Menhan Ryamizard akan Bahas Penjarahan Kapal Perang di Rapim TNI

Oleh: Lalu Rahadian - 23 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Ryamizard berjanji akan kerahkan aparat keamanan untuk mengejar sindikat penjarah bangkai kapal asing di perairan Indonesia.
tirto.id - Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu mengaku belum mengetahui persoalan penjarahan bangkai kapal perang milik negara asing di perairan Indonesia. Informasi diakuinya baru didengar saat Tirto bertanya ihwal persoalan ini, pada Selasa (23/1/2018).

Seri laporan Tirto yang diterbitkan beberapa hari yang lalu (dan akan dilansir lagi besok) menyebutkan bahwa sepuluh kapal perang mereka yang tenggelam ketika Perang Dunia II hilang dicuri penjarah besi tua. Beberapa sudah raib tanpa jejak, beberapa tinggal sebagian.

Kapal-kapal Inggris itu bernama HMS Exeter, HMS Encounter (sisa 20 persen), HMS Electra (40 persen), HMS Repulse, HMS Prince of Wales, HMS Banka, Tien Kuang [HMS Tien Kwang], HMS Kuala, Lock Ranza, HMS Thanet, dan Hachian Maru (dua bendera: Jepang/Inggris). Dari sepuluh kapal itu, tujuh dijarah di Indonesia dan 4 kapal lain di perairan Malaysia.

Saat ini, satu per satu negara berdaulat yang kapal perangnya ketahuan dijarah di perairan Indonesia dan Malaysia angkat bicara. Senin (22/1/2018), misalnya, Parlemen Belanda berencana memanggil Menteri Pertahanan Belanda Anna Theodora Bernardina Bijleveld.

Pemerintah Inggris Raya juga merespons soal penjarahan bangkai kapal perang ini. Kepada The Guardian, media terkemuka di negara tersebut, juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan bahwa pemerintah negaranya "mengutuk gangguan yang tidak sah dari setiap rongsokan kapal karang yang berisi jasad manusia."

Lebih jauh, mereka menyebut kapal-kapal sisa perang dan artefak terkait jelas dilindungi oleh hukum internasional sehingga harus dijaga betul keberadaannya.

HMS Electra, salah satu kapal yang kini sisanya tak lebih dari 40 persen, adalah kuburan massal karena di sana—menurut data Kementerian Pertahanan Inggris—ada jasad tak kurang dari 119 orang. Kapal perang tak ubahnya seperti taman makam pahlawan di daratan yang wajib dihormati, sebab di sana sama-sama ada orang-orang yang mati karena membela negaranya.

"Kapal perang harus tetap tidak terganggu dan mereka yang kehilangan nyawa di sana harus diizinkan untuk beristirahat dalam damai," kata juru bicara tersebut.


Dalam kasus ini, Ryamizard berkata, dirinya akan menanyakan masalah penjarahan kapal perang di perairan Indonesia dalam Rapat Pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang diselenggarakan Selasa hingga Kamis (23 hingga 25/1/2018). Pertanyaan yang akan disampaikan khususnya mengenai tindakan aparat keamanan terhadap sindikat penjarah bangkai kapal perang.

"Nanti Rapim TNI saya ajak TNI dengan semua aparat untuk bicara masalah ini. Salah satunya (bicara soal sindikat penjarah kapal)," kata Ryamizard di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (23/1/2018).

Ryamizard berjanji akan mengerahkan aparat keamanan untuk mengejar sindikat penjarah bangkai kapal asing di perairan Indonesia. Pelaku penjarahan diduga perusahaan salvage (kegiatan bawah air) bernama PT Jatim Perkasa.
"Iya, dong [sindikat penjarah akan dikejar],” kata mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini.


Pada kesempatan yang sama, Ryamizard mengklaim tak ada pembicaraan seputar penjarahan bangkai kapal perang saat dirinya bertemu Menteri Pertahanan Amerika Serikat, James Mattis, pagi tadi. Padahal, satu kapal perang milik AS diketahui menjadi korban penjarahan tersebut.

Kapal yang dimaksud adalah USS Houston. Kapal tersebut karam di perairan Selat Sunda dalam pertempuran pada 1942 silam.

Ryamizard mengaku pihaknya akan menanyakan persoalan penjarahan bangkai kapal asing ke Mattis dalam jamuan makan malam nanti. "Nanti malam kan ada acara makan malam, mungkin saya tanyakan itu," ujarnya.

Selama menjalani pertemuan dengan Mattis pagi tadi, kata Ryamizard, dirinya hanya membicarakan persoalan keamanan Laut Cina Selatan, penanganan pengungsi dari Rohingya, pemberantasan jaringan teroris ISIS, dan Korea Utara.

Dalam konferensi persnya usai pertemuan dengan Ryamizard, Mattis sempat mengungkap pentingnya peran Indonesia dalam mengelola keamanan perairan di kawasan Pasifik. Karena posisi Indonesia dianggap penting, AS diklaim siap memberi bantuan untuk meningkatkan keamanan pelayaran di wilayah pasifik dan ASEAN.

"Wilayah maritim Indonesia di Pasifik sangat vital. Kami akan membantu Indonesia mengelola kedaulatan hak atas laut itu, di Laut Cina Selatan dan Laut Natuna Utara. Kami merencanakan bantuan itu dalam waktu dekat, kita harus bekerja sama," kata Mattis sesuai hasil terjemahan.

Akan tetapi, tak ada penjelasan dari Mattis ihwal sikap pemerintahnya menanggapi kejadian pencurian bangkai kapal USS Houston dari perairan Indonesia. Pertanyaan tersebut tak sempat ditanyakan karena Mattis hendak pergi untuk menghadiri acara lain.

Mattis hanya sempat menjawab sebuah pertanyaan mengenai posisi AS dalam Konvensi Hukum Laut International (UNCLOS). Ia mengakui ada beberapa prinsip dalam UNCLOS yang memang tidak diratifikasi negaranya.

Infografik HL Kapal Perang Termin Dua

Penjarahan Bangkai Kapal di Perairan Indonesia

Pengambilan kapal perang di dasar perairan Indonesia diduga dilakukan oleh kapal jenis barge crane produksi Tiongkok bernama Pioner 88. Bangkai kapal diangkut ke lokasi dumping di Pelabuhan Brondong, Lamongan, Jawa Timur.

Perusahaan yang diduga menjarah kapal perang di laut Indonesia terdiri dari dua PT dengan tugas yang berbeda: PT Jatim Perkasa Lines dan PT Jatim Perkasa Salvage. PT Jatim Perkasa Lines bergerak sebagai penyedia sewa perkapalan, sementara PT Jatim Perkasa Salvage khusus untuk beroperasi untuk kegiatan bawah air.

Pemilik PT Jatim Perkasa Salvage adalah Lin Qiqiang, warga negara China, menguasai 49 persen saham perusahaan. Sementara status hukum PT Jatim Perkasa Lines adalah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan sahamnya dimiliki WNI. Pada akta perusahaan, nama Zhang Qing tertera menguasai 48 persen saham, sementara 52 persen lain dipegang Merina Liem yang berasal dari Makassar.

Sindikat penjarah tersebut diduga telah menjarah puluhan kapal milik Belanda, Inggris, serta Amerika Serikat.
Kapal-kapal Inggris yang dijarah diantaranya HMS Exeter, HMS Encounter (sisa 20 persen), HMS Electra (40 persen), HMS Repulse, HMS Prince of Wales, HMS Banka, Tien Kuang [HMS Tien Kwang], HMS Kuala, Lock Ranza, HMS Thanet, dan Hachian Maru (dua bendera: Jepang/Inggris).

Kemudian, dua kapal perang Belanda bernama HNLMS Java dan HNLMS De Ruyter, yang karam tahun 1942 di dekat Pulau Bawean, juga ditemukan lenyap dari dasar laut. Padahal, masing-masing kapal memiliki panjang 155 meter dan 171 meter dengan lebar 16 meter.

Baca juga artikel terkait PENJARAHAN KAPAL atau tulisan menarik lainnya Lalu Rahadian
(tirto.id - Politik)

Reporter: Lalu Rahadian
Penulis: Lalu Rahadian
Editor: Abdul Aziz
DarkLight