tirto.id - Minat investasi investor ritel di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik masih tetap tinggi, meskipun menjadi lebih selektif. Hal ini tercermin dari pertumbuhan nilai investasi ritel di platform Bareksa yang tetap stabil hingga akhir Februari 2026. Menariknya pertumbuhan paling signifikan berasal dari transaksi emas dan saham, yang masing-masing meningkat sebesar 331% dan 271% secara tahunan.
“Dalam ketidakpastian, investor ritel tetap mencari peluang, pasalnya harga emas naik lebih dari 80% dalam setahun terakhir. Turunnya harga saham juga dimanfaatkan untuk pembelian kembali selektif saham yang dinilai murah,” kata Chief Operating Officer Bareksa Ni Putu Kurniasari dalam acara media gathering bersama sejumlah media nasional di Jakarta.
Dalam 10 tahun terakhir, harga beli emas dalam rupiah sudah menguat hingga lima kali lipat. Perkembangan teknologi finansial juga membuat investasi emas semakin mudah diakses oleh masyarakat melalui platform digital
Menilik lebih lanjut kenaikan minat transaksi emas di platform digital, ia menjelaskan bahwa meningkatnya kepercayaan masyarakat untuk membeli emas secara digital didukung oleh adanya regulasi yang jelas di Indonesia, baik dari Bappebti maupun OJK. Dalam aturan tersebut, pedagang emas berizin diwajibkan memiliki persediaan emas dengan rasio 1:1 terhadap transaksi yang dilakukan.
Artinya ada ketersediaan fisik emas, sebelum pedagang emas digital dapat melakukan penjualan. Ketentuan ini menjaga integritas transaksi emas digital agar tidak mengalami permasalahan seperti yang sempat terjadi di China, di mana sejumlah platform emas digital tidak dapat memenuhi permintaan buyback dari investor. Oleh karena itu, Putu mengingatkan para investor yang ingin berinvestasi emas secara digital untuk memastikan bahwa transaksi dilakukan melalui pedagang yang memiliki izin resmi, sehingga terhindar dari risiko serupa.
Transaksi emas secara digital juga menjadi lebih efisien karena menawarkan nilai investasi minimum yang rendah. Di Bareksa, misalnya, investasi emas dapat dimulai dari Rp50 ribu, sehingga menjadi solusi bagi investor ritel yang ingin membeli emas secara rutin meskipun tidak memiliki dana besar. Selain itu, selisih antara harga beli dan harga jual kembali (buyback) atau yang sering disebut spread juga relatif lebih rendah pada emas digital, yakni sekitar 3–3,5%. Spread ini dapat melebar ketika terjadi volatilitas pasar yang sangat tinggi, namun secara umum tetap lebih efisien, mengingat dalam kondisi tersebut memperoleh emas secara offline juga sering kali menjadi lebih sulit. Di Bareksa, ketertarikan terhadap emas digital tercermin dari lonjakan jumlah investor yang bertransaksi emas digital, yang hingga akhir 2025 tercatat tumbuh 252% secara tahunan.
Dukungan Pemberantasan Insider Trading
Pasar saham Indonesia sedang menjadi sorotan, terlebih setelah adanya isu transparansi data kepemilikan saham, ketidakseimbangan penyebarluasan informasi (asymmetric information) bagi investor ritel dan pelaku dengan modal besar (big player) hingga praktik manipulasi pergerakan harga saham oleh segelintir pihak yang melakukan transaksi orang dalam (insider trading). Berkaitan dengan hal ini, Bareksa mendukung reformasi pasar modal Indonesia yang dilakukan oleh regulator dan seluruh stakeholders, hingga pelaku pasar.
“Bareksa mendukung langkah regulator pasar modal untuk membersihkan praktik yang tidak berpihak pada investor ritel, untuk menjaga integritas pasar modal Indonesia di mata investor,” ujar CEO/Co-Founder Bareksa Karaniya Dharmasaputra.
Teknologi digital dapat diberdayakan untuk meminimalisir praktik “goreng saham”, terutama dalam penggunaan artificial intelligence (AI). Peningkatan jumlah investor pasar modal dalam 10 tahun terakhir menjadi contoh sukses keberhasilan pemanfaatan teknologi di area distribusi. AI dapat dimanfaatkan dalam sistem pengawasan sehingga alert atas praktik manipulasi saham dapat lebih cepat diterima. Selain itu, inovasi AI juga dapat membantu masyarakat Indonesia yang memiliki literasi akan produk pasar modal rendah, yakni hanya 17,78% berdasarkan survei OJK 2025 dibandingkan literasi perbankan yang mencapai 65%, untuk dapat memilih produk pasar modal seperti saham yang sesuai dengan behavior dari investor dan diharapkan dapat mengurangi efek negatif dari “pom-pom” informasi yang menyesatkan.
Solusi SBN dengan Dukungan Booster
Perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan ekonomi domestik setelah lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's dan Fitch Ratings menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran akan mendorong arus keluar dana asing. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, kepemilikan investor asing pada Surat Berharga Negara (SBN) terus menyusut hingga sekitar 13% pada Januari 2026, turun signifikan dari sekitar 46% pada 2019.
Di tengah situasi ini, investor domestik dapat menjadi solusi untuk menahan pasar keuangan Indonesia dari arus keluar dana asing. Di Bareksa sendiri, minat terhadap SBN masih tinggi, dimana jumlah investor dalam 3 tahun terakhir tumbuh 325%. Dua manfaat atas pengembangan SBN ritel, selain memperdalam pasar keuangan, juga dapat menambah penghasilan masyarakat pada produk investasi dengan risiko rendah.
Sebagai contoh, Sukuk Ritel SR 024 yang saat ini dalam masa penawaran, memberikan kupon tetap sehingga dapat memberikan kepastian arus kas bagi investor. SBN seri SR024 yang kini dalam masa penawaran, memberikan imbal hasil gross 5,55% dan 5,9% p.a. masing-masing untuk tenor 3 dan 5 tahun. Imbal hasil ini menarik di tengah ketidakpastian global karena sifatnya yang zero risk. Dalam seri ini Bareksa menargetkan penjualan dapat meningkat 23% dari seri yang sama tahun lalu.
Namun diperlukan booster untuk semakin meningkatkan minat masyarakat terhadap SBN ritel di tengah situasi ekonomi domestik saat ini, yakni dengan insentif pajak. Preseden atas insentif pajak pernah digunakan saat pengembangan produk reksa dana pendapatan tetap di tahun 2014-2020, dimana reksa dana yang ingin membeli SBN mendapat relaksasi insentif pajak bunga obligasi menjadi 5% dari 10%.
Terjadi Pergeseran Minat di Industri Reksa Dana
Dari kelas aset reksa dana, nilai transaksi ritel masih cenderung meningkat dan pada saat bersamaan, terjadi pergeseran dominasi kelas aset yang dipilih investor ritel, dari mayoritas reksa dana pasar uang menjadi reksa dana pendapatan tetap. Dengan adanya transparansi informasi atas kinerja reksa dana dalam platform online seperti Bareksa, investor ritel mudah untuk berpindah produk jika terdapat produk lain dengan kinerja yang lebih baik sehingga dapat memaksimalkan potensi imbal hasil. Hal ini yang membuat minat investor ritel di industri reksa dana lebih resilien di tengah tekanan pasar keuangan.
Di Bareksa porsi reksa dana pendapatan tetap terus meningkat hingga saat ini mencapai 65% dari total AUM. Minat diversifikasi investasi ke reksa dana USD juga meningkat, yang digunakan investor ritel sebagai lindung nilai (hedging) di tengah ketidakpastian geopolitik ini.
Ke depan, Bareksa melihat tren diversifikasi investasi akan semakin berkembang, seiring meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan portofolio yang seimbang.
Melalui berbagai produk investasi digital yang tersedia dalam satu platform, Bareksa berupaya memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses beragam instrumen investasi sesuai dengan kebutuhan dan profil risiko masing-masing investor.
Editor: Siaran Pers
Masuk tirto.id
































