21 Agustus 1983

Pembunuhan Politik Filipina: Ninoy Aquino Didor di Tangga Pesawat

Ninoy Aquino. tirto.id/Nauval
Oleh: Irfan Satryo Wicaksono - 21 Agustus 2020
Dibaca Normal 4 menit
Tiga tahun jadi eksil di AS karena melawan rezim Marcos, Ninoy memutuskan pulang. Di bandara Manila, ia dibunuh.
Surya baru terbit saat itu, 21 Agustus 1983, tepat hari ini 37 tahun lalu, dengan udara hangat dan lembab di Taipei. Udara bahkan cukup sumuk sehingga membikin Marcial Bonaficio tak juga memakai rompi antipeluru yang mestinya ada di balik setelan safari berwarna krem dengan sebuah tempelan bordir bertuliskan huruf B.S.A. di bagian saku kiri, yang merupakan inisial nama aslinya: Beniqno Simeon Aquino atau kita kenal dengan nama Ninoy Aquino.

Sebentar lagi Ninoy, ditemani Ken Kashiwahara, koresponden ABC News di San Francisco, akan berangkat menuju bandara internasional Chiang Kai-shek dari penginapannya di Taipei Grand Hotel untuk terbang menggunakan China Airlines Flight 811 pada pukul 11 siang. Tiga tahun lebih ia jauh dari tanah kelahirannya dan selalu dekat dengan bahaya. Dan hari inilah yang paling ia tunggu: pulang ke Manila, ke tanah airnya.

Mundur 30 tahun ke belakang, Ninoy Aquino muda adalah sebongkah berlian di panggung politik Filipina. Ia masih bekerja sebagai reporter ketika jadi penjembatan antara Presiden Ramon Magsaysay dan Luis Taruc. Ninoy berjalan jauh menembus hutan Luzon untuk membujuk pemimpin gerilyawan komunis Hukbalahap itu menyerah. Pada usia 22 ia dinobatkan sebagai wali kota termuda di kota kelahirannya, Concepcion. Enam tahun berselang, karier politiknya semakin berkilau saat ia berhasil menjadi Gubernur Provinsi Tarlac.

Ketika menjabat sebagai gubernur, Ninoy menikahi Maria Corazon Cojuangco, seorang putri pemilik perkebunan tebu seluas 18.000 acre di Tarlac, sejumlah bank, dan beberapa real estate. Ninoy memproklamasikan diri sebagai "orang kaya radikal" dan membagikan tanah yang ia punya untuk menjadi petak individu dan memberikannya kepada pekerja kebun dan pekerja pabrik.

Di usia 34 Ninoy menjadi senator termuda dan hampir saja jadi presiden jika sang petahana saat itu, Ferdinand Marcos, tidak memberlakukan undang-undang darurat militer pada 1972 buat melanggengkan kekuasannya. Undang-undang inilah yang membikin Ninoy, dan banyak lawan politik Marcos lain, jadi pesakitan politik selama belasan tahun.

Ninoy dipenjara dan dijatuhi hukuman mati pada 1977 namun berhasil lolos karena desakan internasional. Pada 1980 ia diizinkan rezim Marcos untuk pergi ke Amerika Serikat guna menjalani operasi jantung dan menetap di sana sebagai eksil. Selama menjadi eksil ia menerima beasiswa di Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology, mengisi waktu dengan menjadi pengajar, menulis, dan tetap tekun melawan rezim Marcos. Ninoy juga sering bersafari ke berbagai negara untuk mencari solusi politik buat negerinya.


Menurut Ken Kashiwahara dalam laporan berjudul "Aquino's Final Journey" yang terbit di New York Times (16/10/1983), Ninoy sudah merencanakan kepulangannya ke Filipina pada Mei 1983. Saat itu beasiswanya telah berakhir dan ia menganggap apa yang telah ia lakukan di Amerika Serikat sudah cukup. Selain itu ia juga punya keyakinan kuat bahwa Marcos, yang punya kendali penuh atas militer, adalah kunci transisi damai menuju demokrasi.

Ninoy berniat membujuk Marcos untuk mengendurkan kendali otoritarianisme dan melembagakan reformasi nasional. Ia berpikir dengan mempertaruhkan kepulangannya, mempertaruhkan pemenjaraan, dan bahkan hukuman mati, Marcos akan melihat betapa serius Ninoy ingin mengupayakan rekonsiliasi nasional dengan cara damai. Ia khawatir jika Marcos meninggal—Ninoy mendengar kabar kondisi kesehatan Marcos memburuk akibat menderita penyakit lupus dan Filipina saat itu sedang dilanda kemunduran ekonomi serta sumbu konflik yang kian memendek—atau kehilangan pengaruh, perebutan kekuasaan akan mengarah pada kudeta militer atau perang saudara.

Istrinya sempat gusar akan keputusan ini. Ia bertanya, "Apa yang membikin kamu berpikir bahwa Marcos mau berbicara denganmu atau bahkan mendengarkan apa yang kamu bicarakan?"

Ninoy menjawab, "Aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika aku tak pernah mencobanya, meski cuma satu kali."

Maka, sebelum terlambat, Ninoy Aquino memutuskan untuk pulang.


Dari Boston Selesai di Manila

Marcial Bonaficio. Nama depan merujuk pada undang-undang darurat militer (martial law) dan nama belakang mengingatkan pada markas pusat tentara nasional Filipina bernama Fort Bonaficio sekaligus tempat Ninoy Aquino dipenjara pada 1972 hingga 1980.

