Menuju konten utama

Orangtua Bandung Keluhkan Harga Masker Mahal Imbas Abu Vulkanik

Septiani juga mengeluhkan harga masker untuk anak yang cukup mahal di toko daring imbas abu vulkanik erupsi Anak Gunung Krakatau meski ada kegiatan PJJ.

Orangtua Bandung Keluhkan Harga Masker Mahal Imbas Abu Vulkanik
Gedung bagian depan SDN 026 Bojongloa terpasang banner berisi klaim hak atas tanah dari ahli waris, pada Kamis (6/8/2026). Muhamad Nizar/tirto.id.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di wilayah dengan intensitas sebaran abu vulkanik yang tinggi usai erupsi Anak Gunung Krakatau.

Di Kota Bandung, sejumlah orang tua mulai membatasi aktivitas anak di luar rumah sebagai langkah antisipasi terhadap sebaran abu vulkanik. Salah satunya adalah Septiani Dewi (34). Dewi mengakui, dia dan anak belum mengalami gangguan kesehatan akibat abu vulkanik dari erupsi Anak Gunung Krakatau. Namun, dia memilih mengurangi aktivitas anak di luar rumah untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

“Untuk keluhan kesehatan, sejauh ini alhamdulillah belum ada dan semoga jangan sampai terjadi,” kata Septiani kepada kontributor Tirto, Senin (7/9/2026).

Menurut Septiani, aktivitas sekolah anaknya masih berlangsung seperti biasa. Pihak sekolah menyampaikan informasi melalui WhatsApp dan meminta anak-anak tetap menggunakan masker selama berada di sekolah.

“Kemarin informasi dari sekolah disampaikan melalui WhatsApp. Anak-anak tetap masuk sekolah seperti biasa dan menggunakan masker,” ujarnya.

Penggunaan masker menjadi salah satu kendala bagi Septiani. Ia mengatakan, masker khusus anak cukup sulit ditemukan di Bandung. Di sisi lain, harga masker khusus anak mengalami kenaikan signifikan ketika ingin membeli secara daring.

“Kalaupun tersedia secara online, harganya naik cukup signifikan, bahkan bisa sampai tiga kali lipat,” tuturnya.

Septiani juga mengaku khawatir anak-anak tetap beraktivitas di sekolah meskipun telah menggunakan masker. Menurutnya, pembelajaran daring sementara dapat menjadi pilihan yang lebih aman bagi anak-anak.

“Sebagai orang tua, jujur saya cukup khawatir kalau anak-anak tetap harus beraktivitas di sekolah meskipun sudah menggunakan masker,” ungkapnya.

Ia berharap sekolah dan pemerintah memberikan sosialisasi yang jelas mengenai langkah yang harus dilakukan masyarakat ketika terjadi bencana. Ia juga meminta adanya informasi atau peringatan lebih dini kepada orang tua.

“Saya juga berharap sekolah dan pemerintah bisa memberikan sosialisasi yang jelas terkait langkah yang harus dilakukan saat terjadi bencana, termasuk adanya informasi atau peringatan lebih dini kepada orang tua,” jelasnya.

Sementara itu, orang tua murid asal Kabupaten Bandung, Nenden (40), menuturkan sekolah anaknya belum memberlakukan penerapan PJJ. Namun, anak murid diwajibkan memakai masker.

"Cuman anak harus diwajibkan memakai masker buat pergi ke sekolah. Kan sekarang diwajibkan memakai masker ya," ujar Nenden

Ia berharap masker tidak dijual dengan harga mahal di tengah kondisi sebaran abu vulkanik seperti saat ini. Menurutnya, harga masker yang biasanya Rp10.000 naik menjadi Rp30.000. Sementara itu, masker yang biasanya dijual Rp5.000 untuk dua buah, kini mencapai Rp12.000. Ia menyayangkan kondisi tersebut karena masyarakat dinilai seolah dimanfaatkan di tengah situasi bencana.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengeluarkan Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat Jawa Barat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau pada 6 September 2026.

Dedi mengatakan, penerapan PJJ dilakukan untuk melindungi peserta didik dan warga satuan pendidikan dari dampak sebaran abu vulkanik. Ia juga meminta Dinas Kesehatan memastikan kesiapsiagaan puskesmas, rumah sakit, pos kesehatan, serta fasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadapi dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

“Saya instruksikan Dinas Kesehatan untuk memastikan ketersediaan tenaga kesehatan, ambulans, oksigen, pulse oximeter, obat-obatan, masker/respirator, dan Alat Pelindung Diri (APD) di fasilitas kesehatan,” kata Dedi Mulyadi, dalam keterangan resminya, Minggu (6/9/2026).

Dedi mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik, tetapi tetap waspada serta memperhatikan kondisi lingkungan. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan, sedapat mungkin, tetap berada di dalam rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak, khususnya di wilayah dengan intensitas sebaran abu vulkanik yang tinggi.

"Ikuti informasi dan arahan resmi pemerintah serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya,” jelas Dedi.

Dedi juga mengimbau masyarakat menggunakan kacamata ketika berada di luar ruangan untuk melindungi mata dari paparan partikel abu vulkanik. Apabila terpapar abu vulkanik, masyarakat diminta segera membersihkan diri.

Untuk membersihkan rumah, fasilitas umum, maupun lingkungan sekitar dari abu vulkanik, Dedi menganjurkan agar abu dibasahi terlebih dahulu. Cara tersebut dilakukan untuk mencegah abu kembali beterbangan dan terhirup.

“Segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila setelah terpapar abu vulkanik mengalami gangguan pernapasan, sesak napas, nyeri dada, gangguan atau iritasi mata, gangguan kulit, maupun gejala berat lainnya,” jelasnya.

Baca juga artikel terkait GUNUNG ANAK KRAKATAU atau tulisan lainnya dari Akmal Firmansyah

tirto.id - Flash News
Kontributor: Akmal Firmansyah
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Andrian Pratama Taher