tirto.id - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal damai terbaru yang diajukan Iran.
Trump bahkan menyebut kesepakatan gencatan senjata berada dalam kondisi sangat rapuh. Benarkah Trump akan lancarkan serangan besar-besaran ke Iran?
Donald Trump kembali mempertimbangkan opsi militer setelah menilai bahwa pembicaraan diplomatik dengan Iran tidak menghasilkan kemajuan yang berarti.
CNN Internasional pada Selasa (12/5/2026) menyebutkan bahwa pemerintahan Donald Trump tengah meninjau kembali opsi untuk melanjutkan tekanan terhadap Iran, termasuk kemungkinan melanjutkan operasi militer jika jalur diplomasi benar-benar menemui jalan buntu.
Trump dilaporkan telah beberapa kali menggelar pertemuan dengan tim keamanan nasional di Gedung Putih untuk membahas langkah selanjutnya, di tengah proses negosiasi yang dianggap stagnan.
Trump juga menegaskan bahwa gencatan senjata saat ini berada dalam kondisi sangat lemah dan tidak stabil, sehingga membuka kemungkinan perubahan kebijakan secara cepat.
“(kesepakatan itu sekarang) sangat lemah. Yang terlemah saat ini setelah membaca selembar kertas sampah yang mereka kirimkan kepada kami," ungkap Trump dikutip NPR (12/5/2026).
"Bahkan tidak selesai membaca. Apakah saya akan membuang waktu saya untuk membacanya? Saya akan mengatakan itu salah satu yang terlemah saat ini. Itu dalam kondisi kritis... Saya akan mengatakan gencatan senjata berada dalam kondisi kritis," tegasnya.
Iran Ancam Tingkatkan Uranium Hingga 90 Persen Jika AS Kembali Menyerang
Di sisi lain, Iran tetap menolak sejumlah usulan dari Amerika Serikat dan menilai proposal AS yang ditawarkan tidak dapat diterima karena dianggap tidak menghormati kepentingan serta kedaulatan nasional mereka.
Melalui pernyataan resmi dari juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen, Ebrahim Rezaei, menyampaikan peringatan keras bahwa Teheran dapat meningkatkan tingkat pengayaan uranium hingga 90 persen jika kembali menjadi sasaran serangan.
“Salah satu opsi Iran jika terjadi serangan lain adalah pengayaan uranium hingga 90 persen. Kami akan membahasnya di parlemen,” tulis Rezaei di akun X @EbrahimRezaei14 pada 12 Mei 2026.
Tingkat pengayaan tersebut secara internasional dikenal sebagai level yang mendekati bahan baku senjata nuklir, sehingga pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan komunitas global.
Rezaei juga menyampaikan bahwa opsi tersebut sedang dipertimbangkan di parlemen Iran sebagai bagian dari respons Iran apabila situasi keamanan negara kembali memburuk akibat konflik bersenjata.
Dikutip dari laman Union of Concerned Scientist, uranium yang disebut weapons-grade HEU biasanya diperkaya hingga sekitar 90 persen U-235 atau lebih, yang merupakan tingkat yang paling umum dikaitkan dengan bahan baku senjata nuklir.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































