Menuju konten utama

Nilai Rupiah Sepekan Lalu Menguat Ditopang 3 Sentimen Utama

Pakar ekonomi tetap memperingatkan penguatan ini bersifat rapuh dan menghadapi sejumlah risiko serius ke depan.

Nilai Rupiah Sepekan Lalu Menguat Ditopang 3 Sentimen Utama
Petugas menghitung uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (27/10/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan tren penguatan sepanjang pekan kedua September 2026. Penguatan tertinggi terjadi pada Rabu (9/9/2026), saat rupiah ditutup menguat 121 poin atau 0,69 persen di level Rp17.511 per dolar AS, seperti dicatat laman IDX Channel.

Menariknya, penguatan rupiah itu terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah Brent yang kembali menembus level US$100 per barel akibat eskalasi konflik AS-Iran di Selat Hormuz.

Sebagai importir neto minyak, kondisi ini lazimnya menjadi tekanan bagi rupiah. Namun, sejumlah sentimen positif justru membuat rupiah menguat dalam rentang pekan lalu.

Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital di Center of Economic and Law Studies (CELIOS), mengidentifikasi setidaknya tiga faktor utama yang menopang penguatan rupiah dalam sepekan terakhir.

Pertama, pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun ke level 98,8, posisi terendah dalam hampir lima bulan terakhir. Nailul menilai pelemahan ini dipicu oleh intervensi Bank of Japan (BOJ) terhadap nilai tukar yen.

“Saya melihat ada faktor dari pelemahan indeks dolar terhadap mata uang asing pasca Bank of Japan melakukan intervensi terhadap nilai tukar yen terhadap dolar. Pelemahan USD terhadap yen ini diikuti oleh pelemahan USD terhadap rupiah,” ujar Nailul kepada tirto, Minggu (13/9/2026).

Kedua, faktor internal berupa penegasan peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) dengan outlook stabil. Menurut Nailul, hal ini berpengaruh langsung terhadap persepsi investor di pasar surat utang Indonesia.

Ketiga, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang agresif menarik likuiditas melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan imbal hasil (yield) yang cukup tinggi untuk tenor hingga 12 bulan.

“Jadi, dari semua faktor tersebut, rupiah menguat,” kata Nailul.

Sejalan dengan itu, data cadangan devisa turut menjadi sentimen positif. BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, naik dari US$145,3 miliar pada akhir Juli 2026.

Meski rupiah menunjukkan performa positif, pakar ekonomi memperingatkan penguatan ini bersifat rapuh dan menghadapi sejumlah risiko serius ke depan.

Nailul mengingatkan sentimen penopang rupiah sangat bersifat jangka pendek. Dia menyoroti potensi capital outflow ketika efek intervensi BOJ mereda.

“Intervensi BOJ bisa membuat yen kembali lagi ke Jepang yang membuat capital outflow juga. Artinya, ada potensi pelemahan nilai tukar ke depan,” jelasnya.

Lebih jauh, Nailul mengkhawatirkan dampak kebijakan SRBI terhadap pasar surat utang pemerintah. Dia mencatat yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor pendek terus meningkat—mengindikasikan risiko semakin tinggi.

“Sentimennya sangat jangka pendek. Bahkan, kalau kita lihat bisa memberikan tekanan terhadap kepada SBN tenor pendek. Yield SBN tenor pendek semakin meningkat yang artinya risikonya semakin tinggi. Ini bisa berbahaya bagi fiskal Indonesia. Terlebih ada potensi rebutan likuiditas,” kata Nailul.

Nailul menjelaskan, ketika SRBI menawarkan yield yang lebih menarik, investor akan menyerbu instrumen tersebut sehingga menarik likuiditas dari instrumen lain termasuk SBN.

“Dari sisi perbankan pun akan lebih mahal untuk mencari dana pihak ketiga,” imbuhnya.

Sementara itu, Ibrahim Assuabi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka sekaligus pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, menyoroti tekanan besar dari sisi geopolitik dan kebijakan moneter AS.

Ibrahim mencatat eskalasi konflik di Selat Hormuz akibat perang AS-Iran dan Selat Bab al-Mandeb akibat rentetan serangan Houthi, telah mendorong harga minyak mentah terus naik. Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz bahkan menyusut drastis, hanya tersisa 7 hingga 10 kapal.

“Minggu-minggu ini adalah tensi geopolitik Timur Tengah tertinggi. Sehingga, membuat harga minyak mentah terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan,” kata Ibrahim, Minggu (13/9/2026).

Dia juga menyoroti lonjakan harga minyak mentah di atas US$100 per barel sebagai ancaman serius bagi Indonesia.

Sebagai importir neto minyak, kenaikan harga ini berpotensi membengkakkan subsidi dan kompensasi energi dalam APBN, serta menekan neraca transaksi berjalan.

“Pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan fiskal dan moneter. Anggaran fiskal jebol karena beban subsidi yang tidak rasional. Kalau menaikkan harga BBM, akan memicu inflasi tinggi dan menurunkan daya beli masyarakat,” ujar Ibrahim.

Dari sisi kebijakan moneter AS, Ibrahim mencatat ekspektasi inflasi tahunan di AS telah melonjak ke 4,6 persen. Data Producer Price Index (PPI) Agustus naik 0,4 persen secara bulanan dengan inflasi produsen tahunan mencapai 5,4 persen.

Kondisi ini mendorong 85 persen ekonom memperkirakan The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga 25 basis poin dalam pertemuan pekan depan.

“Kenaikan suku bunga ini yang kemungkinan besar akan mempengaruhi pelemahan,” ungkap Ibrahim.

Untuk pekan depan, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.500 hingga Rp17.850 per dolar AS dengan kecenderungan melemah.

Indeks dolar AS diperkirakan diperdagangkan di kisaran 99,30 hingga 100,20.

Fokus pasar pekan depan akan tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS periode Agustus, pengumuman besaran buyback obligasi pemerintah AS tenor 10-20 tahun, serta perkembangan situasi geopolitik Timur Tengah.

Meski demikian, tren kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia—seperti CPO, batu bara, dan tembaga—dalam satu bulan terakhir dinilai dapat menjadi penyeimbang, mengkompensasi tekanan impor minyak yang tinggi terhadap neraca perdagangan.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan lainnya dari Khizbulloh Huda

tirto.id - Insider
Reporter: Khizbulloh Huda
Penulis: Khizbulloh Huda
Editor: Fadrik Aziz Firdausi