tirto.id - Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengajak perguruan tinggi Nahdlatul Ulama terlibat dalam pengembangan program Sekolah Rakyat. Ajakan itu ia sampaikan saat menjadi keynote speaker dalam Malam Anugerah Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) 2026 di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Surabaya, Selasa (10/3/2026).
Menurut Gus Ipul, Presiden Prabowo Subianto kerap mengingatkan agar setiap kebijakan pemerintah memberi perhatian khusus kepada kelompok masyarakat yang sering luput dari perhatian sistem atau the invisible people.
“Kita mungkin berpapasan dengan mereka setiap hari, tetapi tidak benar-benar melihat kondisi mereka. Bukan karena mereka tidak ada, melainkan karena sering kali kita tidak mengetahui atau tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kesulitan yang sangat berat,” ujar Gus Ipul dalam siaran pers yang diterima tirto pada Kamis (11/3/2026).
Ia menjelaskan, kelompok tersebut tidak hanya berada di desa, tetapi juga di kota-kota besar. Mereka kerap berasal dari keluarga prasejahtera yang menghadapi transmisi kemiskinan antargenerasi.
Gus Ipul menilai penanganan masalah itu membutuhkan basis data yang terintegrasi. Selama ini, kata dia, setiap kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah memiliki data masing-masing sehingga memunculkan ego sektoral dalam penyaluran program.
Melalui Instruksi Presiden Nomor 4, pemerintah kemudian menyatukan berbagai basis data tersebut dalam satu sistem bernama Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Dalam setahun terakhir, Kementerian Sosial bersama Badan Pusat Statistik (BPS), kementerian terkait, serta pemerintah daerah melakukan konsolidasi agar seluruh program menggunakan rujukan data yang sama.
Menurut Gus Ipul, ketersediaan data terpadu akan membantu pembagian peran antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan.
Salah satu implementasi dari sistem data tunggal tersebut adalah program Sekolah Rakyat. Program ini dirancang sebagai upaya negara menjalankan amanat undang-undang untuk memelihara fakir miskin secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Ia juga membuka peluang keterlibatan berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan perguruan tinggi, dalam pengembangan program tersebut.
“Tujuan akhirnya adalah agar anak-anak dari keluarga miskin dapat tumbuh menjadi agen perubahan, bukan kembali terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sama,” kata Gus Ipul.
Malam Anugerah LPTNU 2026 sendiri menjadi ajang apresiasi bagi akademisi, lembaga, staf, dan mahasiswa berprestasi di lingkungan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU).
Penghargaan diberikan dalam sejumlah kategori, di antaranya ilmuwan Muslim berpengaruh, penghargaan pengabdian sepanjang hayat, dosen dengan karya ilmiah berpengaruh di bidang umum dan keagamaan, hingga mahasiswa berprestasi dan Duta PTNU.
Acara tersebut juga dihadiri Rektor UNUSA Tri Yogi Yuwono, Ketua LPTNU Ainun Na’im, serta mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh yang menerima penghargaan lifetime achievement.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































