Menuju konten utama

Kisah Aiptu Asep & Pesan Akhir Sebelum Jadi Korban Tabrak Lari

Mendiang kerap berpesan pada keempat anaknya agar menjadi pribadi yang jujur dan berharap ada yang juga jadi polisi.

Kisah Aiptu Asep & Pesan Akhir Sebelum Jadi Korban Tabrak Lari
Istri mendiang Aiptu Asep Suhara, Eka Yulianti saat menunjukkan foto almarhum kepada awak media di rumah duka, Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung, Rabu (12/8/2026). Muhamad Nizar/tirto.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Mendiang Aiptu Asep Suhara menghembuskan napas terakhir setelah menjadi korban tabrak lari seorang mahasiswa di Jalan Merdeka, Kota Bandung pada Minggu (9/8/2026). Dia meninggal dunia di tempat usai menjalankan tugas patroli.

Ucapan belasungkawa pun mengalir pada keluarga yang ditinggalkannya di rumah duka. Karangan bunga berbaris di sepanjang kediaman anggota Sat Samapta Polrestabes Bandung itu di Jalan Gumuruh, Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung, Rabu (12/8/2026).

"Almarhum orangnya memang tidak banyak bicara. Penyabar, baik untuk jadi sosok ayah dan suami," kenang istri mendiang, Eka Yulianti, kepada wartawan di rumah duka tersebut.

Meski begitu, Eka bercerita bahwa di balik sifatnya yang penyabar, Asep juga punya sisi tegas seorang ayah dalam hal mendidik keempat anaknya. Asep sendiri punya harapan salah satu anaknya kelak juga dapat berkarier sebagai polisi.

Selain itu, mendiang kerap kali berpesan kepada keempat anaknya agar menjadi pribadi yang jujur serta mampu bermasyarakat dan menyesuaikan diri ketika berada di tempat mana pun. Nilai-nilai kehidupan ini diwariskan kepada anak-anaknya agar kelak menjadi pegangan mereka.

"Terutama ke anak laki-laki, agak keras gitu. Tegas ke anak laki-laki. Karena, memang impian beliau anak laki-lakinya bisa meneruskan jadi polisi," cerita perempuan berusia 36 itu.

Dia pun masih tidak menyangka, pesan mendiang ketika pamit untuk piket patroli pada pukul 23.00 WIB itu menjadi pesan terakhir bagi keluarga. Tugas patroli belakangan ini memang lebih rutin dilakukan.

"Piketnya mah per 12 jam. Kondisi sehat. Saya dikabarin sama bapak. Bapak nanya ke saya, 'Suami saya ini piket malam enggak?' Karena kan ada info, katanya kecelakaan," ucap Eka.

Saat mengetahui kabar itu, dirinya langsung bertanya pada kerabat sesama anggota kepolisian. Kerabat tersebut membenarkan bahwa suami Eka menjadi korban tabrak lari.

"Pas nanya, iya, betul katanya ada dibawa ke rumah sakit. Meninggal di tempat," kata Eka.

Kini di tengah selimut suasana duka, Eka berupaya tetap fokus terhadap keadaan anak-anaknya. Eka sepenuhnya menyerahkan proses pidana kepada aparat penegak hukum. Hanya satu harapannya: hukuman setimpal bagi para tersangka.

"Semoga tersangka semuanya bisa diadili seadil-adilnya. Suami saya mendapatkan keadilan," harapnya.

rumah duka Aiptu Asep Suhara

Sejumlah karangan bunga berduka cita terlihat di sekitar rumah duka Aiptu Asep Suhara di Jalan Gumuruh, Buahbatu, Kota Bandung, Rabu (12/8/2026). Muhamad Nizar/tirto.id.

Diduga Tabrak Lari Usai Patroli

Berdasarkan keterangan resmi polisi diterima kontributor Tirto, kejadian nahas yang menimpa almarhum Asep terjadi ketika dirinya dalam perjalanan pulang. Di Jalan Merdeka, pada Minggu (9/8/2026), Asep ditabrak sebuah mobil jenis sedan civic berwarna hitam.

"Mobil tidak tanggung jawab (tabrak lari) korban MD (meninggal dunia) di tempat. Selanjutnya di bawa ke RS Sartika Asih sekitar pukul 04.00 WIB. Setelah sampai RS Sartika Asih, dinyatakan sudah meninggal dunia oleh RS Sartika Asih," tulis keterangan kepolisian tersebut.

Sementara itu Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol. Dedi Supriyadi, mengungkapkan berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan keterangan saksi serta scientific crime investigation, diketahui bahwa pelaku dugaan tabrak lari itu hanya sendiri—atas nama tersangka inisial A.

"Telah kami tetapkan tersangka, kemudian berkas perkaranya saat ini sedang melengkapi berkas-berkasnya. Kemudian, barang buktinya telah kami sita," ucap Dedi dalam konferensi pers di Polrestabes Bandung, Selasa (11/8/2026).

Dedi menyebut tersangka diduga dalam pengaruh minuman keras ketika peristiwa nahas itu menimpa almarhum Asep. Tersangka kala itu mengendarai mobil milik anggota TNI.

"Mobil milik saksi A. Mobilnya milik [anggota] TNI. [Tersangka] dalam keadaan mabuk serta minuman alkohol, tapi masih kami selidiki. Mobilnya pinjam, ya," terang Dedi.

"Saat kejadian, itu tiga orang [di dalam mobil]. Yang mengendarai adalah yang sipil, dua yang TNI. Itu fakta yang tidak terbantahkan. Sekali lagi, ini fakta yang tidak terbantahkan. Kami menggunakan scientific crime investigation," imbuhnya.

Tersangka A diduga menabrak korban dari belakang dalam kondisi tidak sadar. Hal ini yang membuat ada dugaan tersangka mencoba tidak bertanggung jawab atau tabrak lari.

"Keterangan sementara, pada saat BAP kemarin, [terdapat unsur tabrak lari] itu yang bersangkutan sadar atau tidak sadar. Nah, ini akibat dari pengaruh minuman tersebut," ucap Dedi.

Sementara itu, Kapendam III/Siliwangi, Kolonel (Inf) Mahmudin, membenarkan bahwa dua prajuritnya menjadi saksi atas kejadian tersebut. Selain menanti proses pemeriksaan kepolisian, selanjutnya, pihaknya juga menyiapkan pemeriksaan secara internal.

"Bahwa ada dua orang anggota kami yang berinisial Prada A dan Prada V. Saat ini, yang bersangkutan dua orang ini sementara dijadikan saksi dulu di sini, dilakukan pemeriksaan," ucapnya.

"Nanti akan lebih lanjut lagi akan kami lakukan pemeriksaan secara internal. Masih dalam proses penyelidikan," tegas Mahmudin.

Baca juga artikel terkait POLISI TEWAS atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - News Plus
Kontributor: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi