Menuju konten utama

MMA di Antara Laju Perubahan Industri Advertising dan Marketing

Setelah tujuh tahun bersama MMA Indonesia, satu pelajaran yang paling berkesan adalah bahwa kita tidak bisa bergerak sendiri.

MMA di Antara Laju Perubahan Industri Advertising dan Marketing
Header Perspektif Shanti Tolani. tirto.id/Ecun

tirto.id - Sudah lebih dari dua dekade saya bekerja di industri marketing dan advertising, dan setiap beberapa tahun, kita dipaksa untuk menengok ke dalam. MMA sendiri adalah contoh paling jelas dari dinamika itu. Dulu, sejak 2003, kami dikenal sebagai Mobile Marketing Association. Di era itu, lingkup kerja kami terasa masuk akal karena waktu itu seluruh pergerakan digital terasa sangat mobile-centric. Segalanya bergerak ke layar kecil di tangan kita.

Tapi pada 2018, kami sadar satu hal penting: dunia sudah jauh lebih besar daripada sekadar “mobile”. Laptop, televisi, rumah pintar, digital screen di mana-mana. Semuanya sudah menyatu. Maka kami rebrand menjadi MMA Global. Bukan karena ingin meninggalkan yang lama, tapi karena ingin menyebut kenyataan bahwa digital sudah masuk ke setiap sisi kehidupan.

Lalu kami sampai ke titik hari ini. Tahun 2025. Dunia bergerak lebih cepat dari apa pun yang kami bayangkan. Agentic AI, generative AI, data foundation, data intelligence. Ada banyak hal yang, jujur saja, bahkan lima tahun lalu belum kebayang akan sebesar ini. Dan karena perubahan itu, kami harus kembali bertanya: apakah identitas kami masih relevan?

Jawabannya: ya. Tapi peran kami perlu diperkuat. Maka kami rebrand lagi. Bukan untuk mengubah value yang kami punya, tapi menegaskan siapa kami di tengah industri yang makin rumit dan lagi-lagi berkembang dengan sangat cepat.

Karena sejak awal, MMA didirikan untuk satu tujuan: membantu para pemimpin, brand leaders, CEOs, CMOs, memahami lanskap baru yang semakin kompleks. Isu-isu seperti privacy, data, advertising fraud, brand safety, retail media, artificial intelligence… semua ini bukan lagi teori, tapi kebutuhan nyata. Dan industri ingin tahu: apa tren terbaru, apa best practices, apa do’s and don’ts, apa tantangannya, dan siapa yang bisa menyediakan solusinya.

Saya melihat perubahan besar yang mungkin dulu jarang terjadi: para kompetitor mulai mau duduk bersama. FMCG belajar dari industri banking. Retail belajar dari F&B. Semua ingin tahu apa tantangan bersama yang bisa diselesaikan bersama. Itulah tanda bahwa industri kita bergerak ke arah yang lebih dewasa.

Di tengah perubahan yang cepat, kami ingin tetap berani, bold. Tidak segan melakukan trial and error. Mau belajar dan berbagi. Tapi yang harus kami tetap pegang adalah roh-nya: storytelling yang jujur, brand value, dan hubungan yang tulus dengan konsumen. Karena teknologi sebesar apa pun, tujuan akhirnya tetap manusia.

Indonesia punya alasan untuk optimistis. Digital economy kita diperkirakan menyentuh USD 360 miliar pada 2030. Itu waktu yang pendek, lho, hanya lima tahun dari sekarang. Saat ini kita adalah ekonomi terbesar ke-17 di dunia, dengan purchasing power ranking ketujuh. Potensi ada, ruangnya lebar, tapi fondasinya harus kita bangun. Kreativitas, data, inovasi, dan teknologi harus bergerak dalam satu arah.

Tantangannya juga nyata.

Memang ada banyak hal di luar kendali kita. Sebut saja politik global, ekonomi dunia, situasi yang berubah dalam hitungan minggu. Tapi satu hal yang bisa kita kontrol adalah sistem kita sendiri. Data harus rapi, terkonsolidasi, bersih, valid. Dengan fondasi yang kuat, teknologi bisa digunakan dengan tepat.

Yang paling mendasar: kita harus selalu mengikuti aturan. Governance, regulasi, aturan privasi, semua harus dihormati. AI membutuhkan tanggung jawab, apalagi ketika kita memegang data konsumen.

MMA hadir untuk membantu menghadapi tantangan-tantangan ini. Kami belajar dari 16 negara lain di berbagai wilayah seperti Amerika Serikat, Amerika Latin, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Ada banyak wawasan global yang dapat kita bawa pulang dan terapkan di Indonesia. Faktanya, saya sering menemukan bahwa Indonesia jauh lebih siap secara digital dibandingkan banyak negara lain di wilayah-wilayah tersebut, dan saya benar-benar percaya bahwa kita memiliki potensi besar untuk tumbuh dengan cepat dan bertanggung jawab.

Setelah tujuh tahun bersama MMA Indonesia, satu pelajaran yang paling berkesan adalah bahwa kita tidak bisa bergerak sendiri. Kolaborasi dan transparansi adalah hal yang tidak bisa ditawar. Jika kita hanya berfokus pada pertumbuhan atau profitabilitas internal, dan sistem yang kita bangun sendiri, maka kita tidak akan pernah maju sebagai industri secara keseluruhan. Kita perlu menciptakan ruang untuk diskusi yang nyata — bahkan untuk topik-topik yang sulit.

Kita telah menyaksikan bagaimana disrupsi global berdampak besar pada pasar lokal, dan bagaimana banyak brand yang terdampak. Namun, beruntung banyak pemimpin yang bersedia duduk bersama untuk mencari solusi tanpa menyerah pada situasi. Forum seperti acara hari ini mencerminkan semangat itu — di mana para pemimpin lintas industri, mulai dari brand, agensi, media, publisher, hingga pelaku teknologi, berkumpul untuk mendiskusikan isu industri, mendengar beragam perspektif solusi, dan yang terpenting, mereka hadir. Karena hadir adalah langkah pertama menuju perubahan.

Forum seperti yang sedang kita adakan hari ini adalah contohnya. Pemimpin dari berbagai industri berkumpul: brand, agency, tech, media, publisher. Mereka membahas isu, mendengar solusi, dan lebih penting lagi: mereka datang. Karena hadir adalah langkah pertama menuju perubahan.

Tema kami tahun ini adalah powering marketing for growth. Kami ingin ACT, ACCELERATE, dan ADVANCE. Artinya, semua tidak boleh berhenti di sesi diskusi. Harus ada langkah berikut: tiga bulan ke depan apa, enam bulan ke depan apa. Kalau industrinya bergerak bareng, kita semua bisa bertumbuh bareng juga.

Saya percaya, selama kita mau belajar, mau jujur, mau kolaborasi, dan mau memakai teknologi dengan bertanggung jawab, kita tidak akan kebingungan menghadapi perubahan, bahkan yang cepat sekalipun. []

Penulis adalah Country Head & Board Of Director Marketing + Media Alliance Indonesia (MMA Indonesia).

Baca juga artikel terkait MMA atau tulisan lainnya dari Shanti Tolani

tirto.id - Perspektif
Penulis: Shanti Tolani
Editor: Nuran Wibisono