tirto.id - Bayangan bergerak di malam hari. Tanpa suara, tanpa jejak. Dalam hitungan detik, mangsanya sudah terkapar. Ia menghilang seperti angin, seakan tak pernah ada. Begitulah ninja sering digambarkan—pembunuh rahasia, mata-mata tak terlihat, prajurit bayangan yang beraksi dalam senyap.
Baju hitam, wajah tertutup kain, bergerak lincah di atas genting, melemparkan shuriken sebelum melompat ke kegelapan. Gambaran ini telah menjadi ikon yang melekat dalam budaya populer, dari film aksi Hollywood hingga anime Jepang. Namun, apakah ini akurat secara sejarah? Ataukah semua ini hanya mitos yang berkembang selama berabad-abad?
Untuk menemukan jawabannya, kita harus kembali ke zaman feodal Jepang; masa ketika ninja benar-benar ada, bukan sebagai karakter fiksi, tetapi sebagai bagian dari strategi perang dan politik yang rumit.
Lahirnya Sebuah Mitos
Gagasan mengenai ninja berpakaian serbahitam tidaklah setua yang mungkin Anda bayangkan. Muasalnya bisa dilacak ke zaman Edo yang berlangsung dari abad ke-17 hingga 19. Namun, gagasan ini tidaklah berasal dari lorong-lorong rahasia spionase, melainkan dari gemerlapnya panggung teater kabuki.
Pada pertunjukan kabuki, para kru panggung yang dikenal sebagai kuroko senantiasa mengenakan pakaian serbahitam saat memindahkan properti atau memberi bantuan kepada aktor yang sedang naik pentas. Tujuannya? Agar keberadaan mereka tidak terlihat oleh pemirsa.
Dalam perkembangannya, para penulis naskah memanfaatkan apa yang dilakukan para kuroko tersebut. Lambat laun mereka memperkenalkan karakter pembunuh yang sekonyong-konyong muncul dari kegelapan sekaligus memberikan ilusi akan keberadaan sesosok pembunuh tak kasatmata yang bisa menyerang dari ruang hampa.
Seiring waktu, pertunjukan kabuki turut berpadu dengan berbagai cerita rakyat yang sudah lama dikenal, terutama mengenai keberadaan para satria sakti dan makhluk yang bisa berubah bentuk. Mitos tentang tengu, goblin berhidung panjang yang diyakini punya kelincahan dan keterampilan mengelabui, semakin memperkuat ide bahwa ninja adalah sosok yang nyaris mistikal. Ditambah lagi, munculnya kisah-kisah mengenai klan ninja Koga dan Iga yang mengklaim bahwa para satrianya punya kesaktian tersendiri semakin memperkuat aura mistis yang menyelimuti sesosok ninja.
Memasuki abad ke-20, depiksi semacam itu pun, alih-alih berhenti, justru malah semakin menjadi. Film keluaran 1962, Shinobi no Mono, misalnya, menggambarkan ninja sebagai prajurit bayangan yang mematikan. Rupanya, penggambaran ini mendapat tanggapan baik dari audiens hingga akhirnya film-film Hollywood turut menyebarkan citra sesat ini ke pemirsa yang jauh lebih luas. Salah satu film Hollywood pertama yang mengangkat topik ini adalah Enter the Ninja (1981).
Seiring dengan makin tersebarnya penggambaran tersebut, ninja pun mengalami evolusi. Dari yang awalnya merupakan figur sejarah, berubah menjadi arketipe sinema yang diabadikan dalam film bela diri, buku komik, serta video game. Transformasi ini pun menyulap mereka menjadi sosok yang punya kemampuan melebihi manusia. Mereka menjadi pembunuh yang bisa lenyap dalam sekejap, menentang gravitasi, dan menyerang secepat kilat.
Akan tetapi, perlu dicamkan bahwa ini semua hanyalah produk budaya. Sementara, sejarah memiliki depiksinya sendiri tentang ninja yang lebih akurat dan masuk akal.

Ilustrasi Ninja. foto/istockphoto Tanpa Seragam, Hanya Penyamaran
Ninja dan samurai senantiasa digambarkan sebagai entitas yang bertolak belakang. Jika samurai digambarkan sebagai prajurit pemberani yang selalu mengedepankan kehormatan, ninja adalah antitesisnya; pengecut yang bersembunyi dalam bayangan dan hanya berani menyerang saat musuh lengah.
Akan tetapi, kenyataannya tidaklah demikian. Atau setidaknya, tidak sesederhana itu. Baik ninja maupun samurai sama-sama berada di bawah seorang daimyo dan sama-sama memiliki fungsi militer. Bedanya, samurai biasanya terjun di medan tempur dan berasal dari kelas sosial tinggi, sementara ninja memiliki tugas untuk menyusup dan bisa saja berasal dari kelas sosial mana pun, termasuk dari kalangan samurai sendiri.
Ninja, pada hakikatnya, mata-mata yang mengharuskannya untuk beroperasi dalam kerahasiaan. Inilah yang membuat mereka mesti mengenakan penyamaran. Mereka tidak mengenakan baju zirah samurai yang kaya akan warna itu, melainkan pakaian yang bisa membuat mereka dengan leluasa bergerak di area target.
Para ninja menyamar sebagai petani, biarawan, pedagang, atau bahkan samurai dari klan rival. Senjata mereka yang paling mematikan bukanlah tanto, katana, atau naginata, melainkan kemampuan untuk membuat diri mereka tampak normal di tempat yang sama sekali asing.
Masyarakat feodal Jepang adalah sebuah kelompok masyarakat dengan pembagian kelas yang tegas. Artinya, pakaian seseorang sangatlah menggambarkan profesi serta status sosial mereka. Itulah mengapa, ninja memilih untuk mengenakan pakaian-pakaian seperti ini. Jika perlu berjalan-jalan di kota tanpa dihiraukan orang, mereka bisa mengenakan kostum biarawan. Jika perlu menyusup ke kastil atau tangsi militer lawan, mereka bisa menyamar jadi pedagang yang hendak mengantar barang.
Tak jarang pula, para ninja ini menggunakan berbagai alat penyamaran tambahan untuk memperkuat identitas palsu mereka, seperti dokumen palsu, kemampuan bahasa daerah, dan bahkan aksen berbeda saat berbicara. Mereka juga mempelajari adat istiadat lokal agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Bagaimana dengan Operasi di Malam Hari?
Jika warna hitam dirasa terlalu mencolok untuk operasi di siang hari, bagaimana dengan malam hari? Inikah momen di mana ninja akhirnya mengenakan setelan serbahitam? Sayangnya tidak.
Alasannya, dalam kondisi cahaya remang-remang, pakaian serbahitam juga akan tampak menonjol, membentuk siluet yang tidak natural terhadap lingkungan sekitar. Meski demikian, warna pakaian yang dipilih para ninja ini tetaplah warna gelap seperti biru tua, coklat, atau abu-abu. Warna-warna tersebut dipilih karena dianggap mampu menyaru lebih baik dengan lingkungan sekitar yang diterangi cahaya bulan.
Informasi mengenai pakaian ninja ini termaktub dalam sejumlah teks sejarah, salah satunya kitab Bansenshūkai yang merupakan sebuah manual mengenai ilmu ninjutsu. Dalam kitab ini tertera pula informasi mengenai taktik serta pentingnya bergerak tanpa terdeteksi. Di dalam kitab tersebut juga diceritakan mengenai ninja yang mengenakan tudung kepala serta penutup wajah. Akan tetapi, diperkirakan, ini merupakan modifikasi insidental atas situasi tertentu, alih-alih praktik umum.
Peran Ninja dalam Pertempuran
Sebagai mata-mata, ninja punya peran bervariasi, mulai dari aksi spionase, pengintaian, sabotase, infiltrasi, pengumpulan informasi, penyebaran disinformasi, sampai melakukan aksi pembunuhan bila perlu.
Para daimyo, alias tuan tanah yang mempekerjakan mereka, tidak membutuhkan ninja untuk keahlian bela diri mereka melainkan kemampuan untuk merusak rencana lawan dari dalam. Api yang dibakar di tempat yang tepat, pesan yang berhasil dicegat, atau rumor rekaan yang tersebar di area yang benar membuat arus pertempuran bisa berubah drastis dalam sekejap.
Salah satu sosok ninja paling masyhur dalam sejarah adalah Hattori Hanzo yang merupakan salah satu samurai andalan Tokugawa Ieyasu pada akhir abad ke-16. Hanzo, yang berasal dari klan Iga, memiliki keahlian khusus dalam pengumpulan informasi serta taktik perang gerilya. Kemampuan ini menjadi alasan mengapa keshogunan Tokugawa dapat bertahan begitu lama dan warisannya pun diteruskan selama berabad-abad.
Lantas, pakaian apakah yang dikenakan Hanzo saat bertugas? Sebenarnya tidak ada informasi pasti mengenai hal ini. Namun, mengacu pada kitab Bansenshūkai tadi, rasa-rasanya Hanzo dan pasukannya pun melakukan hal yang sama dengan ninja-ninja lainnya. Yakni, mengenakan pakaian sesuai kebutuhan, bukan sekadar berpakaian serbahitam seperti ninja di film-film.
Mengapa Citra Ninja Hitam-hitam Sulit Lenyap
Jika bukti sejarah yang membantah anggapan bahwa ninja senantiasa berpakaian hitam-hitam bisa dibilang sudah banyak, mengapa imej ninja yang seperti itu sulit sekali hilang? Jawabannya sederhana: Karena cerita yang menarik lebih mudah dipercaya daripada kenyataan yang membosankan.
Dalam film, ninja berbaju hitam langsung dapat dikenali sebagai sosok misterius dan berbahaya. Citra ini lebih menarik daripada kenyataan bahwa ninja sering kali hanya terlihat seperti orang biasa yang sedang menjalankan tugasnya.
Namun, ada satu media modern yang lebih akurat dalam menggambarkan bagaimana ninja bekerja, yaitu video gim Ghost of Tsushima (2020). Dalam gim ini, Jin Sakai, seorang samurai yang terpaksa meninggalkan kode kehormatannya, harus mengandalkan taktik bayangan, tipu daya, dan serangan mendadak untuk mengusir penjajah Mongol yang jauh lebih kuat. Cara Jin beroperasi ketika dirinya sudah bertransformasi menjadi “Hantu dari Tsushima” itu mendekati cara kerja ninja yang sebenarnya.
Namun, meskipun ada upaya untuk meluruskan sejarah, citra ninja berbaju hitam tetap bertahan. Mungkin karena lebih mudah dijual, atau mungkin karena kita, sebagai penonton, tidak ingin kehilangan sosok ninja misterius yang sudah lama kita kenal. Atau mungkin juga, sebagai ahli manipulasi persepsi, popularitas ninja berpakaian serbahitam ini adalah hasil yang diinginkan para ninja yang sebenarnya, supaya mereka tetap leluasa menjalankan tugas tanpa diendus kecurigaan.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi