tirto.id - Sejumlah negara di Asia Tenggara saat ini berlomba mengembangkan ekosistem inovasi biomedis ataupun biofarmasi. Salah satunya adalah Thailand, yang memiliki National Biopharmaceutical Facility (NBF).
Lembaga ini dibangun guna mendukung riset, pengembangan Good Manufacturing Practices (GMP), dan keamanan vaksin nasional.
Tirto mengunjungi NBF yang berlokasi di King Mongkut's University of Technology Thonburi (KMUTT), Kampus Bangkhuntien, Bangkok, Selasa (7/7/2026), sebagai bagian dari rangkaian acara International Healthcare Week 2026 and CPHI South East Asia di Bangkok, 8-10 Juli 2026.
Mengenal NBF: Jembatan Riset dan Industri Thailand

Wakil Presiden KMUTT, Dr. Annop Nopharatana, dalam sambutannya mengatakan NBF bukan sekadar pusat riset. NBF juga mendukung transfer teknologi dan peningkatan skala manufaktur, memungkinkan temuan-temuan ilmiah untuk berkembang menuju produksi komersial.
Menurut Annop, NBF adalah infrastruktur strategis yang menjembatani riset ilmiah dengan aplikasi industri, memperkuat keamanan kesehatan Thailand, meningkatkan daya saing nasional, dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan industri biofarmasi.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Presiden untuk Strategi Riset di KMUTT sekaligus Plt. Direktur National Biopharmaceutical Facility, Dr. Warinthorn Songkasiri, mengatakan lembaganya bertanggung jawab sebagai Fasilitas Keamanan Vaksin Nasional dan Ekosistem untuk Industri Biofarmasi di Thailand dan ASEAN.
"Misi NBF untuk memperkuat kapabilitas negara dalam riset, pengembangan, dan manufaktur produk biofarmasi, sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi tantangan kesehatan masyarakat di masa depan," jelas Warinthorn.
Pusat Keunggulan Teknologi Kesehatan
Ada tiga Centers of Excellence yang menyediakan infrastruktur komprehensif mencakup setiap tahap pengembangan biofarmasi di NBF. Yaitu, Bioprocess Research and Innovation Center (BRIC) yang berfokus riset bioproses, pengembangan, optimalisasi, dan peningkatan skala manufaktur.
Di sini mereka menyediakan layanan desain proses, optimalisasi proses, cell banking yang sesuai standar GMP, transfer teknologi, dan pengembangan tenaga kerja — memungkinkan peneliti dan perusahaan bioteknologi menerjemahkan temuan laboratorium menjadi proses manufaktur yang dapat ditingkatkan skalanya.
Lalu ada Biopharmaceutical Characterization Laboratory (BPCL), yang diakui sebagai laboratorium karakterisasi biofarmasi khusus pertama di ASEAN.
Laboratorium ini menyediakan layanan analitik komprehensif untuk produk biofarmasi, mendukung karakterisasi produk, evaluasi kualitas, dan kepatuhan regulasi yang disyaratkan oleh otoritas regulator internasional.
Dan terakhir, GMP Production Facility. Di tahap ini, mereka mendukung manufaktur skala pilot untuk produk biofarmasi berkualitas riset klinis menggunakan platform teknologi mikrobial, sel mamalia, dan single-use.
Kapabilitasnya mencakup produksi pilot, pengisian aseptik, validasi proses, dan transfer teknologi, memfasilitasi transisi dari riset laboratorium ke manufaktur industri.
Komitmen Thailand untuk ASEAN
Aktivitas penelitian sel di ruang Cell Culture Room yang dilakukan tim peneliti dari National Biopharmaceutical Facility (NBF), Bangkok, Thailand, Selasa (7/7/2026). tirto.id/Bayu Septianto

Pemerintah Thailand berkomitmen NBF dapat mengembangkan keahlian ilmiah dan kemitraan industri untuk membangun ekosistem biofarmasi terintegrasi dan membangun kolaborasi di ASEAN.
Integrasi BRIC, BPCL, dan GMP Production Facility memberikan Thailand infrastruktur komprehensif yang mendukung seluruh rantai pengembangan biofarmasi — mulai dari riset dan pengembangan proses, karakterisasi analitik, manufaktur pilot, hingga kesiapan komersial.
Ekosistem terintegrasi ini membantu menjembatani kesenjangan antara riset ilmiah dan produksi industri, salah satu tantangan paling signifikan dalam industri biofarmasi global.
Ekosistem ini memungkinkan universitas, perusahaan bioteknologi, produsen farmasi, dan mitra internasional untuk mempercepat pengembangan produk, menekan biaya pengembangan, dan meningkatkan efisiensi transfer teknologi.
Adanya NBF ini menunjukkan ambisi Thailand menjadi hub biofarmasi terkemuka di Asia Tenggara.
Berdasarkan analisis pasar terbaru oleh IMARC Group (Report ID: SR112026A21764), pasar biofarmasi regional bernilai 6,7 miliar dolar AS pada 2025 dan diproyeksikan hampir dua kali lipat menjadi 12,8 miliar dolar AS pada 2034.
Proyeksi angka tersebut didorong oleh peningkatan belanja kesehatan, populasi yang menua, meningkatnya prevalensi penyakit kronis, kebijakan pemerintah yang mendukung, serta kemajuan pesat di bidang bioteknologi.
Di tengah kondisi ini, Thailand mengambil inisiatif berinvestasi secara strategis pada infrastruktur biofarmasi nasional untuk memperkuat daya saingnya dan memosisikan diri sebagai hub inovasi dan manufaktur regional.
Warinthorn Songkasiri menambahkan integrasi berbagai sektor di lembaganya, menambah optimistis Thailand menjadi infrastruktur komprehensif yang mendukung seluruh rantai pengembangan biofarmasi — mulai dari riset dan pengembangan proses, karakterisasi analitik, manufaktur pilot, hingga kesiapan komersial.
"Ekosistem terintegrasi ini membantu menjembatani kesenjangan antara riset ilmiah dan produksi industri, salah satu tantangan paling signifikan dalam industri biofarmasi global," terangnya.
Penulis: Bayu Septianto
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































