Menuju konten utama

Moncer karena Olahraga, Tersingkir di era Soeharto

Maladi pernah jadi pengurus PSSI, menjadi tentara di masa revolusi, dua kali mencicipi jabatan bergengsi sebagai menteri. 

Moncer karena Olahraga, Tersingkir di era Soeharto
R. Maladi. [Gambar/Sabit]

tirto.id - Pada 4 Agustus 1964, Presiden Sukarno hadir dalam Kongres PSSI yang berlangsung di Stadion Utama Senayan. Dengan persistensi yang jelas dan yakin, Bung Karno berkata:

“Maka oleh karena itu saudara-saudara, saja tempo hari membentuk Departemen Olahraga. Dan Pak Maladi kudjadikan Menteri Departemen Olahraga itu. Dan tugas jang kuberikan kepada Pak Maladi sebagai Menteri Olahraga ialah, buatlah bangsa Indonesia berolahraga missal dari rakjat jang paling rendah sampai rakjat jang paling tinggi. Dikota-kota, didesa-desa, dipelosok-pelosok, dilereng-lereng gunung, dipesisir-pesisir, semua rakjat Indonesia harus berolahraga. Itu satu djalan agar supaja kita mendjadi bangsa jang kuat badan,” pidato ini diucapkan secara menggebu-gebu oleh Presiden Sukarno pada Kongres PSSI di Gelora Bung Karno, 4 Agustus 1964.

Maladi. Pak Maladi. Siapa dia? Saat ini, insan olahraga di Indonesia belum terlalu mengenal namanya. Ia hanya dikenal sebagai mantan kiper tim nasional sepakbola pada era 1930-an. Tidak lebih. Tidak kurang.

Padahal peran Maladi terhadap perkembangan olahraga di Indonesia amatlah vital. Dialah konseptor yang menyeru-nyeru betapa pentingnya olahraga sebagai pondasi sebuah bangsa.

“Dan tiap orang melihat, bahwa pak Maladi betul-betul berjasa dalam hal ini. Kau tahu, Pak Maladi itu makan malam jam berapa? Jam satu? O, tidak. Jam satu malam itu Pak Maladi masih menulis, masih membikin surat, masih ini, masih itu, makan malam itu jam empat pagi, Saudara-saudara. Lho, itu orangnya dia kerja keras membuat rakyat Indonesia menjadi sport-minded,” kata Sukarno memuji Maladi.

Raden Mas Maladi dilahirkan di Matesih, Karanganyar, di kaki Gunung Lawu, Surakarta, Jawa Tengah, pada 31 Agustus 1912. Ia wafat di Jakarta pada 30 April 2001 dalam usia 89 tahun.

Maladi lahir dari keluarga priyayi. Menurut Auliya Urokhim, mahasiwa pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) yang intens meneliti kiprah Maladi, ia adalah anak Hendrohadisoewajo, seorang mantri turunan bangsawan Solo. Ibunya, Siti Khadijah, masih satu garis keturunan dengan Bupati Sosroningrat, ayahanda R.A. Kartini. Maladi dengan demikian merupakan keponakan Kartini.

Namun arsip yang saya memperlihatkan data berbeda. Pada De Indische Courant edisi 17 Desember 1925, dalam sebuah pengumuman daftar penumpang kapal yang akan berangkat ke Rotterdam, dicantumkan bahwa Maladi adalah anak dari Pangeran Harjo Mataram dan Ratu Halit.

Pada 24 Juni 1930, sebuah iklan ucapan selamat kepada Maladi yang baru menyelesaikan sekolah muncul di koran Soerabaijasch handelsblad. Kata-kata yang tersusun pada ucapan selamat itu juga menyebut Maladi adalah putra Pangeran Ario Mataram dan Ratu Alit.

Masih jadi teka-teki siapa orang tua Maladi yang sebenarnya. Sulit mencari kajian tertulis mengenai kehidupan Maladi. Auliya Urokhim mengakui bahwa lembaga olahraga pemerintah, dari Kementerian Pemuda Olahraga, KONI, KOI dan PSSI, abai terhadap peran dan jasa Maladi. Ironis jika melihat statusnya sebagai kiper tim nasional, pejuang kemerdekaan, Menteri Penerangan dan Menteri Olahraga di era Sukarno, ketua PSSI hingga sebagai komponis lagu keroncong.

Perjalanan Maladi di dunia olahraga berawal saat dia jadi meniti karier sebagai pemain sepakbola. Ketika bond-bond pribumi bermunculan dan sepakat membentuk PSSI pada 28 April 1930, Maladi sudah bergabung dengan PSIM Jogjakarta. Meski begitu, karena berstatus sebagai priyayi, ia masih tetap bisa bermain untuk klub Belanda, VOICE, sampai 1936. Maladi masuk dalam skuat timnas pertama bentukan PSSI pada 1937. Dia menjadi kapten tim PSSI melawan klub asal Cina, Nan Hwa, di Semarang.

