tirto.id - Kata anarki, anarkis, dan anarkisme kerap disebut oleh pemerintah beberapa waktu belakangan seiring maraknya berbagai aksi demo di sejumlah wilayah. Namun, sebetulnya, apa perbedaan anarki, anarkis, dan anarkisme?
Penggunaan kata anarki, anarkis, dan anarkisme kerap muncul di berbagai pemberitaan dan pernyataan dari pejabat pemerintah. Tak jarang kata-kata tersebut digunakan untuk memberi label pada kelompok massa tertentu.
Bahkan sering kali kata-kata anarki, anarkis, dan anarkisme identik dengan kerusuhan dan vandalisme. Label terhadap pihak tertentu menggunakan kata anarki, anarkis, dan anarkisme berpotensi memunculkan gelombang pergerakan masyarakat lantaran pemerintah terus bersikap anti-kritik.
Bahkan pemerintah tak segan-segan menuding masyarakat sebagai biang kerusakan. Penggunaan kata-kata tersebut perlu dicermati lebih dalam.
Apalagi terkadang kata-kata anarki, anarkis, dan anarkisme digunakan secara tertukar. Lantas, apa sebenarnya perbedaan anarkis, anarkisme, dan anarki? Cek penjelasannya di artikel ini.
Perbedaan Anarkis, Anarkisme, dan Anarki

Perbedaan kata anarkis, anarkisme, dan anarki wajib dicermati baik-baik. Apalagi belakangan ini kata-kata tersebut kerap digunakan oleh pemerintah dalam pernyataan resmi terhadap berbagai aksi pergerakan masyarakat.
Berdasarkan penjelasan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berikut uraian arti kata anarki, anarkis, dan anarkisme.
1. Arti Kata ‘Anarki’ Berdasarkan KBBI
Kata ‘anarki’ dalam KBBI dijelaskan dalam dua definisi:- n hal tidak adanya pemerintahan, undang-undang, peraturan, atau ketertiban
- n kekacauan (dalam suatu negara)
Penggunaan istilah ‘anarki’ kerap disandingkan dengan kelompok anak muda yang punya identitas visual tertentu. Mulai dari berpakaian serba hitam, memakai simbol huruf “A” dalam lingkaran, atau terhubung dengan subkultur punk. Namun, secara bahasa ‘anarki’ bukan berarti kekacauan itu sendiri, melainkan sebuah awalan yang terkait dengan ideologi.
2. Arti Kata ‘Anarkis’ Berdasarkan KBBI
Kata ‘anarkis’ dalam KBBI memiliki penjelasan arti, sebagai berikut:- n penganjur (penganut) paham anarkisme
- n orang yang melakukan tindakan anarki
Demikian pula orang yang melakukan tindakan rusuh tanpa aturan, meskipun tanpa ideologi tertentu, juga bisa dilabeli anarkis. Penggunaan kata ‘anarkis’ di media kerap digunakan sebagai kata sifat.
3. Arti Kata ‘Anarkisme’ Berdasarkan KBBI
Berbeda dari kata ‘anarki’ dan ‘anarkis’, kata ‘anarkisme’ memiliki penjelasan arti sebagai berikut di KBBI:- n ajaran (paham) yang menentang setiap kekuatan negara; teori politik yang tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang
Anarkisme melawan semua bentuk kontrol hierarkis, baik kontrol oleh negara maupun kapitalis, sebab hierarki dianggap merugikan individu dan individualitas seseorang. Berdasarkan sejarah pemikiran politik, anarkisme muncul pada abad ke-19 di Eropa.
Tokoh-tokoh seperti Pierre-Joseph Proudhon, Mikhail Bakunin, dan Emma Goldman mengusung gagasan tentang masyarakat tanpa hierarki dan otoritas negara. Bagi mereka, anarkisme bukanlah kekacauan, melainkan upaya menciptakan tatanan sosial yang lebih adil berdasarkan solidaritas, kesetaraan, dan kebebasan individu.
Kerap terjadi salah kaprah dalam penggunaan kata ‘anarkisme’. Umumnya orang menganggap anarkisme berbau dengan kekerasan. Padahal dalam literatur politik, anarkisme merupakan filsafat sosial yang menolak bentuk penindasan apa pun, baik oleh negara, kapital, maupun institusi keagamaan.
Kenapa Penggunaannya Sering Tertukar?

