Menuju konten utama

Rosan Bidik Transaksi Dagang RI-Eropa Capai US$60 Miliar di 2030

Capaian target ambisius ini sangat bergantung pada percepatan ratifikasi IEU-CEPA.

Rosan Bidik Transaksi Dagang RI-Eropa Capai US$60 Miliar di 2030
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani memaparkan realisasi investasi triwulan II 2025 di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Selasa (29/7/2025)ANTARA FOTO/Fauzan/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menargetkan nilai perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa dapat meningkat dua kali lipat menjadi 60 miliar dolar AS dalam lima tahun ke depan. Optimisme ini disampaikan seiring dengan upaya finalisasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif IEU-CEPA.

Dalam paparannya, Rosan mengungkapkan bahwa nilai perdagangan yang saat ini berada di angka 31 miliar dolar AS pada tahun 2024 memiliki potensi besar untuk berkembang pesat. "Targetnya dari 31 miliar dolar AS di tahun 2024 ini diharapkan menjadi double, menjadi 60 miliar dolar AS pada tahun 2030," ujarnya usai Peluncuran EU Investment Desk di Kantor Kementerian Investasi/BKPM, Jakarta, Selasa (30/9/2025).

Pencapaian target ambisius ini, menurut Rosan, sangat bergantung pada percepatan ratifikasi perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Ia menekankan pentingnya proses ratifikasi yang cepat agar kesepakatan dapat segera berlaku efektif.

"Itu yang kita harapkan dengan adanya IEU-CEPA yang memang sudah difinalisasi, tapi kan harus ada ratifikasinya. Ratifikasinya ini yang kelihatannya kita ingin terus dorong supaya bisa lebih cepat," ucapnya.

Rosan meyakini bahwa dengan adanya perjanjian perdagangan bebas ini, arus barang dan investasi antara Indonesia dan Uni Eropa akan mengalami peningkatan signifikan.

Selain sektor perdagangan, Rosan juga menyoroti potensi pertumbuhan investasi dari Uni Eropa yang ditargetkan dapat meningkat dari rata-rata 15 persen menjadi 18-20 persen per tahun.

Beberapa sektor yang menjadi prioritas antara lain energi terbarukan dan kesehatan, yang dinilai masih memiliki ruang perkembangan yang besar di Indonesia.

“Ternyata appetite-nya itu sangat-sangat besar. Makanya tadi saya singgung, terutama mengenai renewable energy dan juga kesehatan. Itu juga salah satu industri yang memang kita cukup tertinggal di healthcare industry,” tambahnya.

Untuk mendukung target ini, Rosan mengaku telah melakukan serangkaian pembicaraan intensif dengan perwakilan Uni Eropa, termasuk dengan Duta Besar Uni Eropa dan seluruh duta besar negara anggota, serta dengan pelaku sektor swasta.

Adapun, nilai investasi Uni Eropa ke Indonesia sepanjang 2020 hingga 2025 mencapai 13,7 miliar dolar AS dan berkontribusi pada penciptaan 220.000 lapangan kerja.

Senior Trade and Investment Expert, EU Investment Desk at BKPM, Carmelo Ferlito, dalam kesempatan yang sama mengungkapkan bahwa keberadaan EU Investment Desk berfungsi sebagai unit layanan terpadu bagi para investor dari kawasan Eropa.

Layanan ini dirancang untuk memandu investor dalam memasuki pasar Indonesia melalui berbagai fasilitas. "Kami hadir sebagai unit dukungan one-stop service bagi investor Eropa dengan perspektif bimbingan masuk pasar, identifikasi proyek, pemadanan (matchmaking), umpan balik kebijakan," katanya.

Tidak hanya itu, unit ini juga berperan dalam membangun pusat pengetahuan dengan menyediakan data, survei, dan analisis terkait perdagangan dan investasi antara Uni Eropa dan Indonesia.

Fokus sektor yang menjadi prioritas mencakup energi bersih, ekonomi digital, agri-pangan, ekonomi sirkular, kesehatan, farmasi, serta pendidikan dan keterampilan.

Keberadaan EU Desk disebut sejalan dengan Visi Emas Indonesia 2045 dan Tujuan Berkelanjutan Uni Eropa. Meski baru resmi diluncurkan, aktivitasnya telah berjalan tiga bulan sebelumnya dengan melayani sejumlah perusahaan Eropa.

“Kami bukan pemula dalam inisiatif ini. Misi kami dimulai sebelum peluncuran ini, tiga bulan lalu, dan meja ini telah aktif dan melibatkan perusahaan-perusahaan Eropa,” ucapnya.

Baca juga artikel terkait PERDAGANGAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana