Pantangan saat Perayaan Imlek dan yang Harus Dilakukan

Kontributor: Anggit Setiani Dayana, tirto.id - 31 Jan 2022 17:43 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Terdapat beberapa persiapan yang wajib dilakukan sebelum Imlek dan ada pula pantangannya. Apa saja? Temukan selengkapnya di sini.
tirto.id - Perayaan Imlek memiliki sejumlah tradisi yang harus dilakukan sekaligus beberapa pantangan atau yang tidak boleh dilakukan.

Imlek dirayakan tidak hanya oleh keturunan Tionghoa. Banyak festival rakyat yang digelar di seluruh Indonesia mulai dari pertunjukan, festival, kuliner, hingga diskon di Tahun Baru Cina.

Bagi keturunan Tionghoa, merayakan Imlek adalah suatu kewajiban. Berkumpul bersama keluarga dan menyambut tahun baru dengan positivisme agar berkah sepanjang tahun lancar.

Perayaan pada saat Imlek disebut Chunjie, yang secara harfiah diartikan sebagai Festival Musim Semi.


Yang Harus Dilakukan saat Imlek


Melansir Intern China, dalam merayakan Chunjie, beberapa hal wajib dilakukan.

1. Mempersiapkan Chunjie

Persiapan pertama dilakukan sejak sebulan sebelum tahun baru. Bukan tanpa alasan, persiapan sebulan lamanya dilakukan untuk menyambut Chunjie ini karena anggapan bahwa Chunjie bukan hanya 1 hari dalam setahun, tetapi bagi orang Tionghoa, Chunjie adalah perwakilan dari sepanjang tahun, apa yang terjadi di hari itu adalah apa yang akan terjadi sepanjang tahun.

Persiapan dimulai dengan membersihkan rumah dengan detail. Setiap ruang dalam rumah harus dibersihkan, jika perlu membeli perabot baru untuk menyambut kedatangan keluarga dan kerabat yang berkunjung.

Membersihkan rumah adalah pertanda untuk menyingkirkan energi lama dan menyambut tahun baru dengan energi serta keberuntungan yang baru.

2. Memasok makanan

Selanjutnya, memasok makanan untuk sebulan penuh termasuk daging, sayuran, buah-buahan, manisan, dan lainnya.

Mirip dengan lebaran, orang-orang yang merayakan Chunjie akan mengenakan pakaian baru bahkan pakaian dalam dan kaos kaki. Warna yang dipilih biasanya merah, yang melambangkan keberuntungan.

Di malam tahun baru, keluarga akan memberikan persembahan berupa sesaji yang terdiri dari beraneka makanan, permen, lilin, dan buah-buahan.

Persembahan ini adalah ungkapan syukur kepada Tuhan karena berkah sepanjang tahun dan setiap orang yang lebih muda dalam keluarga akan memberikan penghormatan kepada orang yang lebih tua.

Setelah persembahan, makan malam bersama keluarga. Makanan yang disajikan adalah makanan tradisional Cina, pangsit bakpao dan lainnya. Menu dalam makan malan ini paling tidak 10 jenis.

Makan malam ini menjadi salah satu bagian terpenting dalam Chunjie. Beberapa keluarga memasukkan koin dalam air rebusan pangsit, dan yang memakan pangsit tersebut akan diberkahi dan mendapat keberuntungan sepanjang tahun.

3. Berkumpul di rumah anggota tertua

Tepat di Tahun Baru Cina, setiap orang akan berkumpul ke rumah anggota tertua dalam keluarga.

Disinilah, hong bao atau angpao, amplop merah berisi sejumlah uang diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda.

Pemberian angpao dimaksudkan untuk ornag yang lebih tua memberi restu kepada orang muda untuk berkarya dan menjadi kaya.

Melansir The Sidney Morning Herald, beberapa lainnya juga perlu dilakukan untuk memulai tahun baru.

Makan ikan untuk untuk kebijaksanaan, meletakkan permen dan manisan di setiap meja di rumah agar sepanjang tahun mendatang penuh dengan kebahagiaan dan kemanisan dalam hidup.

Memakan plum untuk ketajaman pikiran, kubis untuk kesehatan, dan daun bawang untuk kejernihan.


Pantangan saat Imlek


Selain itu ada pula hal-hal yang tidak boleh dilakukan, seperti memakai baju hitam atau putih karena warna tersebut lambang dukacita, tidak mencuci pakaian atau rambut karena akan ‘membasuh’ keberuntungan.

Juga tidak disarankan membeli sepatu. Kata sepatu dalam penulisan aksara mandarin mengandung partikel yang berarti ‘jahat’, dan dalam bahasa Kanton sepatu mengandung partikel yang artinya ‘keras’. Tidak seorangpun ingin mendapatkan tahun yang jahat atau keras.

Tidur di siang hari selama tahun baru juga hal yang tabu karena dipercaya akan membuat kita malas sepanjang tahun.

Bagi yang tidak merayakan Imlek ataupun Chunjie, melakukan hal-hal positif selama Imlek untuk mempertahankan relasi dan menjaga keharmonisan dengan orang-orang tercinta.

Intinya adalah, melakukan hal yang bermanfaat dan menyenangkan selama momen libur tersebut.


Sementara itu, ucapan yang justru merepresentasikan suasana Tahun Baru Imlek adalah Xin Nian Kuai Le bukan Gong Xi Fa Cai.

Xin Nian Kuai memiliki arti harfiah “Selamat tahun Baru.” Sedangkan, Gong Xi Fa Cai tidak mengandung ungkapan Tahun Baru sama sekali.

Gong Xi Fa Cai menjadi terkenal di Indonesia karena keturunan Tionghoa rata-rata adalah pebisnis dan pengusaha sehingga lebih sering dipakai karena relevan dengan profesi yang bersangkutan.

Gong Xi Fa Cai diungkapkan agar ada keuntungan dan kesejahteraan sepanjang tahun sehingga keceriaan di hari itu dapat bertahan selama setahun penuh.

Ucapan lainnya adalah Xin Nian Hao artinya “Semoga Tahun Baru mu Baik” juga dapat diungkapkan sebagai doa.

Dikutip dari Metro, Tahun Baru Imlek bertepatan dengan Festival Musim Semi atau Chunjie, sehingga Imlek juga sebagai perayaan menyambut Musim Semi.

Chun Jie Kuai Le (Selamat Musim Semi) atau Chun Jie Hao (Semoga Musim Semimu Baik) untuk menyambut musim yang baru dimana bunga-bunga bermekaran bersamaan dengan harapan baru.

Karena tahun baru tidak hanya sebuah momen, tetapi juga sebagai penanda sepanjang tahun, ucapan yang penuh harapan juga wajib diungkapkan kepada orang-orang terkasih, seperti Xin Nian Jin Pu (Semoga ada kemajuan tahun ini), Wang Shi Ru Yi (Semoga harapanmu terpenuhi), dan Sui sui Ping An (Semoga terhindar dari semua celaka).

Bagi pemberi angpau, biasanya akan mengucapkan, Gong Xi Fa Cai, Hang Bao Na Lai (Semoga Kaya Raya, Ini Kuberi Angpau). Dikutip dari The Finder, ungkapan Nian Nian You Yu (Semoga sejahtera sepanjang Tahun) juga dapat menjadi alternatif ucapan bagi orang-orang terkasih.


Baca juga artikel terkait PERAYAAN IMLEK atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Anggit Setiani Dayana
Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Yandri Daniel Damaledo
Penyelaras: Ibnu Azis
DarkLight