Menuju konten utama

Menkes Ingatkan Bahaya Campak, 1 Terinfeksi Bisa Tulari 18 Orang

Lonjakan kasus campak saat ini merupakan dampak dari rendahnya cakupan imunisasi akibat pergeseran fokus selama pandemi COVID-19.

Menkes Ingatkan Bahaya Campak, 1 Terinfeksi Bisa Tulari 18 Orang
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kedua kiri) meninjau pelaksanaan imunisasi campak di TK Qurrota A'yun, Sumenep, Jawa Timur, Kamis (28/8/2025). Kunjungan tersebut untuk memantau secara langsung pelaksanaan imunisasi massal atau Outbreak Response Immunization (ORI) untuk mempercepat penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Sumenep. ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/rwa.

tirto.id - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, memperingatkan, campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan paling tinggi di dunia, satu orang terinfeksi dapat menulari hingga 18 orang lainnya. Budi pun menegaskan, lonjakan kasus saat ini merupakan dampak langsung dari rendahnya cakupan imunisasi akibat pergeseran fokus selama pandemi COVID-19.

“Campak ini satu orang bisa nularin sampai 18. Katanya sih rata-rata 15. Jadi ini penyakit yang di seluruh dunia penyakit menular yang paling menular,” ujar dia dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi IX DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Budi menjelaskan, secara medis campak bukan termasuk penyakit dengan tingkat kematian tertinggi. Namun, komplikasi yang ditimbulkan bisa berakibat fatal, seperti infeksi paru dan otak.

“Biasanya bisa infeksi di paru atau infeksi juga di otak. Jadi meninggalnya karena efek samping dari penyakit ini sendiri,” kata dia.

Menurut Budi, lonjakan kasus campak yang terjadi belakangan ini berkaitan erat dengan menurunnya cakupan imunisasi. Salah satu penyebabnya adalah pergeseran fokus layanan kesehatan saat pandemi COVID-19, yang membuat banyak anak tidak mendapatkan vaksinasi campak secara lengkap.

“Begitu penyakit menular ada vaksinnya, harusnya bisa ditangani. Jadi kalau ada outbreak-outbreak, itu sudah hampir pasti karena vaksinasinya nggak berjalan dengan baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, vaksinasi campak seharusnya diberikan dalam beberapa dosis. Namun, banyak anak yang terlewat imunisasinya dalam periode tersebut. Selain itu, isu kepercayaan terhadap vaksin, termasuk perdebatan halal-haram, juga menjadi hambatan dalam meningkatkan cakupan imunisasi.

“Nah kita juga tahu Campak ini sudah ada vaksinnya, cuma masalahnya waktu COVID sempat bergeser fokus kita memvaksinasi COVID sehingga banyak orang tua yang kemudian lewat Campak-nya. Karena Campak ini vaksinasinya kalau saya nggak salah nanti harus tiga kali. Dan yang kedua memang ini ada isu halal-haram vaksin ini. Jadi sempat ramai dan agak susah masuknya,” terangnya.

Untuk menekan lonjakan kasus, Budi mengatakan kementeriannya melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) di wilayah dengan kasus tinggi. Dalam program ini, seluruh anak di daerah terdampak akan kembali mendapatkan vaksinasi, terlepas dari status imunisasi sebelumnya.

“Begitu daerah-daerah yang tinggi, langsung sudah disuntik apa nggak disuntik kita suntik sekali lagi anak-anaknya. Langsung kita sapu bersih saja lah,” katanya.

Ia menyebut, langkah tersebut mulai menunjukkan hasil, seiring dengan meningkatnya cakupan imunisasi dan menurunnya kasus di lapangan. “Begitu imunisasinya naik, langsung kasusnya menurun di anak-anak,” ujarnya.

Dia pun menegaskan, tantangan terbesar dalam penanganan campak saat ini bukan pada ketersediaan vaksin atau pengobatan, melainkan pada meyakinkan masyarakat agar bersedia melakukan imunisasi.

“Sekali lagi susahnya apa? Susahnya hanya meyakinkan orang tua bahwa anaknya divaksinasi,” kata dia.

Ia bahkan menyinggung bahwa meningkatnya kesadaran masyarakat terkadang dipicu oleh munculnya kasus kematian akibat campak.

“Dengan adanya beberapa kasus yang anaknya meninggal, itu secara berita membantu kita. Kenapa? Karena orang tuanya jadi lebih ingin anaknya divaksinasi,” kata dia.

Kemudian, Budi juga menyebut pemerintah memperluas pemberian vaksin campak kepada tenaga kesehatan setelah adanya kasus seorang dokter asal Cianjur yang meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Dia menyebut, langkah ini diambil sebagai respons atas tingginya tingkat penularan campak serta risiko paparan di fasilitas layanan kesehatan.

“Kemarin ada satu dokter spesialis anak yang kena Campak, tapi kita sudah audit, kita bisa bilang bahwa yang bersangkutan bener kena Campak tapi memang karena telat dirawat di rumah sakit karena dia mengobati dirinya sendiri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keterlambatan penanganan menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi pasien. Dokter tersebut sempat dirawat secara mandiri di lingkungan keluarga sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah terlambat.

“Meninggalnya lebih karena itu. Karena keluarganya juga dokter, jadi dirawat di keluarganya nggak dikirim ke rumah sakit, begitu dikirim ke rumah sakit kondisinya sudah terlambat,” kata Busi.

Belajar dari kasus tersebut, Kemenkes tidak hanya memperkuat imunisasi pada anak-anak melalui program ORI. Kemenkes juga mulai menyasar kelompok tenaga medis dan tenaga kesehatan.

“Sehingga melihat itu, kita juga selain anak-anak yang kita ORI, kita juga suntikkan ini ke semua tenaga medis tenaga kesehatan,” ujarnya.

Namun demikian, perluasan vaksinasi ini sempat menghadapi kendala regulasi. Budi menjelaskan, vaksin campak sebelumnya hanya diindikasikan untuk anak-anak, sehingga diperlukan penyesuaian kebijakan agar dapat diberikan kepada orang dewasa.

“Ini ada proses sedikit karena memang vaksin Campak itu indikasinya di awal hanya diberikan ke anak-anak. Tapi karena kita melihat kemarin ada kejadian, kita minta BPOM supaya dibuka diberikan juga ke orang dewasa terutama tenaga kesehatan,” tutur Budi.

Ia menegaskan, langkah tersebut penting mengingat campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi. Sementara tenaga kesehatan, menjadi kelompok yang rentan terpapar.

“Karena sekali lagi ini kan penyakit yang menular penularannya cepat sehingga sekarang kita sudah jalankan, sekarang kita sedang sisir semua tenaga kesehatan untuk disuntikkan campak,” ujar dia.

Baca juga artikel terkait PENYAKIT CAMPAK atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Siti Fatimah