Nirvana, Bagian dari Semangat Seattle

Oleh: Petrik Matanasi - 25 September 2016
Dibaca Normal 2 menit
Di Indonesia, Nirvana adalah yang paling legendaris di kalangan penikmat grunge ketimbang band bercorak Seattle lainnya. Tentu, band-band Seattle Sound lain seperti Soundgarden atau Pearl Jam juga cukup dikenal.
tirto.id - Tak hanya Bruce Lee saja yang punya hubungan dengan kota Seattle, di mana dia belajar filsafat di Universitas Washington dan menulis banyak soal kung fu. Jauh setelah Bruce Lee, sebuah genre musik yang mengguncang dunia rock juga muncul dari kota itu.

Dari kota Seattle, genre yang biasa disebut grunge lahir. Ciri khas musik ini terletak pada distorsi gitar dan musik yang sederhana. Seperti pada punk yang juga memberi pengaruh mereka selain metal dan indie rock. Musik ini mulai ada sejak pertengahan 1980an di Seattle. Musik mereka diterima publik dan mendunia di era 1990an.

Band asal kota ini Nirvana, Soundgarden, Pearl Jam, Alice in Chains, dan Mudhoney kemudian dikenal. Dari luar Seattle, musik ini berkembang dan band-band yang terpengaruh oleh musisi kota ini. Salah satunya adalah Silverchair, band Australia yang juga tidak kalah mendunia.

Musisi Kota Hujan

Jauh sebelum menyanyikan “You Know My Name” untuk soundtrack film Casino Royale, Chris Cornell termasuk musisi rock alternatif yang cukup disegani. Dia pernah merilis tiga album bersama Audioslave. Namun generasi 90an penikmat rock alternatif terutama Grunge, tak akan lupa sepak terjang Chris Cornell sebagai gitaris dan vokalis Soundgarden sebelum 1997. Juga kiprahnya bersama Temple of The Dog.

Band terakhir itu proyek Chris bersama Stone Gossard pada gitar pengiring, Jeff Ament pada bass, Mike McCready gitaris utama, Matt Cameron pada drum. Kecuali Matt Cameron, personel lain bertahan lama di Pearl Jam. Sebelum 1997, Matt Cameron adalah drumer Soundgarden sejak 1986. Selain Matt Cameron, di Soundgarden terdapat Kim Thayil pada gitar dan Hiro Yamamoto pada bass. Band ini sempat berganti personel juga.

Meski tak semua personel lahir di kota Seattle, namun Pearl Jam dianggap salah satu penggelora Seattle sound. Seperti Bogor, Seattle dikenal sebagai kota hujan. Eddie Vedder, vokalis Pearl Jam yang terkenal itu, tidak lahir besar di Seattle seperti Kurt Cobain atau Chris Cornell.

Musiklah yang membawa Eddie ke Seattle. Semula dia vokalis Bad Radio di San Diego. Di masa itu, Eddie menulis lagu Better Man. Suatu kali, Eddie menerima sebuah kaset rekaman demo yang dikirim Jeff Ament, Stone Gossard dan Mike McCready. Ketiganya sedang mencari vokalis.

Mantan drumer Red Hot Chili Papers, Jack Iron, adalah yang memberikannya pada Eddie. Eddie menulis syair dan menyanyikan syair itu berdasar musik yang dikirim dari Seattle itu. Setelah direkam dikirim ke Seattle. Singkat kata, ketiga anak band Seattle itu tertarik. Eddie pun diundang ke Seattle dan jadi anak Seattle.

Anggota Pearl Jam sebelum bergabung dalam Pearl Jam juga bermain dalam genre musik sama di Seattle. Sebelumnya, Jeff Ament dan Stone Gossard pernah memperkuat Green River. Band ini diperkuat juga oleh Mark Arm vokal dan gitar, yang juga memperkuat Mudhoney.

Bukan mereka saja yang pernah bermain di Seattle. Pemain bass Guns N Roses, Duff McKagan, juga berasal dari Seattle. Sebelum grunge berjaya dan masih tinggal di Seattle, Duff bermain punk.



Popularitas Nirvana dan Band Seattle Lain

Selain Nirvana, baik Soundgarden, Temple of the Dog, Pearl Jam atau yang lainnya seperti Alice in Chains juga dianggap sebagai band grunge, meskipun para dedengkot genre ini sendiri enggan dengan nama itu. Kurt Cobain tak pernah menyebut musiknya grunge. Dia hanya merasa berusaha membuat musik punk namun miskin konsep. Mereka pun enggan dianggap pelopor. Sudah ada musisi senior yang dianggap Godfather of Grunge, yakni Neil Young.

Di Indonesia, genre musik yang dikenal dengan distorsi gitar dan lagunya yang sederhana ini cukup disukai generasi yang tumbuh pada 1990an. Dengan modal tiga kord gitar, sebuah lagu bisa dinyanyikan. Lagu-lagu bergaya Seattle ini sering bergema di pentas-pentas seni di sekolah menengah. Tak hanya musiknya, gaya berpakaian kasual ala anak-anak band itu tergolong murah untuk ditiru anak-anak remaja berkantong cekak. Celana jeans biru yang seringkali belel, kaos oblong, kemeja flanel, dan sepatu Converse pun mudah didapat.

Meski musik ini berjaya di era 1990an, musik ini masih cukup disukai sampai awal dekade 2000an. Padahal kala itu invasi musik hip metal seperti dibawakan Limp Bizkit atau Linkin Park sedang naik daun. Garage rock yang diusung The Strokes juga diminati sebagian remaja.

Di antara banyak sekian band dari Seattle ini, nama Nirvana lebih sering disebut. Personel Nirvana, terutama Kurt Cobain, lebih dikenal dibanding musikus lainnya. Wajah Kurt sering menghiasi kaos remaja-remaja pecinta Nirvana. Mereka tentu tahu seluk beluk Cobain, setidaknya soal bagaimana ia mengakhiri hidup. Tapi mereka tak begitu kenal Chris Cornell atau Eddie Vedder.

Di mesin pencari Google, terdapat 10.400.000 hasil pencarian untuk Nirvana, 2.310.000 hasil untuk Pearl Jam, 480.000 hasil untuk Soundgarden. Nirvana, setelah kematian Kurt Cobain tidak hidup lagi. Mantan drumernya, Dave Grohl sudah mapan sebagai vokalis dan gitaris Foo Fighters, sementara Krist Novoselic yang dulu bermain bass menjadi politikus lokal. Sementara, Pearl Jam merilis album pada 2013, Lightning Bolt. Dan Soundgarden di tahun 2013 merilis King Animal.

Bicara popularitas para musisinya, berdasar mesin pencari google, untuk Kurt Cobain terdapat 11.400.000 hasil pencarian, 22.200.000 hasil pencarian untuk Chris Cornell, dan untuk Eddie Vedder hanya 501.000 hasil pencarian. Dalam hal ini, Chris Cornell lebih tinggi. Tentu saja dikarenakan Chris masih berkarya, dan band-band-nya, Audioslave dan Soundgarden, cukup populer. Belum lagi ia menyanyikan soundtrack film James Bond: “You Know My Name “.

Selain Soundgarden, ada Pearl Jam yang juga cukup punya banyak fanatik di Indonesia. Teknik menyanyinya mempengaruhi banyak vokalis. Lagunya juga banyak yang populer dan relatif ramah bagi telinga yang bahkan tak suka musik rock. Bagi yang melintasi dekade 1990-2000an, barangkali masih mengingat lagunya yang kerap diputar di radio-radio.

Oh where, oh where, can my baby be...

Baca juga artikel terkait MUSIK atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Musik)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
Artikel Lanjutan