Menuju konten utama
Mozaik

Nicolau Lobato, Pahlawan Timor Leste yang Jasadnya Tak Ditemukan

Setelah dibawa ke Jakarta untuk meyakinkan bahwa yang mati itu adalah Presiden Fretilin, jasad Lobato raib. Hingga kini kuburannya tak kunjung ditemukan.

Nicolau Lobato, Pahlawan Timor Leste yang Jasadnya Tak Ditemukan
HEADER MOZAIK Nicolau dos Reis Lobato. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Beberapa jam sebelum tahun berganti, Nicolau dos Reis Lobato terkurung di Gunung Mindelo, kawasan berbukit yang diselimuti kabut tebal di jantung Timor Leste. Langit di atas lembah Maubisse pada Minggu, 31 Desember 1978, tampak muram, seolah menolak memberi perlindungan terakhir bagi sosok yang selama tiga tahun menjadi buruan utama militer Indonesia.

Hujan bulan Desember membuat tanah pergunungan menjadi lumpur pekat, menyulitkan pergerakan siapa pun. Bagi pasukan pemburu, cuaca buruk justru menjadi peluang. Militer Indonesia mengerahkan kekuatan penuh untuk mematahkan tulang punggung Fretilin.

Nicolau Lobato, dengan tubuh kurus dan beban kepemimpinannya, tahu jaring itu telah tertutup rapat. Ia tak lagi memiliki rute pelarian. Lembah Mindelo yang curam, benteng alamiah selama ini, berubah menjadi perangkap mematikan.

Suara rotor helikopter yang membelah udara pagi menjadi pertanda buruk bagi kelompok kecil pengawal yang masih setia mendampinginya. Mereka adalah sisa pasukan elite Falintil yang terdesak dari basis pertahanan di Matebian dan Natarbora.

Dari Soibada ke Seminari Dare

Nicolau Dos Reis Lobato lahir pada 24 Mei 1946 di Soibada, wilayah pedalaman Timor Leste yang dikenal sebagai pusat pendidikan Katolik pada masa kolonial Portugis. Ayahnya, Narciso Lobato, dan ibunya, Felismina Alves, membesarkannya dalam lingkungan yang sarat nilai Katolik.

Soibada merupakan rumah bagi Colégio Nuno Alvares Pereira, sekolah misi yang melahirkan banyak elite intelektual Timor. Pendidikan kolonial saat itu sangat terbatas, hanya segelintir anak pribumi cerdas atau berasal dari keluarga liurai (raja loka) yang bisa mengaksesnya. Lobato termasuk salah satu yang terpilih, dan sejak itu bakat kepemimpinannya mulai menonjol.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Seminari Nossa Senhora de Fatima di Dare, sebuah institusi calon imam di perbukitan Dili. Di sana, Lobato berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang kelak berperan besar, seperti Francisco Xavier do Amaral, Presiden pertama Timor Leste, dan Alberto Ricardo da Silva, yang kemudian menjadi Uskup Dili.

Pendidikan seminari mencakup teologi, filsafat, sejarah, bahasa Latin, dan Portugis. Para siswa juga terpapar pemikiran humanisme Eropa dan gagasan keadilan sosial. Lobato tidak menyelesaikan pendidikannya sebagai imam, tetapi semangat pelayanan dan disiplin yang ia pelajari tetap melekat.

Pada 1966, setelah meninggalkan seminari, Lobato menjalani wajib militer di angkatan bersenjata Portugis. Ia mempelajari taktik perang, struktur komando, disiplin tempur, dan penggunaan senjata. Keahlian yang kelak dipakai untuk melawan tentara Indonesia, bahkan jika perlu menentang kekuasaan kolonial Portugis.

Di militer Portugis, Lobato mencapai pangkat sersan di kesatuan Caçadores, unit infanteri elite. Sebagai bintara, ia dihormati anak buahnya yang sebagian besar orang Timor, dan disegani perwira Portugis karena kecerdasannya. Pengalaman itu memberinya pemahaman tentang logistik militer dan psikologi prajurit, aset berharga saat ia memimpin Falintil dalam perang gerilya bertahun-tahun kemudian.

Selain berkarier di militer, Lobato juga sempat bekerja sebagai pegawai negeri di administrasi keuangan kolonial dan sebagai guru. Kehidupan sipil ini memperluas jaringan sosialnya di Dili. Ia menikah dengan Isabel Barreto, perempuan dengan kesadaran politik tinggi.

Dari pernikahan itu lahir seorang putra, Jose Maria Barreto Lobato. Keluarga ini menjadi potret kelas menengah baru Timor yang terdidik, sadar politik, dan resah dengan lambatnya kemajuan di bawah Portugis.

Sembilan Hari sebagai Perdana Menteri

Warsa 1974, Revolusi Anyelir meletus di Portugal, meruntuhkan rezim fasis Estado Novo yang berkuasa selama empat dekade. Kudeta militer yang dipimpin Gerakan Angkatan Bersenjata membuka pintu dekolonisasi di seluruh wilayah jajahan Portugis, termasuk Angola, Mozambik, Guinea-Bissau, dan Timor Timur. Berita revolusi ini disambut euforia di Dili. Sensor pers dicabut, dan untuk pertama kalinya orang Timor diperbolehkan mendirikan partai politik.

Dalam suasana kebebasan, Nicolau Lobato tampil sebagai tokoh sentral. Bersama Francisco Xavier do Amaral, Jose Ramos-Horta, Aleixo Corte Real, dan Rui Fernandes, ia mendirikan Associação Social Democrática Timorense (ASDT) pada 20 Mei 1974.

“Dua orang pertama, Xavier do Amaral dan Lobato, tetap menjadi dua pemimpin utama ASDT/Fretilin selama lebih dari tiga tahun,” tutur James Dunn dalam buku Timor: A People Betrayed (1996:56).

Pada September tahun itu juga, ASDT bertransformasi menjadi Fretilin. Dalam strukturnya, Lobato menjabat Wakil Presiden mendampingi Xavier do Amaral. Xavier dihormati sebagai figur karismatik, dan Lobato menjadi motor penggerak organisasi. Ia dikenal tajam sekaligus pragmatis, bertanggung jawab atas pembentukan dan pelatihan Falintil, sayap militer partai yang banyak merekrut mantan tentara kolonial Portugis berpengalaman tempur.

Tahun 1975 menjadi periode penuh gejolak. Ketegangan politik meningkat antara Fretilin dan União Democrática Timorense (UDT), partai saingan yang awalnya mendukung federasi dengan Portugal namun kemudian condong pada kemerdekaan.

Di sisi lain, Asosiasi Demokratik Rakyat Timor (APODETI) mendorong integrasi dengan Indonesia. Situasi diperparah operasi intelijen asing yang memanaskan suasana, memicu ketakutan akan komunisme.

Pada Agustus 1975, UDT melancarkan kudeta untuk menyingkirkan pengaruh Fretilin, memicu perang saudara singkat namun brutal. Dalam waktu singkat, Fretilin menguasai sebagian besar wilayah Timor Timur. Namun, konsekuensinya fatal, ribuan pengungsi pendukung UDT dan APODETI melarikan diri ke Indonesia, memberi alasan bagi keterlibatan militer Indonesia.

Suasana di Dili pada akhir 1975 penuh ketegangan sekaligus harapan. Jurnalis Jill Jolliffe dalam East Timor: Nationalism & Colonialism (1978:177) mencatat momen kecil namun signifikan ketika pada malam 27 Oktober, saat Nicolau Lobato menghadiri pernikahan adik iparnya, José Gonçalves, dan Olímpia.

Di tengah ancaman perang dari perbatasan dan kapal-kapal Indonesia yang mulai terlihat di perairan Dili, Lobato tampak rileks sejenak, menikmati momen kemanusiaan di tengah badai. Namun ketenangan itu rapuh. Pasukan Falintil menjaga ketat acara, sadar bahwa serangan bisa datang kapan saja.

“Sebuah kapal Indonesia telah berlayar dekat pantai dan keadaan darurat telah diumumkan,” sambung Jill.

Menghadapi ancaman invasi penuh dari Indonesia yang semakin nyata, terutama setelah jatuhnya kota-kota perbatasan seperti Balibo dan Maliana, Fretilin mengambil langkah taktis. Merujuk arsip Komisi untuk Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi Timor Leste (CAVR), pada 28 November 1975, di depan Istana Gubernur Dili, mereka memproklamasikan kemerdekaan sepihak Republik Demokratik Timor Leste. Francisco Xavier do Amaral dilantik sebagai Presiden, sementara Nicolau dos Reis Lobato diangkat sebagai Perdana Menteri pertama.

Sebagai Perdana Menteri, Lobato menggalang dukungan internasional, mengirim delegasi diplomatik ke luar negeri, dan menata administrasi dalam negeri. Namun masa jabatannya di ibu kota hanya bertahan sembilan hari.

Pada subuh 7 Desember 1975, langit Dili dipenuhi payung penerjun pasukan Indonesia. Kapal-kapal perang membombardir pantai, dan kota jatuh dalam hitungan jam.

Lobato bersama para pemimpin Fretilin mengevakuasi pemerintahan ke pergunungan. Istrinya, Isabel Barreto, tertangkap di Pelabuhan Dili dan dieksekusi. Kehilangan ini memperkeras hati Lobato.

Ketegangan memuncak pada September 1977. Seturut Mark Selden dan Alvin Y.So dalam buku War and State Terrorism: The United States, Japan, and the Asia-Pacific in the Long Twentieth Century (2003:209), Lobato memerintahkan menangkap dan menahan Xavier do Amaral atas tuduhan pengkhianatan. Ia kemudian mengambil alih kepemimpinan tertinggi sebagai Presiden Fretilin, Presiden Republik, sekaligus Panglima Tertinggi Falintil.

Dari hutan, ia mengorganisasi gerilya, hendak membuktikan kepada dunia bahwa Pemerintah Timor Leste tetap ada meski ibu kota telah diduduki. Lobato menolak tawaran amnesti yang disebarkan lewat selebaran udara. Baginya, kemerdekaan adalah harga mati.

Nanggala 28 dan Perburuan Terakhir

Pada akhir 1978, di bawah komando Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf dan pelaksana lapangan Brigjen Dading Kalbuadi, Operasi Seroja mengubah taktik dengan dukungan pesawat OV-10 Bronco yang dipasok dari Amerika Serikat.

Sejak pertengahan 1978, posisi Lobato mulai teridentifikasi lewat penyadapan komunikasi radio dan laporan intelijen dari anggota Fretilin yang tertangkap atau menyerah. Operasi ini melibatkan unit terbaik Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha), kini Kopassus.

Fokus pengejaran diarahkan ke sektor tengah, meliputi Turiscai, Maubisse, dan Manufahi, wilayah yang diyakini menjadi tempat Lobato memimpin sisa pasukannya setelah jatuhnya basis Gunung Matebian pada November 1978.

“Kekuatan Fretelin semakin mengecil,” kata Brigjen Dading Kalbuadi, dilansir Tempo edisi 3 Juni 1978.

Pasukan yang ditugaskan menutup gerak-gerik mereka adalah unit Nanggala 28, dipimpin perwira muda bernama Prabowo Subianto. Pergerakan mereka dilakukan senyap, memanfaatkan kelelahan pasukan pengawal Lobato yang terus bergerak menghindari pengeboman udara dan blokade logistik yang menimbulkan kelaparan ekstrem.

Kontak senjata pecah pada pagi 31 Desember. Pasukan Indonesia yang unggul dalam logistik, fisik, dan persenjataan, melakukan penyergapan terkoordinasi. Kelompok Lobato terjepit di ceruk Gunung Mindelo.

Pertempuran berlangsung sengit namun tak seimbang. Menurut laporan Kompas edisi 2 Januari 1979 yang bertajuk “Hadiah Tahun Baru: Presiden Fretelin Tertangkap dan Tewas”, Lobato yang bersenjatakan AR-15 terkena tembakan fatal di kaki dan pahanya, 22 orang pengikutnya juga dikabarkan tewas. Beberapa kesaksian menyebut setelah tertembak ia masih berusaha melawan, menolak menyerah hidup-hidup kepada pasukan yang ia lawan selama tiga tahun. Tidak ada bendera putih dikibarkan.

Setelah kontak senjata mereda, pasukan Nanggala 28 mendekati sasaran untuk memastikan identitas. Tubuh kaku yang terbaring itu dikonfirmasi sebagai Nicolau dos Reis Lobato, target utama Operasi Seroja. Berita ini segera dilaporkan lewat radio ke markas komando di Dili dan diteruskan ke Jakarta sebagai hadiah tahun baru bagi pemerintahan Orde Baru.

Jenazah Lobato kemudian diangkut dengan helikopter, meninggalkan para pengikutnya yang tewas dan melarikan diri ke hutan dengan sisa pasukan arahan Xanana Gusmão yang berhasil lolos ke sektor timur.

Setibanya di Dili, jenazah Lobato tidak langsung dimakamkan. Tubuhnya dijadikan tontonan pers dan dokumentasi militer. Foto-foto yang kemudian beredar dan menjadi arsip sejarah yang menyakitkan bagi rakyat Timor Leste, saat jenazahnya diperlihatkan kepada wartawan Indonesia.

Atas perintah otoritas pusat, jasad Lobato diterbangkan ke Jakarta. Alasan pemindahan ini tidak pernah dijelaskan secara terbuka. Spekulasi sejarah menyebutkan untuk identifikasi forensik demi memastikan kepada Presiden Soeharto bahwa itu benar-benar Lobato.

Apa pun alasannya, sejak jenazah itu mendarat di Jakarta, jejak keberadaannya menjadi samar. Tidak ada catatan resmi mengenai lokasi penguburannya. Ada dugaan ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, dengan sandi “62” atau blok khusus yang identitasnya tidak dikenali.

Pemerintah Timor Leste, dari Xanana Gusmão hingga Taur Matan Ruak, terus meminta Indonesia memberikan informasi dan mengembalikan jenazah Lobato. Presiden Francisco Guterres Lu Olo bahkan menegaskan pemulangan kerangka Lobato sebagai prioritas nasional.

Warsa 2003, sebuah tengkorak ditemukan di belakang rumah Mari Alkatiri yang diduga milik Lobato, namun hasilnya tidak jelas. Dalam budaya Timor, jiwa orang mati diyakini tidak akan tenang jika tulang-belulangnya tidak dikembalikan ke tanah kelahiran melalui upacara adat.

Meskipun jasad Nicolau Lobato tak pernah ditemukan, namanya diabadikan pada bandara internasional utama di Dili. Presidente Nicolau Lobato International Airport menyambut setiap orang dengan pengingat akan pengorbanannya. Patungnya berdiri di bundaran Comoro, menjadi pusat upacara kenegaraan setiap 31 Desember, Hari Pahlawan Nasional untuk mengenang gugurnya sang pemimpin.

Baca juga artikel terkait TIMOR LESTE atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi