Menuju konten utama

Negosiasi dengan Cina, Rosan Minta Reformasi Utang Kereta Cepat

Dengan reformasi utang ini, ke depannya tidak akan mungkin lagi terjadi default utang alias gagal bayar.

Negosiasi dengan Cina, Rosan Minta Reformasi Utang Kereta Cepat
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani memaparkan realisasi investasi triwulan II 2025 di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Selasa (29/7/2025)ANTARA FOTO/Fauzan/YU

tirto.id - CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan P Roeslani, mengungkapkan saat ini Indonesia sedang melakukan negosiasi dengan pemerintah Cina terkait restrukturisasi utang PT Kereta Cepat Indonesia Cina alias KCIC untuk proyek Kereta Cepat Whoosh.

Meski begitu, Rosan berharap The National Development and Reform Commission (NDRC) -perwakilan pemerintah Tiongkok yang terlibat dalam pembahasan pembengkakan biaya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dapat merofarmasi utang KCIC.

"Sedang berjalan (diskusi) dengan pihak Cina, baik dengan pemerintah Cina juga dengan NDRC. Itu sedang berjalan. Untuk kita, kalau saya sampaikannya, kita maunya bukan restrukturisasi yang sifatnya kemungkinan potensi problemnya itu masih ada. Jadi, kita mau melakukan reformasi secara komprehensif, secara keseluruhan," tutur Rosan, kepada awak media, di JICC, Jakarta Pusat, Rabu (8/10/2025).

Dengan reformasi utang ini, ke depannya tidak akan mungkin lagi terjadi default utang alias gagal bayar.

"Jadi, begitu kita restrukturisasi, ke depannya tidak akan terjadi lagi hal-hal seperti ini, seperti kemungkinan default dan yang lain-lainnya," tambahnya.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu mengaku belum bisa menjelaskan lebih lanjut proses restrukturisasi utang Kereta cepat. Hanya saja, ia memastikan pembahasan restrukturisasi utang akan rampung segera.

"Di sana nanti belum ada kesepakatannya. Biar ini kita selesaikan dulu, nanti paling kita sampaikan secara terbuka, ujar Rosan.

Di sisi lain, Rosan juga yakin rencana restrukturisasi utang Kereta cepat tidak akan berpengaruh pada proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya yang tengah dibahas pula oleh pemerintah. Meski begitu, agar tidak mengulang kesalahan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Bos Danantara itu berpesan agar pembangunan proyek dirancang dengan matang, sehingga bisa benar-benar berkelanjutan.

"Mungkin ini lebih banyak domainnya ke Pak Menko AHY, mungkin dia akan menyampaikan lebih detil lagi. Tapi, intinya kalaupun ini yang Jakarta-Surabaya dilaksanakan, strukturnya itu adalah struktur yang benar-benar sustainable," lanjut dia.

Perlu diketahui, utang KCIC terlihat dalam laporan keuangan KAI per 30 Juni 2025 (unaudited), anak usaha KAI yang memegang saham Mayoritas dari KCIC, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) tercatat merugi Rp4,195 triliun di sepanjang 2024. Kemudian, pada semester I 2025, PSBI kembali mencatatkan kerugian Rp2,377 triliun.

Selain itu, proyek ini juga mendapatkan pinjaman dari China Development Bank (CDB) untuk menutup cost overrun atau bengkak proyek Kereta Cepat sebesar Rp 6,98 triliun atau hampir Rp 7 triliun.

Baca juga artikel terkait ROSAN ROESLANI atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra