Panduan Penting Sebelum Anda Membeli Saham Bali United

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan, Dea Chadiza Syafina - 17 Juni 2019
Dibaca Normal 4 menit
Pieter Tanuri, bos Bali United, ingin mengembangkan bisnis klub tak cuma mengandalkan dari pertandingan sepakbola.
tirto.id - Terhitung sejak 10-12 Juni lalu, Bali United telah melangsungkan penawaran umum perdana saham. Penjualan dilakukan di Hotel Inna Bali Heritage, Denpasar. Ini adalah langkah awal sebelum mereka melantai di Bursa Efek Indonesia pada hari ini.

PT Kresna Sekuritas, penjamin pelaksana penawaran perdana, mengaku antusiame publik begitu tinggi. Bali United menawarkan 2 miliar unit saham atau setara 33,33 persen saham dari modal yang disetorkan kepada publik melalui mekanisme IPO.

“Jatah pooling (masa penawaran) hanya 1 persen senilai Rp3,5 miliar, tapi kemarin sudah ratusan miliar nilai pemesanan yang masuk,” klaim Octavianus Budiyanto, Direktur Utama Kresna Sekuritas kepada Tirto.

Harga dilepas senilai Rp175 per saham, dengan permintaan melebihi penawaran alias oversubscribed. Dengan begitu, ditaksir Bali United bisa meraup dana investasi segar senilai Rp350 miliar.

Tingginya permintaan membuat nilai pemesanan yang masuk saat masa penawaran melonjak menjadi Rp730 miliar, menurut CEO sekaligus pemilik klub Pieter Tanuri.

Pada debut perdananya "merumput" di lantai bursa hari ini, saham Bali United dengan kode emiten BOLA ini langsung naik 69,14 persen atau 121 poin ke level Rp296. Saham emiten ini ditransaksikan sebanyak 20 kali dengan volume 1.295 lot dan menghasilkan nilai transaksi Rp38,33 miliar.


Apa yang dilakukan Bali United adalah kali pertama di Asia Tenggara. Industri olahraga yang naik daun membuat investasi di klub sepakbola menjadi hal yang menjanjikan. Terlebih sepakbola adalah olahraga paling populer di dunia. Hukum pasar berlaku: setiap ada kerumunan pasti ada uang yang berputar.

Namun, setiap bisnis selalu ada risiko. Dan risiko berbisnis di klub sepakbola tentu berbeda dari bisnis lain, misalnya bisnis retail atau tambang. Bagi Anda yang akan membeli saham Bali United, alangkah baiknya mempelajari terlebih dulu apa untung dan rugi membeli saham klub sepakbola.

Kita bisa belajar dari emiten klub sepakbola di luar negeri yang melantai di bursa efek. Misalnya beberapa klub Eropa bonafid seperti Manchester United, Arsenal, AS Roma, Juventus, Lazio, Borussia Dortmund, Ajax Amsterdam, atau dua klub Turki, Galatasaray dan Besiktas.

Emiten Klub Sepakbola Rentan Fluktuatif

Lantaran sudah tercatat di papan bursa, mekamisme pasar menjadi penentu pergerakan saham klub yang utamanya dipengaruhi oleh performa di lapangan. Hubungan antara hasil pertandingan dan harga saham klub sepakbola rupanya memiliki pengaruh tinggi.

Studi berjudul “How do stocks of listed football clubs react to the sportily performance of these football clubs?” karya Frank van Gills menyebut kemenangan klub bisa mengangkat saham hingga 0,48 persen. Jika hasil pertandingan seri atau kalah, saham klub bisa terpangkas masing-masing 0,59 persen dan 1,02 persen.

“Dengan kata lain, penalti yang diterima klub ketika seri atau kalah itu lebih besar ketimbang menang,” sebut Frank.

Dalam studi itu, Frank memasukkan sampel 30 klub dan memantau 10.915 pertandingan.

Selain dari hasil pertandingan, pergerakan saham klub sepakbola juga dipengaruhi perihal nonteknis. Misalnya transfer pemain.

Saat merekrut Ronaldo dari Real Madrid, Juventus menghabiskan 99 juta euro atau setara Rp1,8 triliun. Transfer ini sukses mengerek saham Juventus hingga 19 persen. Sentimen positif serupa terjadi ketika Man United merekrut pelatih Jose Mourinho.

Berbanding sebaliknya, fluktuasi saham yang parah akan terjadi saat tim ditinggalkan sosok penting, baik pemain atau pelatih. Man United pernah merasakan itu usai kepergian Sir Alex Ferguson. Ketika Ferguson memutuskan pensiun, saham Setan Merah langsung anjlok hingga 4,5 persen.

Tak sekadar menang dan kalah serta transfer pelatih atau pemain, faktor terpenting yang berpengaruh pada emiten klub sepakbola adalah stabilitas kompetisi dan klub.

Saat terkena skandal pengaturan skor pada 2006, saham Lazio menyentuh harga termurah dan hampir terdepak dari Bursa Efek Italia. Begitupun ketika Man United gagal lolos Liga Champions musim lalu, tingkat pengembalian atau return saham terpangkas 13,69 persen.

Dalam dokumen prospektus, pihak Bali United sudah mewanti-wanti ini. Mereka menjadikan kinerja dan popularitas klub dalam kompetisi sebagai risiko utama.

“Keberhasilan dari usaha perseroan sangat bergantung pada kinerja dan prestasi klub. Apabila perseroan tidak dapat mempertahankan dan meningkatkan kinerja dan prestasi klub, hal ini akan berdampak pada popularitas klub, termasuk fanbase dari klub itu sendiri,” tulisnya.

Maka, apabila fanbase klub berkurang, jumlah penonton pertandingan pun berkurang. Tak ada penonton, tak ada pula pemasukan dari tiket dan siaran pertandingan. Dampak lebih lanjut: sponsor bisa kabur.

Kapan Dividen Dibagikan?

Jika alasan Anda memiliki saham klub sepakbola demi mendapat deviden, pikiran itu harus dibuang jauh-jauh. Miliaran dolar yang berputar dalam kompetisi sepakbola jangan membuat anda silau. Sebab penawaran saham ke publik (IPO) tidak serta merta membuat klub-klub Eropa mampu membagikan keuntungan atau dividen kepada para pemegang sahamnya.

Bahkan, seretnya pembagian dividen menjadi salah satu masalah serius klub sepakbola merumput ke lantai bursa. Hanya segelintir klub top di Eropa yang mengakhiri tahun finansial dengan warna hitam, sehingga mampu membagi keuntungan.

AS Roma, misalnya, berdasarkan laporan kinerja keuangan untuk tahun buku 31 Desember 2018, memutuskan tidak membagi deviden meskipun meraup total pendapatan sampai 134,8 juta Euro.

Tahun lalu, hal serupa dialami Ajax Amsterdam, Besiktas, Galatasaray, Juventus, dan Lazio.

Terpangkasnya margin laba sampai 4,06 persen lantaran berkurangnya pemasukan sampai 19,23 juta Euro, membuat Juventus tak membagikan dividen kepada pemegang saham.

Sama-sama merumput di Turki, Galatasaray dan Besiktas kompak untuk tidak membagikan keuntungan kepada pemegang saham. Kinerja tahunan Galatasaray mengalami mimpi buruk karena margin keuntungan berkurang sampai 36,48 persen akibat laba bersih terpangkas 228,88 juta lira Turki. Padahal pendapatan klub ini naik mencapai 627,34 juta lira Turki.

Nilai pengembalian saham Besiktas merosot sampai 31,86 persen secara tahunan. Perseroan absen bagi untung meski mampu meningkatkan margin laba 1,11 persen sepanjang 2018. Selain itu, laba bersih perseroan mencapai 10,05 juta Lira Turki, dengan pendapatan 906,17 juta Euro.

Masalah ini biasa disebabkan oleh laba bersih amat tipis. Memang benar biaya pendapatan dari hak siar, sponsor, dan lain-lain bisa mencapai lebih dari 50 juta Euro. Namun, di sisi lain, beban operasional tim cukup besar sebab klub mesti menggaji dan mendatangkan pemain baru.

Infografik HL Bali United 2
Infografik Daftar klub bola yang melantai ke bursa saham. tirto.id/Lugas

Berinvestasilah Pada Emiten Klub Bola yang Punya banyak Lini Bisnis

Dari sekian besar klub Eropa merumput di pasar saham, ada satu contoh terbaik. Ia datang dari klub yang jarang kita kenal: Copenhagen FC.

Klub asal Denmark ini berdiri pada 1992 berkat hasil merger antara Kjobenhavns Boldklub dan Boldklubben 1903. Selain nilai saham selalu meningkat, klub ini sering membagi dividen kepada investornya.

Perseroan mampu memberikan dividen kepada pemegang saham 2,34 persen pada 2018, setara 2,5 krona Denmark per saham, meski secara tahunan kinerja perseroan kurang menggembirakan. Margin laba klub ini terpangkas 21,37 persen lantaran laba bersih berkurang hingga 167,75 DKK atau Krona Denmark.

Namun, perseroan masih sanggup mencatat pendapatan 784,84 juta Krona Denmark atau setara Rp1,6 triliun pada periode yang sama. RUPS perseroan juga menyetujui pembagian dividen senilai 10 Krona Denmark per saham pada 2017.

Copenhagen FC mulai listing di bursa efek Kopenhagen pada 1997. Hal yang membedakan Copenhagen dari klub lain adalah sejak IPO, klub ini memiliki strategi diversifikasi bisnis yang tak melulu sepakbola. Ini jadi hal positif sebab hasil keuntungan perseroan tak cuma bergantung performa klub di lapangan hijau.

Salah satu langkah pertama adalah mengakuisisi Stadion Parken. Setelah itu, mengakuisi perusahaan promotor musik Rockshow pada 2001. Lima tahun kemudian, Fitnessdk, perusahaan industri kebugaran, diambil Copenhagen FC.

Berdasarkan laporan keuangan, lini usaha sepakbola hanya mewakili sebagian kecil dari total pendapatan Parken Sport & Entertainment, holding Copenhagen FC.

Pola sukses Copenhagen FC ini yang agaknya ingin ditiru oleh Pieter Tanuri di Bali United. Salah satu hal yang sempat ia tiru adalah mengakomodasi acara musik bertajuk Bali United Festival pada Maret lalu.


“Saya ingin membesarkan industri olahraga, bukan hanya sepakbola. Jadi PT Kreasi Karya Bangsa (anak usaha Bali United) akan menjadi tim yang serius menggarap marketing sampai ke ranah-ranah non-sepakbola. Kemarin kami bikin event musik di halaman stadion Wayan Dipta, yang datang 17 ribu orang,” klaim Pieter.

“Dari situ bisa terlihat visi PT Kreasi Karya Bangsa mau ke mana. Saya juga bikin TV dengan visi seperti MU TV, Arsenal TV, dan lain-lain. Ini bukan channel di YouTube, loh. Ini channel TV. Sekarang bisa diakses via Matrix TV. Sekarang sehari sekitar 6 jam, penginnya sehari siaran 24 jam. Itu tidak murah,” ucapnya, lagi.

Pieter mengatakan masih banyak rencana pengembangan unit bisnis lain di Bali United. Alasannya, bisnis sepakbola tak bisa hanya mengandalkan dari pertandingan sepakbola.

Sponsor dan hak siar, kata Pieter, tidak akan cukup menopang bisnis Bali United.

“Diversifikasi unit bisnis lain menjadi penting. Makanya, kami punya semboyan 'Beyond Football'--Lebih dari sekadar sepakbola,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait BALI UNITED atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan & Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan & Dea Chadiza Syafina
Editor: Aqwam Fiazmi Hanifan
Artikel Lanjutan
DarkLight