Marcial Bonaficio adalah nama palsu yang digunakan Ninoy dalam paspornya untuk kembali pulang ke Filipina. Dalam urusan paspor ini, Ninoy mendapat pertolongan dari Rashid Lucman, mantan legislator Mindanao dan pendiri Front Pembebasan Bangsa Moro, kelompok gerilyawan Moro yang anti-Marcos.

Segala keribetan ini tentu bersumber dari rezim Marcos yang mendengar kabar soal rencana kepulangan Ninoy. Selain mengeluarkan larangan penerbitan paspor baru buat Ninoy, rezim Marcos juga menyerukan larangan mendarat kepada seluruh maskapai penerbangan internasional jika nekat mengangkut Ninoy ke Filipina. Dan rencana pun disusun untuk menghindari kemungkinan terburuk.

Corazon Cojuangco dalam memoar berjudul "The Last Time I Saw Ninoy" yang terbit di Inquirer (21/8/2003) menulis Ninoy akan berangkat sendiri dari Boston ke Manila dan ia bersama kelima anaknya akan menyusul dua minggu kemudian. Rute perjalanan pulang dan lokasi-lokasi untuk transit pun telah diatur. Dari Boston menuju Los Angeles, lanjut ke Singapura, kemudian Malaysia, lalu Hongkong, dan Taipei dipilih sebagai tempat terakhir sebelum menuju Manila. Taipei memang tak punya hubungan diplomatik dengan Filipina dan ini bikin Ninoy merasa aman. Selain itu Ninoy juga punya sejumlah kawan di sana yang siap membantu kepulangannya.

"Bila takdir saya mesti mati dibedil, ya biarlah. Ketakutan-ketakutan akan bernasib nahas tak akan bikin saya jadi batu di pojokan dan tak bergerak."

Ninoy menjawab tenang sejumlah pertanyaan, salah satunya soal kemungkinan rencana pembunuhan terhadap dirinya begitu ia tiba di Manila, yang dihamburkan beberapa jurnalis internasional di atas pesawat dalam perjalanan ke Manila. Sejumlah jurnalis memang ditugaskan untuk mengikuti Ninoy dari Taipei sampai ke Manila.

"Kamera Anda mesti selalu siap sedia karena kejadian akan berlangsung sangat cepat. Dalam dua atau tiga menit bisa selesai dan barangkali saya tak akan pernah bisa berbicara lagi dengan Anda," kata Ninoy kepada seorang kru televisi asal Jepang.





Alih-alih ditembak mati, skenario terburuk yang Ninoy pikirkan adalah ia akan langsung ditangkap dan dibawa ke Fort Bonaficio begitu ia tiba di Manila. Namun ia bukan tanpa persiapan diri. Sebelum mendarat, ia memakai rompi antipeluru di balik safarinya. Tapi tentu saja ia pasrah.

"Rompi ini akan melindungi tubuh saya. Tapi kalau mereka menembak kepala saya, tentu saya tetap tamat," ucapnya kepada Ken Kashiwahara.

Dan memang Ninoy akhirnya ditembak di kepala.

Menurut laporan Ken Kashiwahara, begitu pesawat selesai mendarat, terlihat sejumlah tentara berseragam warna khaki berdiri di dekat tangga pesawat. Sebuah pengumuman terdengar dari interkom kabin yang mengabarkan bahwa semua penumpang agar tetap di kursi masing-masing. Tiga tentara akhirnya masuk dan berjalan di lorong kabin dan salah satu dari mereka mengenali Ninoy. Ninoy tersenyum dan mengajaknya bersalaman. Mereka berdua saling berbicara sebentar dengan bahasa Tagalog sebelum Ninoy dikawal untuk keluar dari pesawat.

Lalu terdengar letusan pertama. Ninoy yang baru beberapa langkah menuruni tangga pesawat terlihat ambruk ke aspal. Suasana kabin pesawat menjadi luar biasa gempar karena beberapa jurnalis berusaha keluar dari sana dan melihat apa yang terjadi. Kemudian tiga letusan menyusul. Dan pada akhirnya suara senjata otomatis menyalak, memungkasi tragedi hari itu.

Tubuh Ninoy menelungkup dengan darah segar keluar dari kepalanya. Di sebelahnya, seorang pria juga telah terkapar tak bernyawa. Pria itu adalah Rolando Galman, seorang komunis yang beberapa jam kemudian diklaim rezim Marcos sebagai penembak yang menghabisi Ninoy Aquino. Tentu saja Galman tak sanggup membela diri sebab langsung dibikin gim oleh pasukan keamanan bandara sesaat setelah ia menembak Ninoy.

Hingga kini, dalang pembunuhan Ninoy Aquino tak pernah terungkap. Namun, sejarah mencatat, tiga tahun setelah pembunuhan Ninoy Aquino yang terjadi 37 tahun lalu itu, lahir sebuah badai mahadahsyat yang sanggup menggulung rezim Marcos hingga diktator itu terlempar sampai ke Hawaii dan mati sebagai pesakitan pada 1989.

Baca juga artikel terkait PEMBUNUHAN POLITIK atau tulisan menarik lainnya Irfan Satryo Wicaksono
(tirto.id - Politik)

Penulis: Irfan Satryo Wicaksono
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight