tirto.id - Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Anggraini Alam, mengingatkan bahaya penyakit campak yang sering dianggap remeh oleh masyarakat.
Bukan sekadar demam dan ruam kulit, campak memiliki risiko komplikasi mematikan mulai dari radang otak, kebutaan permanen, hingga kerusakan paru-paru berat.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI ini menegaskan bahwa persepsi campak sebagai penyakit ringan adalah kesalahan besar.
Tingkat penularan virus ini sangat ekstrem, bahkan jauh lebih cepat dibandingkan varian Covid-19 pada umumnya.
"Penularan campak itu bukan main. Mirip seperti TBC. Bayangkan dari satu (orang) itu bisa menularkan ke 18 orang. Sama seperti Covid-19. Ada namanya super spreading, bahkan," ujar Anggraini dalam media briefing IDAI secara daring, Sabtu (28/2/2026).
Anggraini menjelaskan bahwa virus campak menyebar melalui udara (airborne), bukan sekadar sentuhan. Virus ini bisa melayang-layang di udara hingga lebih dari dua jam setelah penderita batuk, bersin, atau berbicara.
Masa penularan bahkan sudah dimulai pada fase inkubasi, yakni saat virus masuk namun gejala fisik belum muncul. Hal ini membuat penyebaran sulit dideteksi sejak dini.
"Masa inkubasi bisa mencapai 3 minggu. Enggak ada yang tahu kan kalau dia bawa virus? Itu sudah menular," tambahnya.
Ancaman Radang Otak dan Kebutaan
Komplikasi campak menyerang hampir seluruh organ vital. Pada mata, virus campak menggerus cadangan Vitamin A dalam tubuh secara drastis. Jika tidak ditangani, kornea mata bisa menjadi kering dan berujung pada kebutaan permanen.
Risiko paling fatal menyasar sistem saraf pusat. Anggraini bilang, adanya risiko Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), sebuah komplikasi radang otak mematikan yang bisa muncul bertahun-tahun setelah anak sembuh dari campak.
"SSPE itu bukan sekarang (saat sakit), tetapi next bahkan dikatakan bisa 23 tahun setelah terkena campak,” ucapnya.
Dia mencontohkan, pasien yang masuk usia kelas 6 SD atau SMP, yang mengalami keluhan badan bergerak-gerak, prestasi sekolah turun, tangan gemetar dan pingsan.
“Goyang goyang goyang goyang, masuk ke kita, dengan pada akhirnya tinggal menunggu meninggal di usia 1 sampai 3 tahun kemudian,” imbuhnya.
Selain SSPE, komplikasi akut di minggu pertama infeksi juga bisa menyebabkan kematian hingga 20 persen akibat radang otak.
Selain itu, paru-paru juga menjadi sasaran utama virus ini. Data IDAI menunjukkan 77 persen anak penderita campak yang dirawat di rumah sakit mengalami komplikasi paru, dan 86 persen kematian pada kasus campak disebabkan oleh pneumonia.
Lebih lanjut, Anggraini menyoroti fenomena amnesia imun atau immunological amnesia. Campak dapat menghapus memori kekebalan tubuh yang sudah terbentuk sebelumnya, membuat anak menjadi rentan sakit-sakitan dalam jangka waktu lama pasca-infeksi.
"Ternyata berbagai potensial imun yang akan berperang ikut habis. Kemampuan daya tahan tubuh anak untuk training menghadapi penyakit menjadi turun. Penggantinya (imun) belum sanggup menjadi tentara," katanya.
Ia menekankan bahwa satu-satunya cara mencegah badai komplikasi ini adalah melalui imunisasi dengan cakupan tinggi dan merata, minimal 94 persen, untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).
"Jangan mengatakan penyakit hanya campak, karena bisa menimbulkan kecacatan sampai meninggal," tutur Anggraini.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id
































