Seperti Makanan, Produk Menstruasi Juga Punya Tanggal Kedaluwarsa

Penulis: Aditya Widya Putri, tirto.id - 13 Okt 2023 13:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Sebelum membeli pembalut, tampon, dan cangkir menstruasi, perhatikan juga masa layak pakainya, ya!
tirto.id - Mungkin ada sebagian dari kamu yang menganggap proses memilih produk menstruasi itu susah-susah-gampang. Salah pilih, eh, bisa-bisa bikin iritasi! Tapi, apakah kenyamanan adalah satu-satunya kriteria dalam pemilihan produk menstruasi?

Hmm, bukan itu saja, lho.

Kebersihan dan keamanannya wajib diperhatikan, termasuk tanggal kedaluwarsa. Yup, sebagaimana olahan makanan, ragam produk menstruasi seperti pembalut, tampon dan cangkir menstruasi (menstrual cup) ternyata punya batas waktu layak pakai.

Produk menstruasi yang paling banyak dipakai perempuan Indonesia adalah pembalut. Pemakaiannya memang sering dianggap mengganggu karena terasa mengganjal, bisa bikin iritasi selangkangan dan kurang cocok dipakai dalam kondisi mengenakan pakaian ketat atau mini. Di balik itu, pembalut tetap saja populer.

Selain paling mudah diakses di toko kecil sampai mall besar dengan harga relatif terjangkau, preferensi terhadap pembalut juga bisa dikaitkan dengan kuatnya mitos keperawanan di Indonesia.

Header Diajeng Produk Menstruasi
Header Diajeng Produk Menstruasi. Foto/kaboompics.com/KAROLINA GRABOWSKA


Beberapa perempuan masih risih dan takut memakai tampon atau cangkir menstruasi.

Sebab, kedua produk tersebut dipakai dengan cara dijejalkan ke dalam vagina. Bedanya, bahan dasar tampon hampir sama dengan pembalut—serat kapas—sementara cangkir menstruasi terbuat dari karet atau silikon.

Sebelum membeli produk menstruasi yang kamu sukai, wajib perhatikan masa pakainya, ya! Menurut laman Cleveland Clinic, tampon baiknya digunakan dalam jangka waktu 5 tahun. Namun perlu kamu ingat, bahan dasar mereka adalah kapas, media yang rentan tercemar bakteri dan jamur. Jadi kalau kamu menyimpan tampon di tempat yang lembab, seperti kamar mandi, bisa saja tampon durasi kedaluwarsa menjadi lebih cepat.

Bagaimana dengan pembalut yang dijual pasaran di Indonesia?

Tirto mendapati bahwa pembalut Laurier dan Charm mencetak tanggal produksi lengkap dengan bulan dan tanggal, sekaligus menyatakan produknya akan kedaluwarsa setelah tiga tahun diproduksi. Sementara merk Softex mencantumkan tanggal kedaluwarsa saja.

Pertanda Kedaluwarsa

Meski bentuk produk menstruasi tidak berubah setelah kedaluwarsa, jamur dapat bersembunyi dan menyebabkan infeksi di tubuhmu. Produk-produk ini juga tak boleh digunakan ketika sudah terlihat berjamur, berubah warna dan bau, walaupun belum masuk masa kedaluwarsa. Bukan tidak mungkin bakteri menyusup masuk ketika segel produk rusak atau terkoyak.

Dikutip dari Mamamia, dokter asal Australia Brad McKay menganalogikan masa kedaluwarsa pembalut dan tampon seperti kantong teh. Kalau kamu menyimpan kantong teh di dalam lemari selama 5 tahun, akan muncul bintik-bintik hitam kecil pada permukaannya. Bintik-bintik tersebut adalah jamur yang berkembangbiak. Kondisi serupa juga akan terjadi pada pembalut dan tampon.

“Masih ada bakteri yang tak akan bisa dilihat dengan mata telanjang karena bentuknya yang mikroskopis,” jelas mantan presenter serial kesehatan di televisi Embarrassing Bodies Down Under ini.

Menurut situs Healthline, masa pakai produk menstruasi bisa semakin tipis jika ia bersinggungan dengan produk atau bakteri asing lain, seperti parfum dan debu. Jadi, jangan simpan produknya di kamar mandi, ya.

Bakteri berkembang biak dengan cepat dan mudah di sana. Kontaminasi benda asing pada pembalut dan tampon pun akan meningkatkan risiko infeksi vagina atau komplikasi lain.

Header Diajeng Produk Menstruasi
Header Diajeng Produk Menstruasi. foto/IStockphoto


Produk menstruasi harus ditempatkan di lemari dengan suhu sejuk, kering, setidaknya pada suhu kurang dari 30 derajat Celcius, dan dijaga agar kemasannya tetap utuh.

“Di cuaca panas atau lembab, masa kedaluwarsa akan lebih cepat dibanding yang tertulis di kemasan,” papar McKay.

Bagaimana dengan cangkir menstruasi yang dianggap lebih higienis dan paling minim risiko?

Artikel ilmiah di The Lancet (2019) menuturkan, mereka bisa bertahan sampai 10 tahun!

Meskipun begitu, pakar kesehatan perempuan Sara Youngblood, CNP di Cleveland Clinic mengingatkan, “Cangkir [menstruasi] berbahan silikon atau karet itu sendiri memang tak punya masa kedaluwarsa, tapi mereka harus diganti setiap satu atau dua tahun—[gantilah] lebih cepat apabila mulai sobek, melar atau kalau tidak ya mutunya memburuk.”

Risiko Kesehatan Produk Saniter Kedaluwarsa

Masih merujuk situs Healthline, ada beberapa risiko yang perlu kamu waspadai kalau telanjur pakai produk menstruasi yang sudah kedaluwarsa.

Kamu bisa mengalami gatal-gatal dan keputihan berlebih. Gejala ini biasanya membaik ketika pH alami vagina kembali normal, yakni pasca-menstruasi. Namun, jika keluhan masih berlanjut, perlu segera kamu konsultasikan ke dokter sebelum terjadi infeksi.

“Bisa terkena toxic shock syndrome (TSS) karena racun bakteri masuk ke aliran darah, penyakit ini bisa mengancam jiwa dan butuh penanganan medis segera,” demikian dikutip dari Healthline.

Selain gatal dan keputihan, ada efek-efek lain yang perlu dikonsultasikan ke tenaga medis: demam tinggi, sakit kepala, nyeri, diare, mual, muntah, pusing atau pingsan, kesulitan bernapas, disorientasi, ruam, tekanan darah rendah, kulit terkelupas, kejang sampai kegagalan organ.

Guna meminimalkan risiko infeksi, jaga kebersihanmu saat memakai produk menstruasi. Caranya dengan cuci tangan sebelum pemakaian, memilih pembalut atau tampon dengan daya serap rendah, menggantinya setiap empat jam sekali—cangkir menstruasi setiap 8-12 jam. Jangan pakai pembalut atau tampon berulang kali dan jangan pakai tampon ketika periode menstruasi telah usai.

Terakhir ini nih yang paling penting. Jangan lupa untuk selalu perhatikan tanggal kedaluwarsa di kemasan produk, ya!


*Artikel ini pernah tayang di tirto.id dan kini telah diubah sesuai dengan kebutuhan redaksional diajeng.

Baca juga artikel terkait PEMBALUT atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani & Sekar Kinasih

DarkLight