Menuju konten utama

Menteri Kolombia Dikecam karena Liburan di Tengah Bencana Gempa

Menteri Perumahan Kolombia Jaime Andres Beltran dikecam setelah berada di pantai bersama keluarga saat gempa menewaskan 312 orang dan melukai ribuan.

Menteri Kolombia Dikecam karena Liburan di Tengah Bencana Gempa
Anggota Palang Merah, pemadam kebakaran, dan Angkatan Laut Kolombia mengevakuasi jenazah dari sebuah bangunan yang runtuh akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,4 di kompleks perumahan Torres del Limonar, kawasan Capri, Cali selatan, Kolombia, pada 16 Agustus 2026. (Foto oleh Raul ARBOLEDA / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Perumahan Kolombia Jaime Andres Beltran tengah menjadi sorotan setelah foto dan video dirinya bersama keluarga tengah berada di sebuah pantai di kawasan Karibia muncul ketika negara tersebut masih menghadapi dampak akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4. Jaime memberikan klarifikasi di media sosialnya.

Gempa bumi yang mengguncang wilayah barat Kolombia pada 10 Agustus 2026 dengan kedalaman 110 km itu menewaskan ratusan orang, melukai ribuan lainnya, serta menyebabkan puluhan ribu rumah rusak.

Di tengah kondisi tersebut, keberadaan sang menteri di Santa Marta bersama keluarganya memicu kritik publik yang menilai dirinya seharusnya berada di garis depan penanganan bencana.

Klarifikasi Menteri Kolombia soal Foto Liburan Usai Bencana

Kontroversi mencuat pada akhir pekan lalu ketika foto dan video Menteri Perumahan Kolombia Jaime Andres Beltran beredar luas di media sosial. Dalam narasinya dikatakan jika Jaime sedang berada di pantai di Santa Marta, kota di pesisir Karibia, bersama keluarganya.

Pada 17 Agustus, Beltran membantah dirinya sedang berlibur. Melalui unggahan di X, ia mengatakan hanya menghabiskan beberapa jam bersama istri dan anak-anaknya setelah berhari-hari tidak bertemu keluarga, lalu segera kembali menjalankan tugas terkait proses rekonstruksi pascagempa.

“Saya adalah Menteri Perumahan, tetapi saya juga seorang ayah keluarga yang hadir, berkomitmen, dan peka dalam menghadapi apa yang terjadi di negara kita, tulis Jaime di akun X @soyjaimeandres.

“Saya ingin menekankan bahwa saya tidak sedang berlibur; saya ingin menghabiskan beberapa jam bersama istri dan anak-anak saya, yang belum saya temui selama beberapa hari, untuk segera melanjutkan pekerjaan saya dalam mengkonsolidasikan fase rekonstruksi daerah yang terkena gempa,” tegasnya.

Pernyataan tersebut belum meredakan kritik karena waktu kepergiannya bertepatan dengan fase krusial penanganan korban dan pengungsi. Salah satu yang mengkritisi hal itu adalah seorang jurnalis, Patricia Janiot.

Menurut Patricia, waktu untuk bertemu keluarga tidak harus dengan berlibur, melainkan cukup dengan bertemu di tempat kerja karena situasi yang terjadi di Kolombia saat ini sedang genting.

“Waktu yang sangat tidak tepat untuk perjalanan ke pantai. Menteri Jaime Andres Beltran bisa meminta keluarganya untuk datang ke tempat ia bekerja atau menunda pertemuan tersebut selama beberapa hari,” ucapnya di akun X @patriciajaniot.

“Negara membutuhkan komitmen dan efektivitas dalam solusi, dan meskipun menteri terus bekerja dari pantai, ini bukanlah citra terbaik bagi pejabat yang seharusnya berada di garis depan rekonstruksi hanya tujuh hari setelah gempa bumi,” tambahnya lagi.

Gempa di Kolombia

Sebuah foto udara memperlihatkan alat berat *backhoe* sedang menyingkirkan puing-puing bangunan yang runtuh di Pereira, Kolombia, pada 15 Agustus 2026,. (Foto oleh Luis ACOSTA / AFP)

Update Korban Gempa Kolombia

Dilansir Xinhua, update terbaru pada 19 Agustus 2026, jumlah korban tewas akibat gempa berkekuatan 7,4 di wilayah barat Kolombia telah mencapai 312 orang. Selain korban tewas, sebanyak 4.611 orang dilaporkan mengalami luka-luka dan 290 orang lainnya masih berstatus hilang.

Gempa yang berpusat di sekitar San Jose del Palmar tersebut juga menyebabkan sekitar 277 bangunan runtuh dan hampir 30.000 rumah mengalami kerusakan. Angka korban dan kerusakan masih berpotensi bertambah seiring proses pendataan dan pencarian terus berlangsung.

Untuk mempercepat penanganan, Presiden Kolombia Abelardo De La Espriella menetapkan status darurat ekonomi, yang memberikan pemerintah kewenangan mengambil langkah-langkah luar biasa guna mempercepat bantuan, rehabilitasi, dan rekonstruksi wilayah terdampak.

Dukungan internasional juga mulai berdatangan. Kementerian Luar Negeri Kolombia menyebut lebih dari 220 ton bantuan kemanusiaan telah tiba di negara tersebut, disertai 144 tenaga ahli internasional yang membantu operasi tanggap darurat.

Dari laman resmi pemerintah India dilaporkan jika negara tersebut turut memberikan bantuan dengan mengirimkan tahap awal sebanyak 20 metrik ton perlengkapan bantuan pada pekan sebelumnya.

Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar juga menyampaikan solidaritas pemerintah dan masyarakat India kepada rakyat Kolombia yang tengah menghadapi dampak gempa.

Lebih dari 120.000 keluarga terdampak gempa bumi di Kolombia membuat pemerintah menghadapi tekanan besar untuk menyediakan tempat tinggal bagi warga yang kehilangan rumah.

Menurut Egido Sanz, Direktur ActionAid untuk Kolombia, dilaporkan Al Jazeera (17/8/2026), kebutuhan paling mendesak dalam respons jangka menengah dan panjang saat ini adalah tempat berlindung dan hunian sementara.

Di kota-kota seperti Cali dan Pereira, pemerintah daerah telah mengubah sejumlah fasilitas publik, termasuk stadion olahraga dan pusat komunitas, menjadi tempat pengungsian sementara bagi warga terdampak.

Baca juga artikel terkait GEMPA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra