25 Februari 1986

Tumbangnya Ferdinand Marcos, Soeharto dari Filipina

Ilustrasi Ferdinand Marcos. tirto.id/Gery
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 25 Februari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Pengepul harta.
Kaca benggala dari
tanah tetangga.
Kediktatoran. Korupsi. Pelanggaran HAM. Tiga faktor itulah yang mengakhiri 21 tahun kekuasaan Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos Sr. Status sebagai orang nomor satu di Filipina ia rengkuh sejak 30 Desember 1965. Pada 25 Februari 1986, tepat hari ini 32 tahun yang lalu, ia dipaksa melepaskannya lantaran dihantam gelombang demonstrasi rakyat yang menamakan diri Revolusi EDSA.

Marcos terpilih sebagai presiden pada usianya yang ke-48. Selama kampanye ia menjual cerita keterlibatannya dalam perang melawan invasi Jepang di Filipina pada Perang Dunia II. Ada banyak bagian yang didramatisasi dan manjur untuk menjaring suara. Belakangan diketahui, berdasarkan dokumen Angkatan Darat Amerika Serikat, klaim Marcos sebenarnya palsu, tidak masuk akal, dan hanya sebuah penipuan.

Saat maju di periode kedua, ia mengklaim masa pemerintahan pertama dipenuhi dengan pembangunan jalan dan sekolah, jauh melampaui rezim-rezim sebelumnya. Meski dituduh terlibat kasus pembelian suara dan mencurangi pemilihan umum, Marcos tetap menang pada 1969.

Korupi, kolusi, dan nepotisme kemudian makin meluas. Oposisi kiri berbondong-bondong mengecam platform ekonomi liberal yang dibawa Marcos sebab menghasilkan kesenjangan ekonomi yang ekstrem. Hal ini menimbulkan naiknya angka kriminalitas dan penangkapan warga sipil di seantero Filipina. Pemberontak Maois dan Moro juga lahir dan makin mengacaukan stabilitas negara.


Bermula dari Terbunuhnya Pemimpin Oposisi

Ketika pemilihan presiden (pilpres) tiba pada 1973, Marcos sebenarnya tidak berhak mengikutinya karena sudah berkuasa selama dua periode. Namun setahun sebelumnya ia mendeklarasikan darurat militer dengan dalih meningkatnya pembangkangan sipil. Kekuasaan Marcos pun berlanjut untuk 14 tahun ke depan dengan represi yang makin keras kepada berbagai elemen oposisi.

Ia memegang penuh kontrol militer. Hak mengungkapkan pendapat dan kebebasan pers dikekang. Kongres Filipina dibubarkan. Media yang masih bandel mengkritik akhirnya ditutup izin beroperasinya.

Lawan-lawan politik Marcos dijebloskan ke penjara. Beberapa ada yang dituduh komunis. Salah satunya adalah Benigno Aquino Jr., yang menjadi oposisi terkeras Marcos sejak 1973. Aquino menegaskan bahwa dirinya bukan seorang komunis, namun pembelaannya sia-sia belaka. Untuk mengobati penyakit jantungnya, ia mengasingkan diri sementara ke Amerika Serikat pada 1980 atas izin Marcos.

Kepulangan ke Filipina adalah tindakan yang berbahaya, demikian peringatan banyak orang kepada Aquino. Sebagaimana dicatat Monina Allarey Mercado dalam An Eyewitness History People Power: The Philippine Revolution of 1986 (1987), semangat melawan kediktatoran Marcos membuat Aquino mengabaikannya.

Pada 21 Agustus 1983, saat sedang turun dari pesawat komersial Taiwan di Bandara Internasional Manila, Aquino ditembak kepalanya, dan mati seketika.


Tragedi itu mengubah peta oposisi terhadap Marcos. Dari gerakan kecil dan terisolir menjadi gerakan nasional yang berpusat di ibu kota Manila. Nama istri Aquino, Corazon Aquino, makin populer. Di kalangan oposisi, Corazon digadang-gadang untuk menjadi presiden baru usai Marcos tumbang. Beberapa tokoh kunci di tubuh oposisi yang sebelumnya terlibat persaingan internal akhirnya legowo dan turut mendukung Corazon.

Rakyat Filipina juga tak puas akibat resesi yang melanda Filipina, terutama pada akhir 1983, dengan kontraksi sebesar 6,8 persen. Hutang negara menumpuk banyak, sebagian dikorupsi Marcos dan kroninya, membuat fondasi ekonomi kian rapuh.

Dipicu Kecurangan Pemilu

Marcos yang panik menyerukan pilpres satu tahun lebih cepat ketimbang jadwal. Pilpres 1986 menjadi puncak kemarahan rakyat Filipina sebab merasa dicurangi rezim Marcos. Merujuk Peter Ackerman dan Jack DuVall dalam A Force More Powerful: A Century of Non-Violent Conflict (2000), komisi pemilihan umum menyatakan Marcos menang dengan selisih satu juta suara dengan Corazon. Namun komisi pengawas pilpres independen menyatakan Corazon menang 800 ribu suara.

Menurut Mercado, peristiwa penting yang menyulut kobaran api demonstrasi anti-Marcos adalah mundurnya 35 teknisi komputer dari komisi pemilihan umum. Sebelumnya, mereka diminta untuk mencurangi hasil pilpres agar menguntungkan Marcos.


Jika selama ini kebencian kepada Marcos banyak didasarkan pada desas-desus, peristiwa itu memberikan legitimasi untuk meningkatkan intensitas perjuangan revolusi: bahwa Marcos memang korup, bahwa Marcos harus tumbang.

Perselisihan kedua kubu makin terlembagakan dengan klaim kemenangan pilpres secara sepihak dan pendirian kantor pusat pemerintahan baik oleh Marcos maupun Corazon. Marcos mengkonsolidasikan kekuatan militernya dengan lebih solid. Sementara Corazon mengorganisasi protes yang lebih luas serta gerakan boikot terhadap bisnis-bisnis Marcos dan para kroninya.

Sebagian besar demonstran berkumpul di sepanjang jalan Epifanio de los Santos Avenue (EDSA), yang kemudian diabadikan sebagai nama revolusi mereka. Meski jaringan komunikasi radio diputus pemerintah, orang-orang tetap menyemut menuju EDSA. Dari jumlah demonstran yang hanya ribuan, kemudian berlipat menjadi ratusan ribu. Mereka berasal dari banyak latar belakang. Bahkan ada yang mengajak anggota-anggota keluarga dari berbagai usia.

Suasana di EDSA sesungguhnya ceria, tak seperti gerakan revolusi lain yang cenderung menegangkan. Orang-orang berdansa, dihibur penampilan musisi yang sekaligus menyaru sebagai aktivis. Pendeta dan suster memimpin doa bersama. Ada juga yang membikin barikade dengan karung pasir, pohon tumbang, kendaraan, dan lain-lainnya.

Radio Veritas, stasiun radio non-komersial milik kelompok Katolik, rutin menyiarkan kabar terkini sekaligus pidato para tokoh oposisi yang menjadi pembakar semangat revolusi. Simbol "L", yang menyimbolkan kata "laban" (“berjuang” dalam Bahasa Tagalog), dibentuk oleh telunjuk dan ibu jari para demonstran sebagai salam. Laban juga berarti singkatan dari Lakas ng Bayan, partai yang dibentuk Benigno Aquino.


Ditumbangkan oleh Kekuatan Rakyat

Marcos menanggapi Revolusi EDSA dengan represi militer. Namun ia juga memerintahkan agar jangan ada peluru yang dimuntahkan ke arah peserta aksi. Marcos barangkali tidak mengetahui bahwa banyak faksi militer yang berpaling memihak para demonstran EDSA.

Pada 24 Februari 1986, sebuah skuadron helikopter yang dipimpin Kolonel Antonio Sotelo dari Angkatan Udara Filipina diperintahkan menyerang para demonstran. Namun sebenarnya Antonio telah membelot, dan saat tiba di lokasi ia justru disambut gembira. Beberapa tokoh militer lain kemudian turut bergabung dan membuat posisi Marcos kian goyah.

Tokoh militer lain, Kolonel Mariani Santiago, membuat keberhasilan penting bagi oposisi, yakni merebut televisi milik pemerintah Channel 4. Di saat pembawa acara mengumumkan secara langsung bahwa “Channel 4 mengudara kembali untuk melayani rakyat,” jumlah demonstran EDSA sudah mencapai dua juta orang.



Pagi hari, 25 Februari 1986, kericuhan merebak lantaran tentara mulai berani menembaki demonstran. Dalam catatan Isabelo T. Crisostomo di buku Cory: Profile of A President, The Historic Rise to Power of Corazon Cojuangco Aquino (1987), tak lama sesudahnya, Corazon dilantik sebagai Presiden Filipina melalui sebuah upacara sederhana di Club Filipino, satu kilometer dari jalan EDSA.

Wakilnya adalah pemimpin United Opposition (UNIDO), Salvador Laurel. Injil yang digunakan saat sumpah jabatan dipegang ibunda Benigno Aquino, Aurora Aquino. Di luar gedung, demonstran EDSA bersorak gembira dengan mengenakan baju dan aksesoris berwarna kuning, warna kampanye Corazon saat berkampanye menjelang pilpres.


Satu jam berselang, Marcos yang tak mau kalah turut menyelenggarakan upacara inaugurasi di Istana Malacanang. Para loyalisnya bernyanyi “Marcos, Marcos, masih Marcos!” Penayangan acara ini diganggu tentara pemberontak yang berhasil menguasai stasiun penyiaran.

Saat itu, ratusan demonstran sudah berada di sekitar istana dan dicegah pasukan pengamanan agar tak menyerbu ke bagian dalam. Sejumlah pendeta di barisan oposisi turut membantu menenangkan amarah massa.

Di malam harinya, Marcos menyerah. Ia dan keluarganya kemudian terbang ke Hawaii. Keputusan ini disambut dengan kegembiraan yang meluap-luap oleh massa EDSA. Orang-orang kembali berdansa di jalanan. Lainnya menyerbu bagian dalam Istana Malacanang—yang sebelumnya menjadi tempat terlarang bagi warga biasa. Kemenangan Revolusi EDSA mendapat selamat dari komunitas internasional, lebih menyenangkan lagi sebab tidak berakhir dengan perang sipil.

Marcos mengembuskan napas terakhir di Honolulu empat tahun kemudian pada 28 September 1989. Di Filipina, Corazon sedang giat-giatnya membangun demokrasi yang dirusak rezim Marcos.

Revolusi EDSA menginspirasi gerakan rakyat sipil lain, baik di dalam maupun luar negeri, sebab mampu berlangsung tanpa pertumpahan darah. Dengan semangat yang sama pula, pada 2001, massa yang berkumpul di EDSA mampu menumbangkan presiden korup Filipina, Joseph Estrada.

Tanggal kejatuhan Marcos selalu dirayakan dengan meriah oleh rakyat Filipina. Mengabadikan EDSA dalam ingatan dirasa perlu, tentu saja untuk mencegah diktator-diktator lain naik panggung.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight