tirto.id - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mendorong percepatan kemandirian produksi vaksin nasional melalui pengembangan vaksin dengue berbasis teknologi mRNA.
Upaya tersebut diwujudkan melalui riset kolaborasi antara Universitas Indonesia dan Tsinghua University serta PT Etana Biotechnologies. Riset ini didukung dengan pendanaan sebesar Rp7 miliar yang digelontorkan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Rp9 miliar oleh PT Etana.
Dalam konferensi pers yang berlangsung usai acara Launch Ceremony of the mRNA Dengue Vaccine Prototype di Kementerian Kesehatan, Rabu (8/7/2026), Budi mengatakan riset tersebut diharapkan mampu menambah kapasitas Indonesia dalam memproduksi antigen vaksin secara mandiri.
“Tiga institusi ini melakukan penelitian untuk vaksin dengue dengan teknologi yang terbaru, namanya teknologi mRNA. Mudah-mudahan, kalau ini bisa selesai, bisa menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia. Karena, seperti saya sampaikan tadi, kita butuh 15 antigen, sementara baru 4 yang bisa diproduksi dari awal di Indonesia,” kata Budi.
Meski demikian, Budi mengungkapkan vaksin dengue mRNA belum dapat dipastikan menjadi bagian dari program imunisasi nasional. Sebab, kandidat vaksin tersebut masih berada pada tahap praklinis sehingga masih memerlukan serangkain pengujian guna memastikan keamanan dan efektivitasnya.
“Ini baru tahap-tahap awal untuk penelitian. Jadi, belum sampai yang tahap efikasi,” ungkap Budi.
Ketua tim peneliti, Betty, menjabarkan bahwa hasil uji praklinis menunjukan kandidat vaksin menghasilkan titer antibodi penetral terhadap virus dengue. Hal ini dinilai jauh lebih baik dibandingkan dengan vaksin komersial yang telah beredar.
“Itu jauh lebih baik dibandingkan dengan commercial vaccine yang sudah ada di Indonesia. Jadi, harapannya dalam waktu 6 bulan ini kami bisa mencoba melihat efikasinya pada subjek yang ada di Indonesia,” tutur Betty.
Namun demikian, Budi mengatakan akan tetap memprioritaskan vaksin dengan beban penyakit dan angka kematian tertinggi apabila nantinya vaksin dengue dipertimbangkan masuk ke dalam Program Imunisasi Nasional.
“Kalau ditanya tadi mau jadi vaksin program apa enggak, memang prioritas kami dari yang besar dulu. Kalau kebanyakan disuntik, ibu-ibu juga merasa tidak nyaman kalau anaknya kebanyakan disuntik. Kami akan pilih vaksin-vaksin baru yang disuntikkan adalah vaksin-vaksin yang paling banyak insiden dan paling banyak kematian,” jelas Budi.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, menegaskan regulator harus turut andil sejak tahap awal pengembangan vaksin.
Menurutnya, keterlibatan sejak fase awal penelitian diperlukan agar pengembangan kandidat vaksin memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu hingga nantinya proses registrasi dapat berjalan efektif.
“Jangan berpikir Badan POM itu hanya tukang stempel. Tapi, harus dilibatkan dari awal. Dan itulah pesan saya sebagai kepala Badan POM. Banyak sekali beberapa saat yang lalu produk-produk obat dan sebagainya ditolak karena sampai ke Badan POM karena Badan POM tidak dilibatkan dari awal. Karena kita tahu standarnya, metodenya, karakteristiknya, dan sebagainya, termasuk farmakokinetik, dinamik, dan sebagainya. Kami punya standar global,” tegas Taruna.
Taruna mengatakan BPOM berkomitmen mendukung pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA sejak tahap penelitian.
“Oleh karena itu, dalam hal pengembangan vaksin ini, Badan POM punya tekad akan mendukung secara maksimal yang kami bisa lakukan karena ini kita akan buat sejarah mRNA vaccine pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah,” harapnya.
Penulis: Khaila Adinda
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































