik yang dekat dengan Presiden Rajoelina akan diberikan keistimewaan.
Menanggapi protes tersebut, pemerintah juga dinilai tidak responsif. Tindakan Rajoelina mengganti perdana menteri dan menawarkan dialog dianggap terlalu terlambat dan tidak menyentuh akar masalah.
Akibatnya, protes berubah menjadi gerakan yang menuntut reformasi total, termasuk pengunduran diri presiden dan pembubaran lembaga-lembaga tinggi negara.
Militer Ambil Alih Pemerintahan Usai Presiden Madagaskar Kabur?
Melansir AP News, Presiden Madagaskar Andry Rajoelina dikabarkan meninggalkan negara setelah tidak mampu meredam protes Gen Z yang telah berminggu-minggu digelar.
Meski membantah bersembunyi di luar negeri, perwakilan Rajoelina menyebut jika saat ini Rajoelina sedang berada di safe place atau tempat aman namun tetap memantau perkembangan protes di negaranya.
Militer elit Madagaskar, CAPSAT resmi bergabung dengan para pendemo pada Sabtu, 11 Oktober kemarin. Pimpinan CAPSAT bahkan mengumumkan jika saat ini militer telah mengambil alih pemerintahan Madagaskar.
CAPSAT disebut akan membentuk dewan kekuasaan yang terdiri dari perwira militer dan gendarmerie (satuan militer yang bertugas mengawasi warga sipil) untuk menunjuk seorang perdana menteri.
Segera setelah Perdana Menteri baru Madagaskar ditunjuk, ia langsung ditugaskan untuk membentuk pemerintahan sipil.
“Kami mengambil alih kekuasaan,” ujar Kolonel Michael Randrianirina.
Mendengar hal itu, Rajoelina kemudian mengeluarkan dekrit Presiden yang berisi pembubaran majelis rendah parlemen. Namun dekrit tersebut tidak digubris oleh para anggota parlemen yang memutuskan jika pemerintahan Rajoelina di Madagaskar telah berakhir.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