Pada periode 1930-an, terjadi kisruh yang cukup hebat dalam tubuh PSSI. Kisruh berlangsung antara pengurus PSSI dari Jogjakarta dan pengurus dari Solo. Perpecahan ini sampai melahirkan dualisme federasi dengan kemunculan PSSI tandingan yakni PORSI yang digagas oleh orang-orang PSIM. Di sisi lain PSSI pun membentuk PSIM tandingan yang diberi nama Persim Mataram.

Kegaduhan ini berakhir lewat kepindahan kantor PSSI dari Jogjakarta ke Solo. Pada periode inilah Maladi mulai berpolitik. Faktor kedekatan dan darah Solo yang mengalir di dirinya membuat Maladi meninggalkan PSIM dan merapat ke Persis Solo. Dekat dengan petinggi-petinggi di Solo membuat kariernya di PSSI melejit. Pada umur 20-an, selain sebagai pemain, dia pun sudah masuk sebagai pengurus PSSI.

Auliya menyebut Soeratin, pendiri dan ketua umum PSSI pertama, memang mempersiapkan Maladi untuk jadi Ketua PSSI selanjutnya. Selain sebagai pemain, Maladi pun punya darah bangsawan dan terhitung kaum terdidik, tidak heran jika Soeratin memilih Maladi.

Dan benar saja! Setelah PSSI bangkit kembali pada 1950an setelah vakum karena pendudukan Jepang dan masa revolusi, Maladi akhirnya naik ke tampuk kekuasaan tertinggi PSSI.

Selama periode revolusi, Maladi memilih menjadi tentara dan diberi tugas sebagai kepala penerangan Markas Besar Komando Jawa dan mendapat pangkat tituler Mayor. Maladi sukses memelihara hubungan radio dengan Sumatera. Ia juga yang memastikan laporan dari Jawa dapat diterima delegasi RI di Konferensi Asia yang khusus membahas Indonesia di New Delhi. Delegasi dipimpin oleh A.A. Maramis.

Kesuksesan mengemban tugas inilah yang membuatnya diangkat Sukarno sebagai Direktur RRI pada 1949. Pada akhir dekade 40-an, selain aktif mendatangi wilayah-wilayah gerilya Maladi tetap giat mengurusi dunia olahraga.

Pada 1948, misalnya, dia diberi tugas untuk terbang ke London bersama Sultan Hamengkubuwono IX dan Azis Saleh untuk melobi keikutsertaan Indonesia di Olimpiade 1948 London. Jika Indonesia diterima bertanding di Olimpiade, maka ini akan menjadi kemenangan diplomatis karena Belanda masih juga belum sudi mengakui kedaulatan Indonesia.

Keinginan untuk berpartisipasi ini ditolak lantaran Indonesia belum masuk jadi anggota PBB. Penolakan di London akhirnya membuat Maladi dkk., menggagas penyelenggaraan PON untuk pertama kalinya di Solo.

Infografik Maladi

Keaktifan Maladi di olahraga membuatnya aktif terlibat di PORI. Pada Desember 1949, PORI berencana mengaktifkan PSSI kembali. Alhasil dibentuklah kepengurusan sementara dengan menunjuk Maladi sebagai Ketua Harian. Jabatan ini dipegang Maladi hingga Kongres PSSI digelar di Semarang pada 1950. Dalam kongres di Semarang, Maladi akhirnya kembali terpilih sebagai ketua umum PSSI permanen.

Di awal kepemimpinannya ini, Maladi mengubah kepanjangan PSSI yang semula Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia (PSSI) menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Alasannya klasik, sepakraga mengacu olahraga yang berkaitan dengan kaki, sedangkan sepakbola lebih rinci karena menyangkut sepak dan bola yang sejalan dengan terjemahan bahasa Inggris, “football”.

Maladi menjadi ketua PSSI terhitung dari 1950-1959. Selain aktif di PSSI dia pun terlibat aktif di kepengurusan KOISelain aktif di PSSI dia pun terlibat aktif di kepengurusan KOI dan menjabat sebagai bendahara. Pada dekade 1950-an, Indonesia sedang membangun pondasi olahraga yang kuat dan Maladi turut andil merumuskannya.

Di PSSI, dia sadar bahwa Indonesia membutuhkan bantuan asing. Untuk menyambut Asian Games 1951 di India, dia mendatangkan Choo Seng Que dari Singapura. Setelah itu, Maladi pun membawa Toni Pogacnik dari Yugoslavia untuk menangani timnas. Toni adalah peletak dasar perkembangan taktik sepakbola modern di Indonesia.

Maladi memberi keleluasaan bagi Toni untuk bereskperimen, mulai dari blusukan ke daerah-daerah sampai membawa pemain timnas beruji tanding keliling Eropa. Di era 1950-an inilah Indonesia dijuluki Macan Asia. Selain mampu lolos ke perempatfinal Olimpiade, sepakbola kita pun mampu merebut medali perunggu di ajang Asian Games 1958, pencapaian yang tak pernah dapat diulang hingga sekarang.

Dalam konteks olahraga keseluruhan, sebagai pengurus KOI, Maladi menggagas adanya pemusatan latihan nasional alias pelatnas. Selain itu dia juga menjadi inisiator berdirinya sekolah-sekolah berbasiskan olahraga.

Dalam konteks internasional, Maladi juga pelobi yang handal. Dia yang membuat Indonesia berhasil diterima FIFA. Dia pula yang jadi negosiator pengajuan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 1962 dan Ganefo 1964 di Jakarta.

Tidak hanya sebatas lobi, Maladi pun bertanggung jawab agar Indonesia sukses secara prestasi. Pada Mei 1958, setelah Indonesia resmi menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Maladi ditunjuk sebagai Dewan Asian Games Indonesia (DAGI).

Organisasi ini diberi beban membikin cetak biru pelaksanaan Asian Games, termasuk fasilitas penunjang bagi atlet. Alasil pembangunan infrastruktur mulai dilakukan. Hotel Indonesia, Transit Hotel di Kemayoran, pembangunan jalan-jalan baru, pembangunan terminal di Kemayoran dan siaran televisi perdana (TVRI) tak lepas dari peran Maladi.

Keberhasilan Maladi adalah upayanya membangun kompleks olahraga di Senayan beserta fasilitas pendukungnya yang wah. Tidak hanya bergantung pada bantuan APBN dan asing, Maladi mencari cara menutupi biaya pembangunan-pembangunan itu dengan berbagai macam cara. Di antaranya dengan usaha membuat perangko, totalisator (sejenis judi) di pertandingan sepakbola dan pacuan kuda, serta sumbangan dari daerah dan lain sebagainya.

Tak hanya sukses penyelenggaraan, Auliya menuturkan banyak program yang dibuat Maladi di PSSI kemudian diterapkan di DAGI. Salah satu di antaranya adalah gerakan olahraga massal, perlengkapan fasilitas olahraga untuk pencarian bakat, pendidikan pelatih, mendatangkan pelatih asing, memberikan pengalaman internasional kepada atlet, latihan-latihan khusus dengan mengadakan pemusatan latihan di pusat maupun di daerah.

“Semuanya dilaksanakan dengan waktu yang tidak banyak, yaitu hanya 3 tahun, sejak 1959 hingga menjelang Asian Games tahun 1962,” kata Auliya Urokhim.

Dalam konteks pembinaan dan pencarian bakat, Maladi tidak hanya sekadar blusukan tapi juga mengintruksikan tiap daerah tingkat I dan II untuk membentuk Panitia Bibit Propinsi (PBP) dan Panitia Bibit Kabupaten (PBK). Pada perkembangannya, nama-nama tersebut diubah menjadi Badan Persiapan Tim Indonesia Daerah (BATIDA) BATIKA, BATIKO untuk Kabupaten dan Kotapraja.

Pada masa-masa persiapan Asian Games 1962 ini, posisi Maladi menjabat sebagai Menteri Penerangan Kabinet Kerja I (10 Juli 1959-18 Februari 1960) dan Kabinet Kerja II (18 Februari 1960-6 Maret 1962).

Enam bulan jelang pelaksanaan Asian Games, Maladi kemudian diangkat oleh Sukarno menjadi Menteri Olahraga. Dalam konteks olahraga, Sukarno sudah percaya betul kepada Maladi. Puji-pujian Sukarno pada Maladi seperti di awal tulisan ini menjadi penegas.

Saat jadi Menteri Olahraga, Maladi dan Sukarno mencanangkan gagasan olahraga Indonesia harus masuk 10 besar dunia. Untuk melangkah ke sana tentu dia tak bisa menyandarkan diri pada mimpi yang muluk-muluk. Maladi menyusun program jangka panjang selama 10 tahun.

"Cara melaksanakan program 10 tahun harus kita sesuaikan dengan realitas objektif revolusi masyarakat Indonesia dan janganlah kita berpegang kepada dogma-dogma, teori-teori, cara-cara dari negara-negara lain manapun atau dengan keadaan historis masa lampau di negara kita sendiri," kata Maladi dalam Kongres PSSI 1965.

Untuk mencapai 10 besar dunia itu, Maladi membangun kurikulum program olahraga karya pelajar yang dia terapkan di sekolah-sekolah. Program ini merancang pengembangan olahraga sebagai rencana yang tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Sayangnya program ini terhenti karena Sukarno lengser sebagai presiden pada 1967.

Saat Soeharto naik, Maladi yang dikenal sebagai tangan kanan Sukarno di bidang olahraga otomatis ikut disingkirkan dan tersingkirkan.

Baca juga artikel terkait PAHLAWAN atau tulisan lainnya dari Zen RS

tirto.id - Humaniora
Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Zen RS
Editor: Zen RS