Sejatinya kata anarki, anarkis, dan anarkisme memiliki perbedaan tersendiri. Meskipun punya definisi yang berbeda, tetapi dalam kenyataan penggunaannya sering tertukar.
Mengapa bisa demikian? Simak penjelasannya di bawah ini:
1. Memiliki Akar Kata yang Sama
Kata ‘anarki, anarkis, dan anarkisme’ memiliki akar kata yang sama. Faktor ini menyebabkan penggunaan kata-kata tersebut dapat tertukar.Asal dari tiga kata tersebut berasal dari akar kata Yunani, yakni ‘an-‘ yang berarti ‘tanpa’ dan ‘archos’ yang berarti ‘penguasa’. Menurut etimologis, semuanya bermakna ‘tanpa penguasa’. Kesamaan ini membuat masyarakat awam kerap sulit membedakan fungsi dan konteks dari tiga kata di atas.
2. Kebingungan Tata Bahasa
Faktor lain yang membuat penggunaan kata ‘anarki, anarkis, anarkisme’ kerap tertukar ialah karena kebingungan tata bahasa. Bahasa Indonesia mempunyai kata ‘anarkis’ (orang atau penganut) dan ‘anarkistis’ (bersifat anarki).Namun, perbedaan ini jarang diperhatikan dalam percakapan sehari-hari dan di media. Oleh karena itu, frasa ‘aksi anarkis’ muncul dan digunakan. Padahal ada opsi lain yang lebih tepat, yakni ‘aksi anarkistis’.
3. Stigma dan Citra Negatif
Kata ‘anarkis’ dalam pemberitaan media kerap kali dikaitkan dengan kekerasan, perusakan, dan demonstrasi rusuh. Pemerintah sendiri sering menggunakan istilah ini untuk memberi label negatif pada kelompok massa tertentu.Padahal menurut tradisi pemikiran politik, anarkisme tidaklah sama dengan kerusuhan. Namun, framing media dan politik bahasa membuat istilah ini terlanjut identik dengan kekacauan.
Anarki dalam Konteks Indonesia

Penggunaan istilah ‘anarki’ sering kali muncul ketika pergerakan masyarakat mulai terlihat. Aparat kepolisian dan pemerintahan beberapa kali menyebutkan “kelompok anarki” yang dituding memprovokasi massa atau merusak fasilitas umum.
Menurut visual, kelompok ini kerap digambarkan sebagai anak muda dengan pakaian hitam, menggunakan masker, dan menyebarkan propaganda lewat grafiti. Mereka juga kerap dikaitkan dengan budaya punk.
Kendati demikian, sejumlah pengamat memandang label ‘anarki’ terlalu disederhanakan. Tidak semua kalangan muda dengan tampilan visual seperti itu otomatis disebut kelompok anarki.
Secara singkat, dapat disimpulkan bahwa anarkis merupakan orang atau pelaku yang menjalankan anarkisme; anarkisme merupakan paham atau ideologi yang menolak otoritas negara dan hierarki sosial; anarki merupakan awalan yang digunakan untuk menyebut cabang atau varia gerakan anarkis.
Penggunaan tiga kata tersebut rawan tertukar disebabkan beberapa faktor yang dijelaskan di atas. Mulai dari kesamaan akar kata, kebingungan tata bahasa, dan stigma negatif yang terlanjut melekat.
Pemahaman terhadap pengertian tiga kata di atas dapat membantu untuk memahami lebih jeli tentang wacana politik dan pemberitaan media. Bahasa tidak hanya soal arti, tetapi juga soal kuasa.
Ingin terus update informasi tentang pergerakan aksi di Indonesia? Cek selengkapnya di kumpulan artikel dari Tirto:
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Nurul Azizah & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































