Bang Pi'ie, Sang Jawara yang Jadi Menteri

Oleh: Arbi Sumandoyo - 6 November 2016
Dibaca Normal 6 menit
Nama Imam Syafei tak tersohor seperti pahlawan kebanyakan. Karena menjadi loyalis Sukarno, dia pun dituding Komunis semasa Orde Baru. Nama Bang Pi’ie pun dihilangkan dari sejarah kemerdekaan.
tirto.id - Lelaki itu bernama lengkap Imam Syafei. Dia lahir di Kampung Bangka, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 27 Agustus 1918. Namanya pernah mengisi Kabinet Seratus Menteri era pemerintahan Presiden Sukarno. Jabatannya mentereng, Menteri Urusan Keamanan Rakyat.

Sayang sepak terjang perjuangan Bang Pi’ie, begitu Imam Syafei dikenal, tak banyak dicatat dan diingat. Dalam buku-buku sejarah beredar, Bang Pi’ie disebut tak bisa membaca dan menulis, bahkan dia disebut sebagai ketua komplotan para copet Pasar Senen. Cerita itu dibentuk ketika rezim otoriter Orde Baru berkuasa. Untuk membunuh karakter Bang Pi’ie, dia dituding komunis karena dianggap dekat dengan mendiang Sukarno.

“Mendiang orang tua saya lahir di Bangka,” ujar Edi Syafei, putra Imam Syafei dari istrinya yang ke-4 saat berbincang dengan tirto.id, Senin lalu. Bang Pi’ie semasa hidup memilik lima istri. Perkawinan dengan kelima isterinya itu dianugerahi 16 orang anak. Sepuluh anak laki-laki dan enam anak perempuan.

Sejarah karier Bang Pi’ie memang bermula dari jalanan. Tepatnya ketika mendiang ayahnya, Mugeni, meninggal setelah dihabisi adik seperguruannya bernama Ayub, yang kala itu ingin menguasai daerah Senen. Menjadi anak yatim di usianya yang baru empat tahun membuat pola pikir Bang Pi’ie tak seperti usia anak kebanyakan.

Menurut Edi, sepeninggal mendiang ayahnya, Syafei kecil kemudian dititipkan kepada seorang ulama tersohor dari Kebon Nanas, Jakarta Timur, bernama Habib Qodir Al-Hadad. Dari Habib Qodir Al Hadad, Bang Pi’ie kecil banyak mendapatkan pelajaran, termasuk ilmu agama, juga ilmu bela diri.

“Dia dipersiapkan buat membalas kematian mendiang kakek saya, Mugeni,” ujar Edi. Mendiang kakeknya, Mugeni, kata Edi, merupakan jawara Pasar Senen kala itu. Dia memiliki ilmu bela diri rawa rontek. Buat menghabisi Mugeni, Ayub menebaskan golok ketika Mugeni berada di atas rakit.

Hingga akhirnya, Syafei dititipkan pada bibinya bernama Zaenab, seorang pedagang di Pasar Senen. Dari sana, Bang Pi’ie mulai mengkoordinir anak-anak seusianya. Di usia belasan, Bang Pi’ie mengkoordinir anak-anak seumuran untuk mengumpulkan beras dan juga sayur-sayuran dari Pasar Senen. Tujuan Bang Pi’ie adalah memberi makan ibu dan kedua adiknya. Karena dianggap mencuri, Bang Pi’ie dijebloskan di LOG tahanan khusus anak-anak yang dibuat Belanda.

Di dalam penjara, nama Bang Pi’ie juga tak kalah kesohor. Dia mengalahkan penguasa LOG dalam perkelahian. Cukup waktu beberapa menit bagi Bang Pi’ie mengalahkan penguasa penjara anak Tangerang dari suku Ambon kala itu. Selepas dari penjara, Bang Pi’ie pun kembali ke Pasar Senen.

Pada usia 16 tahun, seperti dituturkan Edi, Bang Pi’ie berguru ilmu bela diri hingga Kalimantan. Pulang dari berguru, Bang Pi’ie kemudian kembali lagi ke Pasar Senen. Hingga akhirnya dia mengalahkan jawara Pasar Senen bernama Muhayar, asal Cibedug, Bogor. Muhayar adalah anak murid dari Ayub, sosok yang disebut Edi merupakan orang yang menghabisi kakeknya, Mugeni. Karena mengalahkan Muhayar, Bang Pi’ie pun bisa menguasai Pasar Senen.

"Dia mengalahkan Muhayar. Muhayar ini pengganti Ayub yang membunuh kakek saya," ujar Edi.

Abdul Haris Nasution dalam bukunya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4 (Masa Pancaroba Kedua) pernah menceritakan kisah hidup Bang Pi’ie. Menurut Jenderal Nasution, Bang Pi’ie pernah mendirikan organisasi Kumpulan 4 sen. Perkumpulan itu mengorganisir para pedagang sayur, pedagang asongan, pedagang kaki lima, hingga tukang kuli untuk mengumpulkan iuran 4 sen bagi para begundal-begundal Pasar Senen. Tujuannya tak lain meredam para begundal itu agar tidak berbuat onar. Bahkan catatan perjalanan Bang Pi’ie menghuni LOG penjara anak-anak juga ditulis Nasution.

Infografik Imam Syafei


Dari Pasar Senen ke Palagan Perang

Sebagai seorang pemuda dan hidup pada zaman revolusi, membuat Bang Pi’ie juga masuk dalam catatan seorang pejuang kemerdekaan. Rasa bencinya terhadap Belanda menjadi salah satu alasan bagi Bang Pi’ie juga ikut berperang melawan penjajah.

Nama Imam Syafei tercatat sebagai Ketua Organisasi Pejuang Indonesia (OPI). Organisasi ini mengkoordinir barisan pasukan rakyat berisi para pemuda dan pelajar. Tercatat OPI dibentuk setelah kedatangan Sekutu yang dibonceng Belanda. Tentara Sekutu itu tiba di Jakarta pada September 1945 dipimpin oleh Sir Phillips Christison. Sebulan setelahnya, tentara NICA Belanda turun dengan membawa pasukan di Pelabuhan Tanjung Priok. Kala itu, NICA membawa pasukannya ke Jakarta dengan menggunakan delapan kapal.

Bang Pi’ie lah yang mengomandoi pemuda dan pelajar serta bekas Heiho dan polisi untuk membuat pasukan tempur mengusir musuh keluar dari Jakarta. Ketika tiba di Jakarta, bulan Oktober 1945, tentara sekutu dan NICA melakukan pembersihan besar-besaran di wilayah Senen. Pertempuran itu pun dimenangkan Bang Pi’ie yang kala itu pasukannya hanya bermodalkan beberapa pucuk senjata. Bahkan dalam pertempuran itu, Bang Pi’ie memimpin pasukan dalam keadaan sakit.

"Bang Pi'ie dalam keadaan sakit memimpin pasukan Pemuda Pejuang," demikian tertulis dalam dokumen berjudul penyerbuan pasukan pemuda pejuang ke Stasiun Senen. Penyerbuan itu berlanjut dengan serangan balasan dari Tentara NICA dan sekutu selama dua hari hampir di seluruh wilayah Jakarta. "Sejak tanggal 11 Oktober terjadi pertempuran-pertempuran sengit antara pasukan pemuda pejuang."

Dalam pertempuran itu, Bang Pi'ie berhasil ditangkap tentara Sekutu dan NICA. Namun, dia berhasil meloloskan diri ketika dibawa dalam mobil tahanan. "Berkat pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, Bang Pi'ie selamat dan kemudian lari menuju Masjid Jagad."

Perjuangan Bang Pi'ie pun terus berlanjut, menjelang akhir 1945, situasi perlawanan pemuda terus bergejolak terhadap tentara sekutu dan Belanda yang pada saat itu hendak menguasi ibu kota. Pada 22 November, Bang Pi'ie ditunjuk sebagai komandan pertempuran seluruh Jakarta. Markas pasukan di bawah Bang Pi'ie terletak di Kampung Rawa, Gang Sentiong dan Utan Panjang.

Pertempuran demi pertempuran dilewati oleh Bang Pi'ie dan pasukannya. Hingga akhirnya Sultan Sjahrir menginstruksikan agar pemuda pejuang mengosongkan Jakarta lantaran akan dilakukan diplomasi antara sekutu dengan Indonesia. Markas pemuda pejuang kemudian pindah dan berpusat di Karawang.

Sejak saat itu, Bang Pi'ie menjadi komandan tempur yang disegani musuh. Dia menjadi pertimbangan dan orang paling diperhitungkan oleh tentara Sekutu dan NICA. Selepas pasukannya pindah ke Karawang, Bang Pi'ie menjabat sebagai wakil ketua Markas Pusat Pertempuran. Di Karawang, Bang Pi'ie melumpuhkan pemberontak yang dipimpin Gelung. Gelung berhasil dikalahkan Bang Pi'ie setelah kekebalannya dilumpuhkan dengan menggunakan air mendidih dicampur kapur barus. Gelung pun tewas di tangan Bang Pi’ie.

Berkat prestasi Bang Pi'ie, pasukan Laskar Rakyat Jakarta Raya Pimpinannya diresmikan sebagai pasukan Istimewa Divisi II Sunan Gunung Jati oleh Markas Besar Tentara. Berkat perjuangannya, pasukan di bawah Bang Pi'ie dilebur menjadi Tentara Nasional Indonesia Kesatuan Resimen V Brigade III Kiansantang Divisi I Batalyon Siliwangi.

Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 menulis pada saat datangnya tentara sekutu dan NICA di bulan September 1945, membuat situasi kian memanas di Jakarta. Cribb menulis, kedatangan itu membuat para pemuda kemudian bergabung buat mempertahankan kemerdekaan. Pada masa-masa itu sering terjadi bentrokan antara pemuda dengan pasukan Belanda di daerah Senen. Kawasan itu, tulis Cribb, dihuni para pejuang yang berlatar belakang jagoan dari dunia hitam.

Nama Bang Pi’ie disebut sosok paling populer oleh Cribb. Bersama dengan anak buahnya, Amat Bey (Mat Bendot), Bang Pi’ie memiliki pasukan yang diberi nama Sebangol. Anggota pasukan Bang Pi’ie, masih kata Cribb, semuanya adalah tukang copet. Mereka bergabung ke dalam Oesaha Pemoeda Indonesia (OPI) dan ketika Laskar Rakjat Djakarta Raya terbentuk, pasukan Bang Pi’ie ikut bergabung.

“Tekanan Belanda mungkin merupakan salah satu di antara sekian faktor yang menyebabkan dunia hitam Batavia tertarik dengan pergerakan kaum nasionalis Indonesia,” tulis Cribb.

Kongsi Para Jawara

Selain memaparkan sepak terjang kaum dari dunia hitam Jakarta dalam revolusi kemerdekaan. Cribb juga menulis soal kongsi para jawara dari berbagai wilayah di sekitaran Jakarta yang berkongsi dengan Bang Pi’ie. Ketika Laskar Perjuangan Rakyat Jakarta Bang Pi’ie mulai terdesak oleh tentara musuh, dia pun melakukan kongsi dengan beberapa jawara wilayah seperti Haji Darip dari Klender dan KH Noer Ali dari Bekasi.

Cribb pun menyimpulkan, koalisi strategis antara kelompok dunia hitam di Jakarta dan kelompok nasionalis muda radikal merupakan hasil yang tidak biasa. Sebagian disebabkan kesamaan sikap menentang Belanda dan sebagian lagi karena adanya unsur timbal balik.

Haji Uung, putra mendiang Haji Darip dari Klender, menuturkan jika dalam peperangan setelah kemerdekaan itu ayahnya berkongsi dengan beberapa jawara seperti Bang Pi’ie dari Jakarta dan KH Noer Ali dari Bekasi. Bahkan pada masa-masa itu, pejuang tergabung dalam laskar rakyat pimpinan Bang Pi’ie memiliki andil dalam memerdekakan negeri ini dari penjajahan Belanda.

“Ayah saya menjaga jalur Kelender,” ujar Haji Uung saat berbincang beberapa waktu lalu.

Sementara dari Depok, daerah yang tersohor dengan nama Mat Depok juga merupakan salah satu orang kepercayaan Bang Pi’ie untuk mengendalikan laskar perjuangan rakyat kala itu. Menurut penuturan anak Mat Depok, Misar, dia pernah ikut berperang bersama-bersama dengan laskar rakyat Jakarta dalam pertempuran di Karawang, bersama Bang Pi’ie dan Haji Darip.

"Bang Pi’ie itu teman dekat ayah saya," kata Misar.

Setelah kemerdekaan, seperti diceritakan Misar, ayahnya menjadi orang kepercayaan Bang Piie untuk membantu menjaga keamanan Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya. Saat diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat oleh Sukarno dalam Kabinet Seratus Menteri, Mat Depok juga ikut diajak Bang Pi’ie.

Jadi Menteri Kendalikan Bandit Ibukota

Bang Pi’ie memang tercatat pernah menduduki posisi penting sebagai Menteri Urusan Keamanan Rakyat ketika Presiden Sukarno berkuasa. Menurut anaknya, Edi Syafei, posisi itu diberikan oleh mendiang Sukarno karena Bang Pi’ie dianggap bisa mengendalikan para bandit yang kala itu membuat Jakarta menjadi rawan kejahatan.

Bahkan kata Edi, mengutip tuturan ayahnya, hampir semua toko di kawasan Senen dan Glodok memasang foto Bang Pi’ie agar tak diganggu oleh para bandit. Saking terkenalnya Bang Pi’ie kala itu, bandit-bandit pun ogah untuk meminta upeti mereka. “Sampai Glodok semua pasang foto ayah saya,” ujar Edi.

Setelah Konferensi Meja Bundar dilakukan, para preman memang menguasai ibu kota. Mereka adalah orang-orang yang pernah berjuang dalam kemerdekaan. Karena kebutuhannya tak diakomodir, terutama dalam TNI, mereka pun membuat teror di Jakarta. Karena itu juga kemudian Bang Pi’ie mendirikan organisasi yang kelak terkenal dengan nama Cobra. Organiasi ini, menurut Misbach Yusa Biran, tak hanya mengendalikan para bandit di seputaran Senen, namun menguasai hampir semua dunia hitam di Jakarta. Sosok Bang Pi’ie yang berpengaruh dalam pengendalian para preman itu.

Bahkan setiap pelaku kejahatan tunduk dibawah Bang Pi’ie. “Kalau ada anggota Cobra buat onar di sebuah toko, maka Bang Pi’i akan menggamparnya habis habisan. Tentu saja, karena toko toko, warung selama ini harus membayar iuran keamanan pada Bang Pi’I,” kata Misbach Yusa Biran dalam bukunya Kenang-Kenangan Orang Bandel yang diterbitkan Komunitas Bambu.

Karena pengaruh itu juga, Bang Pi’ie kemudian diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat oleh Presiden Sukarno. Alasannya, Bang Pi’ie mampu menghambat demonstrasi mahasiswa angkatan 1966—yang menuntut Sukarno turun.

Jabatan sebagai Menteri Urusan Keamanan Rakyat dia emban dari 24 Februari hingga 28 Maret 1966. Ketika Sukarno tumbang, Bang Pi’ie pun dituduh terlibat komunis hingga dia ditahan pada 18 Maret 1966. Tak lama dijebloskan ke dalam penjara, Bang Pi’ie pun dibebaskan.

Menurut Misbach Yusra Biran, ”Dia tidak tahu apa-apa tentang politik. Dia hanya setia pada Sukarno”.

Menurut Edi, karena penangkapan itu, ayahnya sempat diadili Mahkamah Militer. Dia dituding indisipliner sebagai tentara karena menolak menghadap Soeharto saat itu. Bahkan ketika Soeharto berkuasa, Bang Pi’ie sempat ditawari untuk kembali ke TNI dan pangkatnya dinaikkan. Namun tawaran itu ditolak Bang Pi’ie dan memilih untuk menghabiskan masa tuanya di rumah.

“Ayah saya dipanggil ke Kostrad dan ditawarkan dua pilihan, salah satunya menjadi Duta Besar, kalau tidak salah pada 1973,” tutur Edi.

Pada tanggal 9 September 1982, Bang Pi’ie pun tutup usia. Dia meninggal di kediamannya di Jalan Wijaya 9, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebelum dimakamkan, iring-iringan jenazah Bang Pi’ie sempat dibawa mengitari daerah Senen hingga Kemayoran, sebelum akhirnya disemayamkan di Gedung Dewan Harian Daerah 45 Jakarta.

Dalam pidato sebelum pemakaman Bang Pi’ie, mendiang Jenderal AH Nasution pun memberi sambutan.

“Pak Nasution bilang (dalam pidatonya) jasa-jasa beliau semasa pertempuran, sangat besar untuk negara, untuk kemerdekaan. Di masa itu orang seperti Pak Syafei ini dibutuhkan oleh bangsa,” ujar Edi. Prosesi pemakaman Bang Pi’ie pun dilakukan secara militer.

Kini jasad Bang Pi’ie disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Di nisannya tertulis, Letkol Imam Sjafeei. Dia terdaftar sebagai Angkatan Darat dengan Nomor Registrasi Pegawai Mabes AD 14157.

Baca juga artikel terkait HARI PAHLAWAN atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Arbi Sumandoyo
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Zen RS
Artikel Lanjutan