tirto.id - Sebanyak 379 kasus campak terkonfirmasi di Indonesia selama lima pekan pertama 2026. Meski angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ada indikasi bahwa data tersebut belum menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Anggraini Alam, mengungkapkan bahwa rendahnya angka kasus pada awal 2026 bukan berarti penyakit campak telah terkendali. Ia menjelaskan, laboratorium di Indonesia saat ini sedang kewalahan (overwhelmed) memeriksa ribuan spesimen yang masuk.
"Di 2026 kok rendah (379 kasus terkonfirmasi)? Bukan apa-apa, karena memang walaupun suspect-nya 5.329 lebih, tetapi laboratoriumnya overwhelmed," ujar Anggraini dalam webinar Media Briefing IDAI, Sabtu (28/2/2026).
Dia membandingkan dengan situasi sepanjang 2025, di mana kasus konfirmasi campak mencapai 11.094, dengan total suspek lebih dari 63.769. Sepanjang tahun lalu, hampir 50.000 spesimen masuk ke laboratorium dengan positivity rate mencapai 24,6 persen.
"Bayangkan reagennya, bayangkan laboratoriumnya ya, yang masih terbatas se-Indonesia," tambahnya.
Anggraini juga merespons pernyataan anggota DPR yang menyebut Indonesia sebagai negara urutan kedua Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di dunia. Menurutnya, hal itu perlu dipahami dalam konteks metode pencatatan yang berbeda.
"Dikatakan di sini kasus enam bulan terakhir, ingat, semua kasus ini berdasarkan WHO mintanya confirm laboratorium, kecuali India. Kalau Indonesia itu betul-betul confirm. Jadi bayangkan kalau kita confirm itu jauh lebih sedikit dibandingkan bilamana suspect sebagaimana laporan India. Jadi inilah posisi kita. Posisi kita itu di bawah Yaman," jelasnya.
Adapun, berdasarkan data WHO, Indonesia memang berada di urutan dua dengan 10.744 kasus terkonfirmasi, berada di bawah Yaman dengan 11.288 kasus terkonfirmasi.
Sementara itu, dia menjelaskan bahwa campak bukan penyakit ringan. Ada tiga stadium yang harus diwaspadai, dimulai dengan demam tinggi disertai gejala khas "3C": Coryza (pilek), Conjunctivitis (mata merah), dan Cough (batuk) yang berlangsung 3-5 hari sebelum ruam muncul.
Anggraini menyoroti mudahnya penularan campak di era mobilitas global tinggi. Ia mencontohkan kasus baru-baru ini, di mana seorang pelancong dari Australia tertular campak saat berkunjung ke Indonesia dan kembali membawanya ke Perth.
"Manusia sebagai satu-satunya penjamu virus campak ke mana-mana dan mampu menularkan," ucapnya.
IDAI mengingatkan pentingnya kewaspadaan dini dan memastikan cakupan imunisasi tetap tinggi, mengingat virus campak hanya memiliki satu serotipe sehingga vaksin yang dikembangkan sejak 1954 masih efektif digunakan hingga kini.
“Sehingga strain yang dikembangkan, yang diisolasi dari tahun 1954 dikatakan Edmonston, anak cowok yang diberikan pertama kali vaksin campak ini, masih dapat digunakan sekarang,” pungkasnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fahreza Rizky
Masuk tirto.id
































