Menuju konten utama

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 4,23 Miliar Dolar AS pada Juli

BPS mencatat neraca dagang Indonesia surplus sebesar 4,23 miliar dolar AS pada Juli 2022.

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 4,23 Miliar Dolar AS pada Juli
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (15/10/2020). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/nz.

tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca dagang Indonesia surplus sebesar 4,23 miliar dolar AS pada Juli 2022. Hal itu terjadi akibat nilai ekspor lebih tinggi sebesar 25,57 miliar dolar AS dibandingkan dengan impor 21,35 miliar dolar AS.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto menuturkan jika melihat tren neraca perdagangan Indonesia hal ini menjadi daftar panjang capaian surplus selama 27 bulan secara berturut sejak Mei 2020.

"Jadi 27 bulan berturut kita selalu surplus neraca perdagangan Indonesia," katanya dalam Rilis BPS di Kantornya, Jakarta, Senin (15/8/202).

Dia merinci surplus neraca perdagangan Juli 2022 banyak ditopang oleh komoditas non migas mencapai 7,31 miliar dolar AS. Surplus ini utamanya untuk komoditas bahan bakar mineral dengan HS 27, lemak dan minyak hewan nabati HS 15, dan bijih, kerak serta abu logam HS 26.

"Sementara untuk migas kita alami defisit 3,08 miliar dolar AS, ini komoditasnya antara lain minyak mentah dan hasil minyak," ungkapnya.

Lebih lanjut, berdasarkan negara surplus neraca perdagangan Indonesia terbesar pada bulan lalu masih didominasi oleh Amerika Serikat sebesar 1,64 miliar dolar AS. Surplus berasal dari ekspor 2,50 miliar dolar AS dan impor 863 juta dolar AS.

"Ini utamanya untuk komoditas lemak minyak hewan nabati HS 15, kemudian pakaian dan aksesorisnya HS 61, dan mesin perlengkapan elektrik serta bagiannya ini kode HS 85," bebernya.

Surplus kedua terbesar diikuti oleh Rusia sebesar 1,62 miliar dolar AS. Berasal dari nilai ekspor 2,26 miliar dolar AS dan impornya 642 juta dolar AS.

"Ini utamanya untuk bahan bakar mineral lemak dan biji hewan nabati, bijih logam kerak dan abu," katanya

Lalu Filipina menjadi negara ketiga terbesar dengan surplus 1,08 miliar dolar AS. Ini berasal dari nilai ekspor 1,22 miliar dolar AS dan impornya 134 juta dolar AS.

"Ini utamanya adalah bahan bakar mineral, kendaraan dan bagiannya, lemak dan minyak hewan atau nabati," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait NERACA PERDAGANGAN INDONESIA atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - News
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Intan Umbari Prihatin