tirto.id -
Selain importasi susu, pertemuan tersebut juga membahas kerja sama terkait komoditas beras dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Adapun kerja sama dimaksud bertujuan untuk memitigasi dampak perubahan iklim global yang dinilai sangat memukul sektor pertanian.
“Susu, susu diminta untuk masuk ke Indonesia, kan kita butuh, masih butuh banyak susu. Aku katakan 'oke', tapi aku tingkatkan ekspor CPO ke Jepang,” ucap Amran saat konferensi pers di Kantor Kementan. “Kami punya CPO yang besar, itu ada 5 juta ton. Nanti ditingkatkan seperti pada saat kami ke Yordania,” imbuhnya.
Menurut Amran, kondisi perubahan iklim global itu menjadi tantangan bagi berbagai negara, terutama sektor pertanian. Bahkan, kondisi tersebut diprediksi tak hanya berdampak bagi produktivitas pangan melainkan juga jumlah petani.
“Kondisi petaninya diprediksi akan berkurang, karena ada (perubahan) iklim sehingga produktivitas rendah berujung pada penghasilan, berpengaruh pada penghasilan. Indonesia juga mengalami hal serupa. Sehingga kami sampai sekarang, kita kolaborasi untuk menghadapi kondisi ini,” katanya.
Amran juga berbicara ihwal rencana ekspor beras ke Jepang yang, menurutnya, dapat dilakukan jika sudah ada perintah dari Presiden Prabowo Subianto. Meski demikian, baik Indonesia maupun Jepang masih berfokus pada kerja sama teknologi sehingga keputusan ekspor beras membutuhkan pembahasan teknis lanjutan.
“Kita kerja sama dulu. Kami loyal tanpa batas pada bapak presiden kalau beliau mengatakan ekspor, aku pasti lakukan ekspor tapi kita menjaga stok dalam negeri,” ujarnya.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































