Menuju konten utama

Menyingkap Jejak Sejarah Kota Batavia di Jalur MRT Fase 2

Temuan saluran air kuno dan rel trem memuat informasi terkait sejarah kota Jakarta, terutama di abad ke-17 dan ke-19.

Menyingkap Jejak Sejarah Kota Batavia di Jalur MRT Fase 2
Sejumlah pekerja membongkar aspal yang menutupi rel trem di proyek Mass Rapid Transit (MRT) Fase 2A paket kontrak atau CP 202 Harmoni-Mangga Besar, Jakarta, Rabu (9/11/2022). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/nz.

tirto.id - Proses pembangunan jalur rel kereta listrik Mass Rapid Transit (MRT) fase 2 menguak cerita sejarah masyarakat Jakarta di era Kolonial. Di tengah pembangunan jalur yang akan menghubungkan Stasiun MRT Bundaran HI dan Jakarta Kota itu, para pekerja konstruksi menemukan beberapa tinggalan dari masa lalu. Di antaranya berupa fosil tulang sendi, gigi hewan, koin belanda, dan berbagai artefak yang diperkirakan berasal dari abad ke-18 hingga awal abad ke-20.

Temuan-temuan arkeologis itu pun telah beberapa kali diekspos ke publik melalui sejumlah pameran pada 2022 hingga 2024.

PT MRT Jakarta pun mengakui bahwa penemuan tinggalan-tinggalan arkeologis semacam itu juga terjadi selama pembangunan fase 1. Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Weni Maulina, menceritakan bahwa saat itu pihaknya menemukan berbagai hal tak terduga saat menggali tanah Jakarta. Salah satunya granat yang terkubur 47 meter di bawah permukaan tanah.

"Mungkin sisaan zaman Belanda. Ketemu granat di kedalaman yang sebetulnya juga tidak terlalu dangkal, mungkin 47 meter," kata Weni dalam kelas MRTJ Fellowship 2025 di Wisma Nusantara, Kamis (17/7/2025).

Di pembangunan jalur fase 2 ini, PT MRT Jakarta juga menemukan bekas rel trem yang diperkirakan digunakan pada awal abad ke-20. Tepatnya, rel trem kuno itu ditemukan di kawasan Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk.

"Jadi, kami pernah menemukan jalur trem saat menggali tanah," kata Weni.

Trem Batavia Jakarta

sarana transportasi berupa Trem yang pernah ada di Batavia (Jakarta) pada tahun 1900-an. FOTO/wikipedia

Yang menurut Weni lebih menarik lagi, pihaknya juga menguak saluran terakota kuno berlapis bata. Temuan itu diperkirakan merupakan sisa-sisa dari sistem perpipaan atau saluran air bawah tanah yang dibangun di zaman Kolonial.

Tentu saja, penemuan saluran air kuno itu tak masuk dalam prediksi PT MRT Jakarta.

“Makanya kami turut mengundang arkeolog dari Universitas Indonesia untuk mengawal pembangunan," kata Weni.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Nasional, Junus Satrio Atmojo, mengungkapkan bahwa saluran terakota itu kemungkinan merupakan bekas saluran untuk memenuhi kebutuhan air dan sanitasi masyarakat yang tinggal di dalam benteng Kota Batavia.

Saat menemukan saluran air berlapis bata tersebut, para pekerja konstruksi PT MRT Jakarta tidak tahu bahwa masih terdapat air mengalir di dalamnya.

"Ketika digali lebih [dalam] kena backhoe, itu muncrat air yang cukup tinggi. Kok ternyata ada saluran air di sini, tidak pernah ada dalam laporannya Belanda," kata Junus saat dihubungi Tirto, Jumat (18/7/2025).

Junus menuturkan bahwa PT MRT Jakarta saat itu terkejut hingga kemudian menghubunginya dan arkeolog lain dari Univesritas Indonesia.

"MRT itu juga terkejut karena mereka juga tidak tahu dari survei sebelumnya, bahwa ada struktur terbenam di dalam tanah yang kira-kira kedalamannya hampir 3 meter," kata dia.

Temuan saluran air kuno itu, kata Junus, memuat informasi baru terkait sejarah tata kota Jakarta, terutama di abad ke-17 saat VOC Belanda mulai membangun pos dagang di Jayakarta.

"Akhirnya, kami menemukan peta yang dibuat tahun 1730, ya masih zaman VOC. Itu artinya di dalam peta itu terlihat ada garis panjang yang disebut dengan waterleiding atau artinya pipa air," ungkapnya.

Junus juga membeberkan bahwa bata yang digunakan untuk melapisi saluran terakota kuno itu didatang VOC dari penjuru. Bata berwarna kuning, misalnya, disebut Junus didatangkan dari Belanda, sedangkan bata merah adalah produksi orang Nusantara. Bata kuning itu unik di mata arkeolog seperti Junus karena lazim ditemukan di sejumlah benteng peninggalan VOC.

“Bata kuning ini kami temukan juga yang hampir sama di semua benteng yang dibangun VOC. Jadi, dari sisi usia dia samalah dengan VOC," jelasnya.

Menyingkap Masa Lalu Kota Benteng Batavia

Junus menuturkan bahwa Jakarta atau Batavia di abad ke-17 adalah kota benteng. Ia dibangun oleh Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen. Tak hanya menjadi hunian pejabat dan prajurit VOC, Benteng Batavia juga ditinggali kelompok dari Jawa, Ambon, Bali, Cina, dan bahkan Jepang.

Dosen Jurusan Arkeologi UI ini menjelaskan bahwa saluran air terakota itu terhubungan dengan anak Sungai Ciliwung. Saluran air tersebut berujung pada suatu kolam penampungan air yang disebut waterplatts.

"Jadi, temuan ini spektakuler karena untuk pertama kalinya dan mungkin juga di seluruh Asia Tenggara itu ditemukan, dengan bukti adanya sistem pengairan air jernih yang sudah dimodifikasi," ungkap Junus.

Salah satu alasan VOC membangun saluran air bawah tanah adalah untuk mengantisipasi ancaman serangan seperti yang pernah dilancarkan Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Mataram tercatat dua kali menyerang Batavia, yaitu pada 1628 dan 1629. Kendati dua upaya militer itu gagal, pasukan Mataram sempat berhasil mengepung benteng Batavia hingga VOC tak berkutik.

Salah satu siasat yang digunakan oleh pasukan Mataram untuk mengalahkan musuh mereka yang sembunyi dalam benteng adalah dengan mencemari sungai yang mengalir masuk ke dalam benteng. Upaya pencemaran dilakukan dengan pemberian racun, kotoran, sampah, hingga menghanyutkan mayat ke sungai itu.

"Ini yang menyebabkan disentri itu menyebar luas di dalam benteng," ujar Junus.

Agar kejadian serupa tak terulang bila ada perang, VOC kemudian membangun sistem distribusi air di dalam kota bentengnya. Waterplatts dibangun sebagai penampung dan airnya dialirkan melalui sistem saluran terakota. Warga di dalam benteng dapat menggunakan air tersebut melalui pancuran-pancuran yang tersebar di beberapa titik di Batavia.

Salah satu pancuran air yang tersisa dari masa itu kini dapat dijumpai di depan Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal dengan Museum Fatahilah.

"Kalau kita lihat di gambar-gambar lama, sekitar abad ke-17 dan 18, diperlihatkan bahwa ada pancurannya di depan museum dan semua orang boleh mengambil air dengan gratis," kata Junus.

Lalu, seiring dengan perkembangan zaman, VOC kemudian mengomersialisasikan akses air tersebut dengan membangunnya hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Para saudagar maupun masyarakat yang hendak mengambil air tersebut dikenakan pungutan biaya oleh VOC.

"Karena kapal-kapal datang yang lalu lalang di Nusantara, mereka butuh air bersih dan dari situlah mereka mengambil. Kalau itu, mereka harus bayar ya," katanya.

JALUR TREM KEMBALI DITEMUKAN DI PROYEK MRT

Sejumlah pekerja membongkar aspal yang menutupi rel trem di proyek Mass Rapid Transit (MRT) Fase 2A paket kontrak atau CP 202 Harmoni-Mangga Besar, Jakarta, Rabu (9/11/2022). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/nz.

Masih Banyak Artefak Belum Terungkap

Sementara itu, temuan rel trem sepanjang 1,4 kilometer di jalur MRT menguak sejarah perkembangan sistem transportasi di Batavia. Junus menceritakan bahwa trem mulai beroperasi di Batavia pada 1869. Saat itu, trem masih ditarik kuda. Bahkan menurutnya, di Belanda sendiri saat itu belum ada trem.

Riwayat trem di Batavia berakhir pada 1962, bertepatan saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games. Namun, pemerintah saat itu hanya membenamkan rel trem yang ada dan tidak membongkarnya.

"Saat itu, Jakarta sudah terlalu ramai. Jadi, trem itu bahaya dan ada yang ketabrak dan segala macam," terang Junus.

Terkait tinggalan-tinggalan arkeologis yang terkuak selama pembangunan jalur MRT fase 2 ini, Junus berharap PT MRT Jakarta tetap mempertahankannya hingga jalur pembangunan tersebut tuntas. Dia juga bilang kemungkinan masih banyak tinggalan arkeologis yang bakal terkuak saat pembangunan jalur MRT berlanjut hingga ke Ancol.

Junus menyebut di bawah tanah Jakarta Utara bakal banyak ditemukan makam-makam korban peristiwa Geger Pacinan 1740.

“Di sekitar Jakarta itu, ada banyak sekali makam Cina, tapi sekarang hampir semua jadi kampung. Tapi, kalau kita tanya ke masyarakat di sana, masih ada bong [makam] Cina? Rata-rata dari mereka masih bisa menunjukkan nisan kuno yang sebagian ada berdampingan bahkan di dalam rumah," katanya.

Junus memprediksi PT MRT Jakarta bakal menemukan lagi sisa-sisa rel trem dalam proses pengeboran jalur di kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat.

“Kemungkinan menemukan sisa trem cukup besar dan kemungkinan kita menemukan sisa-sisa pembangunan VOC juga cukup besar," ujarnya.

Komitmen PT MRT Jakarta

PT MRT Jakarta telah mengutarakan komitmennya untuk melestarikan dan mengelola temuan benda cagar budaya di jalurnya. Selain bekerja sama dengan tim arkeolog, PT MRT Jakarta berupaya mengenalkan temuan bersejarah tersebut kepada masyarakat.

Weni Maulina mengungkapkan bahwa pihaknya berkomitmen untuk membangun galeri bawah tanah untuk memamerkan berbagai artefak dan benda cagar budaya sebagai bentuk edukasi publik.

PT MRT Jakarta telah menyiapkan dua stasiun, yaitu Stasiun Monas dan Stasiun Kota, untuk keperluan itu. Weni mengatakan bahwa dua stasiun tersebut memiliki area yang luas dan panjang sehingga dinilai mumpuni untuk menampung masyarakat yang antusias untuk melihat artefak dan cagar budaya itu.

"Yang Monas nanti kami juga ada semacam art gallery dan kalau di Kota itu bentuknya juga galeri, tapi panjang karena koridornya juga panjang," kata Weni.

Upaya PT MRT Jakarta itu menuai apresiasi dari Tim Ahli Cagar Budaya Nasional. Sebagai salah satu anggotanya, Junus mengungkapkan bahwa galeri bawah tanah tersebut dapat digunakan untuk melihat masa lalu Indonesia yang sempat terpendam di bawah tanah.

Penggalian Terowongan MRT pada 2022

Temuan saluran air bawah tanah berbahan terakota saat penggalian terowongan MRT pada 2022, di sekitar Jalan Pintu Besar Selatan, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. FOTO/Tim Ahli Cagar Budaya

Menurutnya, publik jadi memiliki kesempatan untuk melihat sejarah tidak hanya dari foto, tapi melihat langsung objeknya.

"Kami tidak ingin masyarakat melihat sejarah hanya sekedari dari foto-foto atau buku, namun juga bisa melihatnya langsung. Bayangkan saat kami mengangkat saluran air bawah tanah menggunakan alat berat karena beratnya mencapai 8 ton bahkan ada yang 13 ton. Itu kan kerja yang gede banget. Kita ingin masyarakat bisa melihat fisiknya," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa upaya PT MRT Jakarta untuk merawat benda cagar budaya dan bersikap hati-hati dalam membangun terowongan dapat menjadi teladan bagi pemerintah maupun swasta saat membangun konstruksi.

Junus mengingatkan bahwa ada banyak proyek konstruksi yang abai terhadap pelestarian benda bersejarah dan kawasan cagar budaya. Salah satu contohnya adalah Waduk Jatiluhur di Purwakarta yang dibangun dengan membendung Sungai Citarum.

Saat aliran air naik, ia tidak hanya menggenangi pemukiman dan sawah warga, tapi juga situs arkeologi yang tak ternilai harganya di sekitar Purwakarta.

"Jadi, di sepanjang sungai ini [Citarum] dulunya ada situs-situs arkeologinya," terangnya.

Baca juga artikel terkait TRANSPORTASI UMUM atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - News Plus
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi