Kepahlawanan dan Kediktatoran Ferdinand Marcos dan Soeharto

Oleh: Tony Firman - 11 November 2016
Dibaca Normal 3 menit
Ferdinand Marcos dilengserkan karena menjalankan kekuasaan secara diktator dan penuh dengan korupsi. Tapi Presiden Duterte menghendaki makam Marcos dipindahkan ke taman makam pahlawan. Mirip dengan Soeharto di Indonesia.
tirto.id - Jutaan rakyat Filipina turun ke jalan. Massa yang tumpah ruah di jalan-jalan utama di Manila bergerak untuk satu tujuan: melengserkan Ferdinand Marcos dari jabatan Presiden yang telah dikuasainya selama 20 tahun terakhir. Gerakan yang kemudian dinamai People Power Revolution itu akhirnya berhasil menumbangkan rezim Marcos pada 1986.

Sebelum menjadi presiden, Marcos menjabat sebagai anggota DPR Filipina dari 1949 sampai 1959. Ia lalu duduk di senat Filipina dari 1959 sampai 1965 sekaligus menjadi Senat Presiden dari 1963 sampai 1965.

Bersama Amerika, ia memang terlibat dalam perlawanan selama invasi Jepang di Filipina pada Perang Dunia II. Itulah yang membuatnya merasa sebagai pahlawan perang yang pantas mendapat kehormatan di Filipina. Label ini yang kemudian diolah untuk menaiki pucuk kekuasaan. Belakangan diketahui, berdasarkan dokumen Angkatan Darat Amerika, klaim Marcos sebenarnya palsu, tidak masuk akal, dan hanya sebuah penipuan.

Selama 20 tahun berkuasa, ia bahkan sempat rangkap jabatan dengan menduduki kursi perdana menteri. Marcos memang bukan hanya menjadi diktator. Sebagaimana kekuasaan absolut lainnya, Marcos juga getol memupuk kekayaan. Isu korupsi dan memperkaya diri sendiri inilah yang menjadi salah satu isu pokok yang menyebabkan kejengkelan rakyat.

Setelah tumbang, berbagai kekeliruan dan kejahatan Marcos mulai dikumpulkan. Atas segala tindak tanduk dan kerugian yang ditinggalkannya, banyak rakyat Filipina yang tidak sudi menganggapnya sebagai pahlawan. Setelah kematiannya, jenazahnya tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, melainkan diawetkan di kampung halamannya, Batac.

Cukup lama persoalan makam dan gelar pahlawan ini tak dibicarakan. Sampai kemudian Rodrigo Duterte, presiden yang sekarang, memberi lampu hijau untuk memindahkan makam Ferdinand Marcos ke Taman Makam Pahlawan di Manila.

Dilansir BBC, 1.500 warga Filipina berdemonstrasi di depan Taman Makam Pahlawan di ibukota Manila menolak pemindahan makam Marcos. Pengunjuk rasa meminta Duterte mempertimbangkan kembali keputusannya. Salah seorang senator yang ikut dalam aksi protes, Risa Hontiveros, mengusulkan resolusi senat untuk menentang pemakaman Marcos sebagai pahlawan. Ia menyebut Marcos sebagai “musuh pahlawan-pahlawan kita yang tidak menyesal”.

Presiden Duterte sendiri mempertahankan keputusannya memindahkan makam Ferdinand Marcos ke Taman Makam Pahlawan Nasional. Duterte menepis persoalan korupsi dan kediktatoran Marcos. Bagi Duterte, keputusannya itu dilandasi alasan sederhana yang tidak ada sangkut pautnya dengan politik: karena Marcos adalah (pernah menjadi) tentara Filipina.

Gurita Korupsi Marcos

Marcos meninggalkan utang luar negeri yang fantastis. Di awal kekuasaannya, menurut laporan Philippine Center for Investigative Journalism, utang negara kurang dari 1 miliar dollar. Dan ketika meninggalkan kekuasaan pada 1986, utang negara membengkak menjadi 28 miliar dollar.

Dalam catatan New York Times, pada 1986 ada keputusan dari Marcos yang kurang diketahui banyak orang. Ia pernah memerintahkan sebuah pulau terpencil di Laut Cina Selatan untuk dijadikan tempat pelestarian aneka satwa dari Afrika.

Sebagai konsekuensi kebijakan ini, lebih dari 120 keluarga petani miskin dan para nelayan terpaksa meninggalkan rumahnya. Kawanan jerapah dan zebra, impala, dan antelop diimpor dari Kenya dengan biaya pemerintah. Di sana, satwa-satwa ini hidup berkeliaran di padang rumput dan perbukitan dengan bebas sebelum akhirnya para pejabat istana datang untuk berburu. Menurut seorang pejabat dari Departemen Pertanian dan Makanan, pemburu paling terkemuka tidak lain adalah Bongbong Marcos, anak Ferdinand Marcos.

“Mereka mengubahnya menjadi tempat berburu swasta yang sekarang kami tahu menghabiskan biaya sebesar 30 ribu dollar per bulan. Ini luar biasa untuk negara yang anak-anaknya masih banyak mati kelaparan,” kata seorang pejabat, Carlos Dominguez.

Laporan yang sama menyebutkan 30 bangunan di Filipina yang dibangun dan dipelihara dengan biaya negara hanya untuk Marcos dan istrinya, Imelda. Bangunan-bangunan tersebut di antaranya resort hotel dan museum di puncak-puncak gunung beserta rumah mewah. Kebanyakan berada di kepulauan wilayah utara dan di daerah selatan tempat asal istrinya.

Petugas bea cukai mencatat ada 400 mobil milik keluarga Marcos dan rekan-rekannya yang diimpor tanpa membayar bea pajak. Mobil-mobil tersebut kebanyak bermerk mahal, dari Rolls-Royce dan Cadillac untuk istrinya, hingga puluhan Mercedes untuk saudara-saudaranya.

Infografik Antara Marcos dan Soeharto


Saat ketidakpuasan publik mulai menguat, Marcos menerapkan Darurat Militer selama sembilan tahun, dimulai pada 23 September 1972. Dari sanalah ia mengubah konstitusi demi memastikan dirinya terus terpilih sebagai presiden, membungkam media, menuduh komunis, dan menggunakan kekerasan dan penindasan terhadap lawan politiknya.

Selama kurun waktu penerapan darurat militer itu pula, tokoh oposisi yang paling terkenal, Benigno Aquino Jr dibunuh. Pada 1983, Beniqno Aquino Jr atau akrab disapa Ninoy Aquino, tewas ditembak di bandara setelah kembali ke tanah air dari pengasingan selama 3 tahun di Amerika Serikat.

Tahun-tahun berikutnya, gelombang protes dari rakyat semakin membesar. Kendati demikian, Marcos masih menguasai institusi-institusi pemerintah. Dengan itulah ia berhasil menang Pemilu 1986, meski menjadi akhir kekuasaannya. Gelombang perlawanan terus menguat dan ia pun melarikan diri ke Honolulu, Hawai. Di sana ia meninggal dunia pada 28 September 1989 karena gangguan ginjal, jantung, dan paru-paru.

Antara Marcos dan Soeharto

Sosok Ferdinand Marcos mengingatkan pada pemimpin Orde Baru, Soeharto. Naik ke tampuk tertinggi lewat tragedi 1965, ia segera mengesahkan UU Penanaman Modal Asing, menerapkan kontrol politik melalui militer yang ketat untuk membungkam lawan-lawan politiknya, pembunuhan, penghilangan paksa, pembredelan media, korupsi, juga harta dan kemewahan yang ditumpuk di Cendana.

Selain sama-sama pernah berkarier di militer, Soeharto dan Marcos juga sama-sama dikenal dekat dengan Amerika. Naiknya dua orang itu ke tampuk kekuasaan menjadi karpet merah bagi masuknya pengaruh dan modal Amerika.

Keduanya juga lengser karena perlawanan rakyat yang sudah muak dengan kepemimpinan mereka. Sama-sama ditumbangkan oleh aksi ekstra-parlementer. Jika Marcos lengser di bulan yang sama setelah Pemilu 1986 yang digelar pada awal Februari, begitu juga Soeharto. Ia lengser tak lama setelah sebagai presiden pada Maret 1998. Pada Mei, Soeharto sudah lengser. Setelah meninggal, keduanya juga tidak dimakamkan di taman makam pahlawan.

Juga kontroversi mengenai gelar pahlawan, sama persis. Muncul pro dan kontra ketika Soeharto diusulkan sebagai pahlawan nasional.

Beberapa tahun terakhir, usaha menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional selalu muncul menjelang bulan November. Dukungan untuk mengangkat Soeharto sebagai pahlawan nasional datang dari, terutama, Golkar, partai yang dibesarkan dengan segala cara oleh Soeharto.

Tokoh-tokoh Golar secara berkala berbicara tentang kelayakan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Munaslub Partai Golkar di Nusa Dua, Bali, pada Mei 2016, juga memutuskan Golkar akan terus mengupayakan agar pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto. Sementara ini, namanya memang tak lolos, meski bisa muncul lagi di tahun-tahun mendatang.

Baca juga artikel terkait SOEHARTO atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Zen RS