Politik Sekspionase

Merekam Desahan Ferdinand Marcos dan Dovie Beams

Oleh: Petrik Matanasi - 3 Februari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Meski desahan Ferdinand Marcos dalam pelukan Dovie Beams terekam dan tersiar ke publik Filipina pada 1971, Marcos tetap berkuasa hingga 1986. Rekaman bersanggama bisa jadi alat untuk menjatuhkan seseorang dari kekuasaan.
tirto.id - Ferdinand Marcos, presiden Filipina yang berkuasa selama 20 tahun, tahu benar soal ungkapan: “Kebohongan, bila terus-menerus diucapkan, akan terdengar sebagai kebenaran.”

Ia mengklaim sebagai pahlawan pada masa perang melawan pendudukan Jepang di negaranya pada 1942-1944. Untuk lebih meyakinkan, dibuatlah detail cerita: ia memimpin sebuah pasukan gerilyawan bernama Ang Mga Maharlika.

Sang presiden korup dan tukang ngibul ini, yang bikin rakyat Filipina sengsara selama 20 tahun ini, mengundang kru film dari Hollywood buat bikin kisah rekayasa tersebut. Judul filmnya sudah dirancang: Maharlika, artinya Si Pria Jatmika.

Ada Paul Burke yang akan memerankan Marcos muda. Juga Dovie Beams yang kebagian peran sebagai Isabella, perempuan yang menaruh hati pada Marcos muda yang sedang berjuang melawan serdadu-serdadu Jepang.

Namun, perkaranya justru di situ. Ketika Dovie, bintang film Amerika kelas-B, tiba di Quezon, Manila, pada 1968, Marcos kepincut. Selama dua tahun, mereka menjalani musim panas pasangan yang kasmaran.

Marcos bukan orang bego. Istrinya, Imelda Romueldez—yang sohor sebagai Imelda Marcos—dikenal sebagai putri rupawan, punya panggilan “Si Kupu-kupu Besi”, dengan koleksi ribuan pasang sepatu.

Tetapi kekuasaan memang memabukkan. Marcos dikenal pria hidung belang dan matanya suka main keranjang. Sebelum kehadiran Dovie, ada sejumlah perempuan di dunia seksual si patriark Marcos. Main gila si presiden bahkan melahirkan buah terlarang, dan ia memberi nama anak-anak yang tak diakuinya dengan nama ibundanya.

Dovie Beams, yang terlahir sebagai Dovie Leona Osborne pada 5 Agustus 1932, segera mengundang pikiran mesum Marcos sesudah dikenalkan produser film Potenciano Ilusorio. Alih-alih buat syuting film, ia memeloroti Marcos sampai betah tinggal di Filipina selama berbulan-bulan.

“Berapa lama kau menyentuhku?” tanya Dovie kepada Marcos.

Marcos, yang dibelenggu birahi, menjawab singkat, “Dua tahun lebih.”

Dovie yang penuh harap berkata, “Lebih dari yang kita bayangkan, sudah dua tahun sekarang. Aku rasa akan selalu denganmu. Biarlah seperti ini.”

Adegan di atas ranjang itu hanya ada Dovie dan presiden. Tentu saja ada kalimat “f*ck me!” terucap dari kedua belah pihak. Juga Marcos yang mendesah. Terdengar juga suara Dovie yang cekikikan.

Marcos tak sadar, di kolong kasur, sebuah alat perekam menyala. Mereka bertempur dan Dovie tahu sesuatu yang berharga ada di bawah ranjang.

Transkrip rekaman ini terdapat di sebuah bab dalam buku Marcos' Lovey Dovie (1983) yang ditulis wartawan Hermie Rotea yang penuh dengan humor.

Rekaman itu akhirnya sampai pula ke tangan mahasiswa kritis di Filipina pada 1971. Ketika itu rezim Marcos belum memperlakukan Undang-Undang Darurat Perang yang kejam dan membatasi ruang gerak orang Filipina. Menurut catatan sejarawan Sterling Seagrave dalam The Marcos Dinasty (1988), para mahasiswa yang demonstrasi di Universitas Filipina mengambil alih siaran radio kampus dan rekaman itu diperdengarkan ke publik lewat radio.

Segera seluruh negeri mendengarkan Presiden mereka berdesah dan tak lupa meminta Dovie mengulum barang ajaib milik sang Presiden. Selama seminggu rekaman itu diperdengarkan di kampus dan ibukota Manila.

Bahkan, ketika beberapa tentara diperintahkan untuk menyita rekaman tersebut, desahan Marcos dan cekikikan Dovie mengetuk selera humor tentara-tentara yang hendak menyitanya. Mereka tertawa sebelum merampasnya.

INFOGRAFIK HL Politik & Seks


Imelda mengamuk. Nyawa Dovie terancam. Kaset asli rekaman yang dipegang Dovie dihargai 100 ribu dolar oleh Imelda. Belakangan, Dovie berhasil keluar dengan selamat dari Filipina dan melanjutkan kariernya di dunia hiburan kelas-B.

Tak ada UU Anti-Perzinahan, atau anti-pornografi, yang menjerat Marcos ketika itu. Marcos adalah hukum itu sendiri. Ia tetap tetap berkuasa, meski wibawanya jatuh. UU Darurat Perang diberlakukan hingga 1981 untuk menjaga kekuasaannya, yang berlangsung sampai 1986. Kekejaman Marcos selalu diingat oleh mereka yang waras di Filipina.

Soal klaim bahwa dirinya pahlawan, The New York Times pada 1986 menulis, berdasarkan arsip pemerintah AS yang tak pernah disentuh selama 35 tahun, bahwa klaim itu cuma “tipu-tipu” dan “absurd.” Tidak ada bukti kokoh kalau Marcos memimpin pasukan bernama Ang Mga Maharlika di masa perang dunia kedua.

Memanglah Marcos membuat propaganda yang mengagungkan kepahlawanannya, sebagaimana sejawatnya Presiden Soeharto di Indonesia. Stasiun penyiaran pemerintah, sampai jalan raya di pulau Luzon dan aula Istana Presiden, dinamai Maharlika.

Marcos terjungkal oleh kekuatan rakyat. Ia bersama Imelda melarikan diri ke Hawaii. Tiga tahun kemudian ia meninggal di pengasingan dalam usia 72 tahun. Dari 1990-1998 keluarga Marcos menghadapi sejumlah kasus korupsi, yang merugikan negara hingga jutaan dolar AS.

Dari lokasi rumahnya di AS, Dovie membuat pengakuan kepada seorang wartawan di tahun pemerintahan Marcos berakhir: “Aku tetap sayang dia, meski tidak suka dengan pandangan politiknya. Bagiku dia pria yang luar biasa cerdas, jenaka, dan mempesona.”

Imelda sendiri kembali ke negaranya pada 1991, dan berusaha mengembalikan kejayaan lewat kursi presiden tetapi gagal, lantas dilarang untuk mencalonkan diri dalam pemilihan kepala negara. Namun, seperti Indonesia yang gagal membersihkan rezim lama Soeharto, Imelda berhasil duduk sebagai anggota DPR pada 2010.

Hingga tahun lalu, Marcos tetap jadi pembahasan politik ketika presiden baru Filipina, Rodrigo Duterte, berencana menjadikannya sebagai pahlawan nasional. Pemerintahan Duterte hendak menyuci citra dirinya sendiri yang haus darah dalam “perang melawan narkoba”, yang telah menewaskan 6.000 orang selama enam bulan pertama memimpin negeri itu sejak Juni 2016.

Minus kisah skandal seks yang mengiringi dekade terakhir kekuasaan Marcos, kisah pemimpin di negara yang hanya ditempuh 4 jam 30 menit lewat pesawat dari Jakarta ini tak ubahnya seperti kita melihat cermin Indonesia di bawah dan sesudah Soeharto.

Baca juga artikel terkait SKANDAL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight