"Pedang Bermata Dua" Bernama Beauty Filter

Kontributor: Nayu Novita, tirto.id - 5 Sep 2022 08:00 WIB | Diperbarui 15 Okt 2022 10:26 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Pemakaian beauty filter bisa menjadi sarana hiburan yang menyenangkan sekaligus ancaman bagi kesehatan mental seseorang. Bisakah diseimbangkan?
tirto.id - Di tengah maraknya kemunculan serial drama layar kaca yang menampilkan aktor dan aktris berwajah kinclong tanpa cela, Lembaga Penyiaran China baru-baru ini membuat gebrakan dengan memberlakukan aturan baru terkait pembatasan proses penyuntingan gambar dalam industri hiburan di negeri tirai bambu tersebut.

Mengutip harian Sinchew, peraturan yang mulai berlaku pada awal Juli 2022 ini tercantum dalam surat edaran yang disebarkan kepada 20 tim produksi drama, radio, film, dan televisi, berupa larangan penggunaan filter penyunting gambar/filter kecantikan (beauty filter) secara berlebihan dalam produksi konten yang akan ditayangkan ke publik.

Lahirnya regulasi ini didasari oleh kampanye estetika maskulin yang digalakkan pemerintah China serta kritik warga yang mengeluhkan penggunaan beauty filter membuat tampilan para bintang film tidak realistis dan cenderung konyol. Sebagai contoh, filter hijau dalam serial Sword Snow Stride justru menjadikan wajah aktor buram dan rambutnya kehijauan. Drama Fall in Love juga menuai kritik pedas di Weibo lantaran hasil editan mengakibatkan lenyapnya pori-pori pada kulit wajah.

Sebelum China, aturan terkait pembatasan penggunaan beauty filter sudah diberlakukan terlebih dahulu oleh Otoritas Standar Periklanan/Advertising Standard Authority (ASA) di Inggris pada tahun 2021. Hanya saja, seperti dilansir situs BBC, aturan ini baru ditujukan kepada para influencer dan pemilik jenama yang hendak mengunggah konten promosi produk kecantikan.

Berdasarkan regulasi ini, influencer dilarang mengunggah konten promosi yang disunting secara berlebihan pada kanal-kanal media yang bisa diakses publik. Menurut pejabat terkait, hasil editan dengan beauty filter yang kelewat ekstrem berpotensi menyebarkan informasi menyesatkan pada konsumen. Sebelumnya, jenis filter yang menjadikan kulit mulus, kecokelatan (tanned), dan tampak bercahaya termasuk beberapa tipe filter yang populer digunakan oleh para influencer.


Beauty Filter dan Cara Kita Memandang Tubuh

Kebiasaan menggunakan beauty filter berawal dari budaya swafoto (selfie) yang dipopulerkan kanal media sosial Facebook dan MySpace pada awal tahun 2000-an. Di awal kemunculannya, beauty filter sekadar berperan sebagai “gimmick” untuk pemasaran aplikasi penyunting foto yang biasa digunakan untuk mengoreksi hasil swafoto.


Namun kini, beauty filter justru memegang peran dominan dalam berbagai aplikasi penyuntingan gambar. Kanal media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Snapchat juga memiliki fitur filter sebagai bagian terintegrasi dari aplikasi utamanya. Saat ini kita juga bisa “mendandani” tampilan video dengan fitur Studio Effects yang tersedia di aplikasi Zoom saat menghadiri pertemuan daring.

Selayaknya makeup yang bisa digunakan untuk mengoreksi penampilan seseorang, beauty filter juga demikian, bahkan dengan daya koreksi yang jauh lebih besar daripada makeup. Ingin punya hidung mancung, kulit mulus, dan wajah tirus? Semua bisa terwujud dalam waktu sekian menit saja dengan filter. Tak heran bila jumlah pengguna beauty filter terus bertambah jumlahnya dari waktu ke waktu.

Sayangnya, seiring meningkatnya pemakaian beauty filter, banyak penelitian yang menyoroti dampak negatif pemakaian fitur ini. Salah satunya yang dipublikasikan di International Journal of Eating Disorder tahun 2015. Menurut hasil penelitian ini, gadis remaja yang secara teratur mengunggah selfie yang sudah diedit dengan filter memiliki tingkat ketidakpuasan tubuh lebih tinggi, harga diri lebih rendah, dan penurunan tingkat kepuasan hidup.

Itu semua bisa meningkatkan risiko munculnya gangguan dismorfik tubuh/body dysmorphic disorder (BDD)—gangguan mental yang ditandai obsesi berlebihan untuk memperbaiki kekurangan yang menurut anggapan seseorang bisa ditemukan pada tubuhnya. Padahal seringkali, kekurangan tersebut sebenarnya tidak signifikan atau bahkan tidak terlihat oleh orang lain.

Senada dengan penelitian di atas, hasil survey tahunan American Academy of Facial Plastic and Reconstructive Surgery tahun 2017 menyatakan bahwa 55% dokter bedah kosmetik mendapatkan pasien yang ingin menjalani tindakan operasi agar wajah asilnya sama dengan hasil selfie yang mereka edit sendiri dengan beauty filter. Ini adalah fenomena psikologis yang dikenal dengan istilah Snapchat dysmorphia.

“Ketika menggunakan beauty filter, orang akan merasa senang karena hasil selfie mampu mendekati standar kecantikan ideal sesuai konstruksi masyarakat. Rasa senang tadi akan diperkuat ketika selfie diunggah di media sosial dan mendapatkan apresiasi berupa pujian. Rasa senang ini merupakan bentuk reward positif yang membuat ia ingin kembali menggunakan beauty filter,” ungkap Wesmira Parastuti Mia, S.Psi, M.Psi, psikolog dan co-owner Klinik Psikologi Rumah Tumbuh Bintaro.

Perlu dipahami, cara orang menyikapi reward positif yang didapat dari pemakaian beauty filter amat subyektif, tergantung latar belakang dan kondisi psikologis bawaan masing-masing. Ada yang pada akhirnya memutuskan untuk memakai filter sesekali saja, namun ada pula orang yang terus mengulangi pemakaian beauty filter demi memanen reward positif, meski sadar bahwa sosok di dalam foto selfie bukanlah dirinya yang sebenarnya.

“Biasanya tindakan seseorang menggunakan beauty filter secara terus-menerus didasari oleh body image negatif dan rasa percaya diri yang kurang baik. Ia merasa tidak nyaman dan tidak percaya diri kalau hasil selfie tidak memenuhi standar kecantikan ideal yang berlaku di masyarakat,” jelas Wesmira.


Kampanye No Filter, Sudahkah Tepat Sasaran?

Munculnya obsesi berlebihan terhadap standar kecantikan ideal ini menarik perhatian dan keprihatinan dari banyak orang, tak terkecuali para influencer yang notabene merupakan pelopor penggunaan beauty filter di kanal-kanal media sosial.

Salah satunya adalah Sasha Pallari, influencer asal Inggris yang berprofesi sebagai model dan penata rias. Sasha adalah penggagas kampanye #filterdrop di Instagram yang mengajak pengguna media sosial untuk menyadari kondisi ketika sebuah filter digunakan untuk konten promosi. Kampanye viral ini menjadi salah satu dorongan yang mendasari regulasi pembatasan pemakaian filter di Inggris.

Belakangan ini juga viral kreasi video dari lagu Tear in My Heart oleh Twenty-One Pilots di kanal TikTok dengan penggalan lirik “The songs in the radio are okay, but my taste in music is your face.” Video ini menampilkan wajah seseorang dengan polesan makeup dan beauty filter yang kemudian secara tiba-tiba berubah menjadi wajah tanpa makeup dan beauty filter tepat pada lirik “your face”.

Selebrita TikTok seperti Charli D’amelio dan Meg DeAngelis juga mengikuti tren ini dan menuai banyak komentar positif pada akun TikTok miliknya. Rata-rata mengapresiasi keberanian para influencer ini untuk tampil polos tanpa editan sehingga lebih relevan dan terhubung dengan realita yang ada di masyarakat.

Tren penghapusan beauty filter di media sosial yang digulirkan oleh para influencer ini, menurut Wesmira, patut diapresiasi meski akan lebih bijaksana apabila kampanye ini merangkul isu-isu lain yang sifatnya lebih umum, seperti isu mencintai diri sendiri (self-love), menjadi diri sendiri (be yourself), pencitraan tubuh secara positif, dan menonjolkan kekuatan pribadi.

“Isu-isu tersebut lebih menjangkau pangkal permasalahan yang menyebabkan seseorang menggunakan beauty filter secara berlebihan, sehingga barangkali akan lebih efektif menghalau dampak negatif pemakaian beauty filter. Pasalnya, dalam takaran wajar, beauty filter sebenarnya bisa bermanfaat sebagai sarana hiburan dan merangsang kreativitas,” jelasnya.

Meski begitu, tak dipungkiri bahwa pemakaian beauty filter secara berlebihan bisa berdampak buruk, terutama pada diri mereka yang memiliki latar belakang dan kecenderungan kondisi psikologis tertentu. Itu sebabnya, Wesmira menyarankan pemakai beauty filter untuk menggunakan fitur tersebut dengan kesadaran diri yang baik.

“Kita harus mulai waspada apabila merasa sudah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengedit foto dengan beauty filter. Atau apabila ternyata lebih dari separuh unggahan di media sosial merupakan hasil editan dengan beauty filter. Jangan sampai pemakaian filter ini menimbulkan ketergantungan dan menghalangi diri kita untuk merasa nyaman menampilkan diri apa adanya,” ujar Wesmira.


Infografik Nofilter
Infografik Nofilter. tirto.id/Quita


Perkembangan Beauty filter di Era Metaverse

Perkembangan teknologi Augmented Reality (AR) yang mendasari penciptaan beauty filter dan aneka jenis filter lainnya saat ini telah mencapai level yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Di era metaverse yang sudah di depan mata, nyaris tak ada lagi batasan yang menghambat kreativitas seseorang dalam berkreasi dan mendefinisikan realita di dunia maya.

Memanfaatkan perkembangan teknologi AR, kini sudah banyak kreator yang bereksperimen membuat tampilan fantasi sebagai persiapan memasuki dunia metaverse. Ines Alpha misalnya, kreator makeup 3D di kanal Instagram yang berpendapat bahwa tampilan avatar di dunia metaverse sama pentingnya dengan penampilan di dunia nyata, karena mendefinisikan identitas setiap individu.

Dengan tujuan menciptakan tampilan avatar yang personal dan unik, Ines membuat filter berupa susunan elemen berformat 3 dimensi yang disebutnya sebagai “makeup dari masa depan”. Filter karya Ines sama sekali tidak mengubah bentuk wajah asli penggunanya, melainkan menambahkan elemen dekoratif pada wajah, seperti renda yang menyerupai ekor ikan berwarna-warni dan bisa bergerak bebas seolah mengapung di air.

Menurut Alison Campion, Direktur Strategi dan Operasi Metaverse di Meta, selain Ines masih ada ratusan ribu kreator AR—banyak di antaranya adalah perempuan, yang berlomba-lomba memberikan pengalaman menarik dan kesempatan unik bagi warganet untuk bereksperimen dan mengekspresikan diri mereka lewat pemakaian filter. Ada kreator yang menciptakan filter berupa makeup fantasi, potongan rambut aneka model, seni cat kuku, dan masih banyak lagi variasi lainnya.

Ke depannya kelak, menurut Alison, penggunaan teknologi AR termasuk filter akan kian menyentuh hal-hal yang mendekati pengalaman di dunia nyata. Misalnya, pemanfaatan filter untuk pengalaman belanja daring yang mendekati pengalaman berbelanja secara konvensional. Dengan memanfaatkan filter, kita akan bisa mencoba “memakai” busana dan makeup yang menjadi incaran.

Di satu sisi, pemakaian beauty filter memang bisa menimbulkan tantangan berupa masalah psikologis pada sebagian orang. Namun dengan modal dasar berupa kesadaran diri, penghargaan diri yang baik, dan pencitraan tubuh secara positif, setiap orang semestinya mampu dan memiliki kesempatan yang sama untuk memanfaatkan keberadaan filter di dunia maya sebagai sarana mengekspresikan diri dan mencicipi pengalaman baru yang memperkaya wawasan.

Baca juga artikel terkait BEAUTY atau tulisan menarik lainnya Nayu Novita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Kontributor: Nayu Novita
Penulis: Nayu Novita
Editor: Lilin Rosa Santi

DarkLight