20 November 1992

Xanana Gusmao: Sahabat yang Dulu Bergerilya Melawan Indonesia

Xanana Gusmao. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 20 November 2019
Dibaca Normal 4 menit
Kini, Xanana Gusmao adalah salah satu pemimpin di Timor Leste dengan sikap yang bersahabat.
tirto.id - "Sebuah persahabatan tidak mengenal batas ruang dan waktu. SBY dan Bapak Xanana Gusmao mempunyai sejarah persahabatan yang cukup panjang, unik dan menarik. Kemarin beliau datang menjenguk saya di NUH, mendoakan untuk kesembuhan saya. Bapak Xanana menunjukkan keakrabannya kepada SBY dan AHY dengan cara yang unik. Pak Xanana memukul-mukul dada AHY bagaikan putranya sendiri. Terima kasih, Bapak Xanana," tulis Ani Yudhoyono di akun Instagram-nya.

Teks itu mengiringi sebuah video yang diunggah istri presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono pada Senin (25/2/2019). Video itu mendokumentasikan mantan presiden pertama Timor Leste Xanana Gusmao yang datang membesuk Ani Yudhoyono di National University Hospital, Singapura, sehari sebelumnya. Ani memang sedang menjalani perawatan karena kanker darah. Pada 1 Juni 2019 Ani Yudhoyono meninggal dunia.


Xanana, yang kini adalah menteri perencanaan dan investasi strategis Timor Leste, punya sejarah panjang berhubungan dengan Indonesia. Ia punya hubungan baik dengan beberapa pemimpin Indonesia seperti Habibie, Gus Dur, Try Sutrisno, dan tentu SBY. Namun, suasana akrab macam itu sungguh sulit dibayangkan terjadi empat dekade silam, pada tahun-tahun awal Indonesia menganeksasi Timor Portugis—kampung halaman Xanana.

Masa Gerilya

Xanana yang lahir pada 20 Juni 1946 di Manatuto, Timor Portugis, itu punya nama lengkap Jose Alexandre Gusmao. Ketika Timor Portugis bergolak pada 1974-1975, Jose Alexandre ikut bergabung dengan Frente Revolucionario de Timor Leste Independente (Fretilin) pimpinan Xavier do Amaral dan Jose Ramos Horta. Fretilin ingin kemerdekaan Timor Leste secara penuh dari Portugis.

Pada 28 November 1975 Fretilin memproklamasikan berdirinya Republik Demokrasi Timor Leste (RDTL). Namun, partai-partai lain di Timor—seperti dua partai besar Uniao Democratica de Timorense (UDT) pimpinan Mario Carascalao dan Associacao Popular Democratica de Timorense (Apodeti) pimpinan Arnaldo Reis Araujo—tak menyetujui proklamasi itu. UDT dan Apodeti lantas membangun kontak dengan elite politik Indonesia dan mengupayakan integrasi.

Berselang dua hari, muncullah Deklarasi Balibo. Partai-partai itu menyatakan pengintegrasian Timor Leste ke Indonesia. Deklarasi Balibo menjadi pembuka jalan bagi militer Indonesia menginvasi Timor Leste. Pada 7 Desember, ABRI melancarkan Operasi Seroja.

“Pada 13 Januari 1976, setelah menduduki Dili, Baucau dan daerah perbatasan, militer Indonesia mendirikan ‘Pemerintahan Sementara’ yang terdiri atas anggota-anggota Apodeti dan UDT. Badan ini kemudian mengundang Indonesia untuk mengumumkan kedaulatannya terhadap Timor Timur,” catat John G. Taylor dalam Perang Tersembunyi: Sejarah Timor Timur yang Dilupakan (1998, hlm. 335).

Aneksasi Indonesia atas Timor Leste kian kukuh dengan terbitnya UU no. 7/1976 yang mengesahkan Timor Timur menjadi provinsi ke-27. Sejak itu, Fretilin menyingkir ke hutan dan melakukan perang gerilya terhadap militer Indonesia. Jose Alexandre sebagai anggota Forcas Armadas de Libertacao Nacional de Timor Leste (Falintil)—sayap militer Fretilin—ikut pula bergerilya di hutan. Ia lalu dikenal dengan nama gerilya Kay Rala Xanana Gusmao.

Merunut sepak terjang Xanana bergerilya adalah menyimak kisah tumbuhnya legenda pejuang kemerdekaan Timor Leste. Dalam periode 1975 hingga 1978, Fretilin terus mengadakan perlawanan terhadap pendudukan ABRI. Namun, usaha itu terus mengalami kemunduran. Sejak akhir 1977, satuan-satuan ABRI telah masuk dan menguasai desa-desa strategis, membuat jalur komunikasi dan gerak Fretilin terpecah-pecah. Setidaknya ada 20.000 pasukan ABRI di Timor Timur kala itu.

Satu per satu pimpinan Fretilin berhasil ditumpas. Pimpinan utama Fretilin Xavier do Amaral tertangkap pada Agustus 1978. Penggantinya, Nicolao dos Reis Lobato, juga terbunuh pada Desember 1978. Begitu juga Wakil Presiden Fretilin Mau Lear dan Perdana Menteri Vicente Sa’he, mangkat sebulan kemudian.

“Ini semua terjadi meskipun Suharto telah memberikan janji amnesti bulan Agustus 1977, yang diumumkan lewat ribuan selebaran yang disebarkan dari udara ke seluruh penjuru Timor Timur tahun 1978,” tulis Taylor (hlm. 175).

Taylor juga mencatat (hlm. 356), sejak Operasi Seroja bergulir hingga November 1977, sekira 100 ribu orang tewas akibat invasi ABRI. Bukannya melemahkan, kondisi ini justru semakin memperkeras perlawanan Fretilin.

Xanana sebagai salah satu dari sedikit pucuk pimpinan Fretilin yang bertahan lantas dipilih menjadi presiden partai pada awal 1979. Seturut keterangan Paulino Gama, mantan komandan Falintil, Fretilin di bawah Xanana mulai menanggalkan pendekatan radikalnya. Mereka juga mulai mengkampanyekan kemerdekaan Timor Timur sebagai cita-cita nasional, bukan sekadar milik Fretilin.

“Lebih jauh lagi, sejak 1987, Falintil, untuk kepentingan nasional, telah berganti nama menjadi Angkatan Bersenjata Pembebasan Nasional, sehingga tidak lagi berfungsi sebagai sayap bersenjata dari Fretilin dan menjadikan dirinya sebagai tentara yang benar-benar nasional dan non-politik,” aku Gama sebagaimana tersua dalam East Timor at the Crossroads yang disuntin Peter Carey dan G. Carter Bentley (1995, hlm. 104).

Seturut pengakuannya yang dikutip harian Kompas (7/2/1999), sejak 1987 pula Xanana keluar dari Fretilin. Ia lalu mendirikan dan menjadi ketua National Council of Maubere Resistance (CNRM). Meski begitu, ia tetap bergerilya di hutan.

Pemimpin Humanis

Di mata ABRI dan orang Timor pro-integrasi, Xanana adalah gembong Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK). Posisinya sebagai pemimpin pejuang kemerdekaan Timor Leste membuat ABRI menempatkannya sebagai incaran nomor satu. Berkali-kali ia terlibat kontak senjata dengan ABRI, berkali-kali pula ia lolos.

Meski hubungan Xanana dan TNI adalah buronan dan pemburu, kenyataan itu tak jua melunturkan sikap humanis Xanana. Ia tetap bersikap baik terhadap tahanannya, TNI sekalipun. Ia seakan ingin menunjukkan bahwa ia dan pejuang kemerdekaan lainnya bukanlah kelompok buas seperti tudingan orang.

Cerita itu datang dari Jose da Conceicao, mantan anggota Fretilin. Ketika perang antara TNI dan Fretilin sedang gencar-gencarnya pada 1977-1978, Xanana melarang anak buahnya membunuh tawanan. Jika yang tertangkap adalah rakyat biasa, Xanana menyuruh mereka dibebaskan.

"Xanana malah memberi pengarahan pada rakyat yang ditawan dan malah membebaskannya. Semua rakyat dikembalikan ke rumah masing-masing," tutur Conceicao seperti dikutip harian Kompas (2/4/1993).

Tawanan dari ABRI pun diperlakukan dengan baik oleh Xanana. “Misalnya, ketika terjadi pertempuran di gunung Matabean (Viqueque), seorang anggota ABRI Sersan Eddy tertembak kakinya. Kemudian Eddy ditangkap hidup-hidup dan disembunyikan di gua. Di dalam gua itu, Xanana malah mengobatinya dengan ramuan tradisional," tutur Conceicao lagi.

Kualitas macam itulah yang membuat Xanana disegani rakyat Timor Timur. Kualitas diri dan kegigihannya melawan represi membuat gerakan pro-kemerdekaan punya napas panjang. Padahal, dalam hal kualitas personel dan persenjataan, ia kalah dari TNI.



Namun, sepandai-pandainya tupai meloncat, sekali waktu ia jatuh juga. Pada 20 November 1992, tepat hari ini 27 tahun lalu, Xanana diringkus pasukan Kopassus di sebuah rumah persembunyian di desa Lahane. Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal L.B. Moerdani berusaha mendelegitimasi ketokohan Xanana.

"Penangkapan itu tidak perlu dibesar-besarkan. Jangan dianggap dia itu pahlawan gede dan nilainya tidak perlu dibesar-besarkan. Ia hanyalah seorang kriminal, pencoleng di pinggir jalan yang melakukan tindakan-tindakan subversif," kata sang jenderal, sebagaimana dikutip Kompas (26/11/1992).

Namun, tertangkapnya Xanana tak membuat Fretilin dan Falintil segera lumpuh. Tak seperti pada 1978 kala Fretilin berjuang sendiri dan tercerai-berai dihajar TNI, semangat kemerdekaan pada awal 1990-an sudah menjadi semangat komunal orang Timor Timur.

Dalam sebuah petikan wawancara Xanana dengan wartawan The Age Robert Domm yang dikutip dalam East Timor at the Crossroads (hlm. 16), Xanana saat itu lebih percaya diri karena semangat kemerdekaan itu sudah mengakar di kalangan anak muda Timor Leste. Gerakan pro-kemerdekaan sudah punya penerus.

“Kita tahu kita tak bisa berharap menang secara militer, tetapi perlawanan bawah tanah lebih aktif hari ini daripada yang pernah terjadi selama perang lima belas tahun terakhir. Ada kelompok-kelompok terorganisir di setiap desa dan pemuda sekarang merasa terlibat dalam perjuangan kemerdekaan [... J]ika orang Indonesia mengira perang berakhir dengan membasmi Falintil, mereka sangat keliru,” tegas Xanana.

Meskipun bertahun-tahun terlibat perang dengan ABRI, ditangkap, dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara, toh Xanana tak kehilangan objektivitas. Perangnya adalah melawan pendudukan atas Timor Timur, bukan terhadap bangsa Indonesia.

“Kami bukan tidak suka kepada bangsa Indonesia. Kalau kita lihat, selalu ada salah pendekatan dari Indonesia. Saya sudah katakan di pembelaan saya di PN Dili dulu, semua pembangunan di Timtim tidak mengambil hati kami,” kata Xanana dalam wawancaranya yang tayang di Kompas (7/2/1999).

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 28 Februari 2019. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight