Pembalut Berwarna, Warnai Masa Haid yang Bikin Lesu

Infografik Pembalut Warna Warni
Ilustrasi pembalut warna warni. FOTO/iStock
Oleh: Widia Primastika - 12 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Ada yang bilang pembalut berwarna bisa bikin enggak malas (mengganti pembalut) saat datang bulan.
tirto.id - Pembalut adalah peranti yang umum digunakan oleh perempuan di Indonesia kala siklus bulanan hadir. Sebelumnya hanya dikenal pembalut sekali-pakai berwarna putih. Ketika ada variasi, biasanya terkait ukuran. Ada pembalut ukuran standar untuk digunakan saat menjalani aktivitas harian serta ukuran lebih panjang untuk digunakan saat tidur.

Namun, belakangan ada bermacam model baru pembalut, salah satunya pembalut dengan rupa-rupa warna. Warna-warni pada pembalut itu rupanya menarik perhatian Lita Kirana (17).

“Aku suka ada warnanya, enggak kayak pembalut lain yang cuma putih. Jadi kalau mau ganti [pembalut] enggak males,” ungkapnya. Lita pun mengaku terkadang dirinya membeli pembalut bermotif karakter.

Berbeda dengan Alifah (24) yang memilih untuk membeli pembalut berwarna jika sudah terbukti punya kualitas lebih baik dibandingkan model lamanya. “Kalau cuma desain mah [buat apa], enggak ada yang lihat juga,” ujarnya.

Warna-warni dan Dampak Psikologisnya

Apa perlunya pembalut warna-warni, toh fungsinya adalah menampung darah haid? Bisa jadi, pembalut warna-warni memberi pengaruh terhadap kondisi tak nyaman yang kerap datang berbarengan dengan menstruasi. Banyak perempuan datang bulan tak hanya mengalami nyeri dan keram perut, kehilangan banyak darah, dan mual-mual, tetapi juga moody.

Ditulis situsweb psikologi Very Well Mind, Kendra Cherry menulis tentang pengaruh warna terhadap suasana hati dan perilaku kita. Itulah sebabnya konsep psikologi warna menjadi topik yang menarik dibahas dalam bidang pemasaran, seni, desain, dan lainnya.

Meski banyak orang mengatakan persepsi warna bersifat subjektif, Cherry memaparkan adanya beberapa efek dari warna yang bersifat universal. Seperti warna merah, oranye, dan kuning yang dihubungkan dengan kehangatan, serta mampu membangkitkan emosi dari rasa hangat dan nyaman, hingga permusuhan.

Jika kita suasana hati Anda penuh ketenangan, warna biru, ungu, dan hijau bisa menggambarkannya. Namun, warna-warna tadi juga bisa menjadi simbol duka dan ketidakpedulian.


Di Mesir dan Cina Kuno, psikologi warna digunakan sebagai terapi yang kini kerap disebut kromoterapi atau terapi cahaya. Mereka menggunakan warna merah untuk merangsang tubuh dan pikiran, serta meningkatkan sirkulasi, kuning untuk merangsang saraf, oranye untuk meningkatkan energi, biru sebagai penenang, dan nuansa indigo untuk mengurangi masalah kulit.

"Teori", apalagi "terapi", soal warna ini boleh jadi belum berterima dalam ilmu modern. Ia kerap dilihat sebagai pseudo-sains. Namun, ada pula orang-orang yang meraih manfaat dari "terapi warna" ini.


Lalu, bagaimana menjelaskan pembalut warna-warni ini bisa punya pasar? Sosiolog Didid Haryadi memaparkan dua konsep perilaku konsumen yang dikenal dengan pilihan rasional.

Ada dua faktor yang menentukan seseorang dalam mengambil keputusan individual, yaitu experience value dan decision value. Dalam hal maraknya produk pembalut warna warni, Didid menilai adanya kecenderungan orang untuk memilih berdasarkan decision value.

“[Decision value adalah] harapan yang muncul secara umum mengenai daya tarik atau daya tolak atas pilihan yang tersedia,” kata Didid kepada Tirto.

Jadi, dalam konsep decision value, seorang perempuan memutuskan untuk membeli pembalut tersebut karena tertarik dengan warna-warni pelangi yang diberikan. Ia berbeda dengan konsumen yang memutuskan membeli pembalut berdasarkan experience value, yang mengedepankan kenyamanan atau kecocokan konsumen atas barang tersebut.

Namun, Didid menekankan setiap keputusan membeli bergantung dari konsumen. Dalam tahap itu, rasionalitas atas nilai suatu barang menjadi bahan pertimbangan sebelum munculnya keputusan individual.


Melihat sosiologi konsumen di Indonesia, Didid menyampaikan bahwa melempar pembalut aneka warna ke pasar bisa menarik pembeli, sebab konsumen Indonesia punya kecenderungan mengambil keputusan atas pertimbangan mengikuti tren yang ada, untuk sekadar mencoba (decision value)

Meski begitu, beberapa konsumen yang mempertimbangkan experience value sangat mungkin tidak beralih ke produk tersebut, lantaran sudah nyaman dengan merek pembalut yang mereka gunakan saat ini.

Amankah Pembalut Berwarna?

Beberapa teman saya pun memilih untuk tidak menggunakan pembalut pelangi karena pertimbangan kesehatan, seperti Widya Pramitha (22). “Takut luntur nanti pas dipakai,” tuturnya.

Begitu pula Zosi Fatmawati (28). “Takut ada bahan pewarna yang bisa membahayakan 'miss V',” katanya.



Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr. dr. Poedjo Hartono, SpOG(K) menyampaikan bahwa fungsi dari pembalut adalah menampung darah menstruasi agar tak meluber. Dari sisi kesehatan, Poedjo menyampaikan tak ada larangan menggunakan pembalut fancy, sebab belum ada penelitian terkait bahaya maupun nilai lebih varian baru tersebut.

“Dan pemakaiannya kita tidak menganjurkan untuk memakai terus menerus [untuk pembalut jenis apa pun]. Karena ada orang yang khawatir risih, terus dipakai kemana-mana, itu enggak bener,” tutur Poedjo.

Menurut Poedjo, pemakaian pembalut dalam waktu yang lama akan mengganggu flora normal vagina. Ia juga menyatakan belum ada penelitian yang membahas tentang manfaat lebih dari ragam pembalut yang muncul belakangan. “Ada lagi pembalut anion, itu belum ada penelitian yang katanya pembalut itu bisa mencegah kanker serviks,” bebernya.


Poedjo menyanggah anggapan warna pembalut mainstream yang berwarna putih itu berguna untuk mengetahui kondisi kesehatan seseorang dilihat dari warna darah menstruasi.

“Enggak ada hubungannya, karena darah segar awal dinding endometrium mengelupas itu darah warna segar. Kalau sudah lama [menjelang hari terakhir periode] darahnya menghitam,” ujar Poedjo.

Baca juga artikel terkait MENSTRUASI atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight