Mengeruk Kapur Membangun Pencakar Langit

Oleh: Suhendra - 11 Agustus 2016
Dibaca Normal 4 menit
Kiprah bisnis pengusaha Martua Sitorus lebih dikenal di Wilmar International, yang berbasis di Singapura. Padahal selain Wilmar, Martua juga berkiprah melalui bisnis patungan dengan saudara tuanya Ganda Sitorus di Indonesia. Duet bersaudara ini mampu membangun bisnis raksasa seperti pabrik semen, hingga gedung pencakar langit tertinggi di Indonesia.
tirto.id - Pada satu siang yang terik, debu-debu berterbangan di sepanjang jalan sebuah pelosok Banten Selatan yang terkenal dengan pantainya yang sunyi dan tenang. Truk-truk besar yang lalu lalang mengangkut material telah mengubah wajah Bayah, sebuah kecamatan di Lebak, Banten yang dahulu “tempat jin buang anak”.

Tepat di bibir Pantai Bayah dengan karang dan deburan ombak pantai selatan, bangunan megah dan kokoh nampak mencolok mata bagi siapa saja yang melintas. Ya, itu lah pabrik Semen Merah Putih, yang didominasi kubah besar merah hati. Di sini lah masa depan Banten Selatan disandarkan, sebuah pusat industri penggerak ekonomi di kawasan perbukitan kapur (karst) hijau yang sudah berpuluh tahun tertidur.

Pabrik semen ini milik PT Cemindo Gemilang dengan kapasitas produksi klinker 10.000 ton per hari, atau setara 4 juta ton semen per tahun. PT Cemindo Gemilang merupakan bagian dari Gama Corporation, sebuah perusahaan patungan duo pengusaha bersaudara Ganda Sitorus, pemilik Ganda Group dan Martua Sitorus co-founder Wilmar International. Gama merupakan kependekan dari Ganda dan Martua (Ga-Ma). Ini mengingatkan dengan Wilmar yang juga kependekan dari William Kuok Khoon Hong pendiri Wilmar International, dengan Martua Sitorus (Wil-Mar).

“Wilmar International dan Gama Corporation adalah dua entitas yang berbeda dan terpisah. Kebetulan founder ada yang sama. Wilmar didirikan oleh William Kuok dan Martua Sitorus. Sedangkan Gama Corporation didirikan oleh Ganda dan Martua. Pak Ganda adalah kakak kandung dari Pak Martua Sitorus,” kata Direktur PT Cemindo Gemilang Andre Vincent Wenas kepada tirto.id, Kamis (11/8/2016)

Bisnis pabrik semen hanya salah satu ekspansi bisnis Gama Corporation. Perusahaan multi bisnis ini juga membangun bisnis properti melalui bendera Gamaland. Gamaland sebentar lagi akan meresmikan sebuah gedung pencakar langit di kawasan Kuningan, Jakarta. Namanya Gama Tower setinggi 288,6 meter, yang akan menjadi gedung tertinggi di Indonesia, mengalahkan rekor gedung tertinggi yang sudah lama dipegang oleh Wisma BNI 46 setinggi 262 meter. Gama Tower ini seolah menjadi monumen perekat dan penanda keberhasilan bisnis kedua bersaudara ini.

Udang, Kapur, dan Pencakar Langit

Jejak bisnis Martua Sitorus berawal dari bisnis kecil-kecilan. Forbes pernah menulis Martua memulai menapaki dunia bisnis sejak remaja dengan menjual udang. Martua juga sempat punya pabrik es untuk mendukung bisnis udangnya. Perjalanan bisnis pria kelahiran Pematangsiantar, Sumatera Utara ini meroket setelah bergabung dengan William Kuok Khoon Hong, seorang keponakan, miliarder asal Malaysia, Robert Kuok. Wiliam dan Martua membangun Wilmar International pada 1991.

Bisnis utamanya adalah perkebunan sawit yang mulai dijajaki sejak 1994. Setelah 25 tahun, Wilmar menggurita sebagai perusahaan agribisnis papan atas di Asia, dengan jumlah karyawan 92.000 orang. Wilmar memiliki 450 pabrik pengolahan perkebunan termasuk sawit dan gula di 15 negara.

Pria lulusan Universitas HKBP Nomensen ini menjabat orang nomor dua di Wilmar International sebagai Executive Deputy Chairman of the Group sejak 14 Juli 2006. Ia kemudian terpilih lagi pada 25 April 2013. Martua bertanggung jawab dalam pengembangan dan operasi bisnis Wilmar di Indonesia.

Ia juga menjadi langganan dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Forbes mencatat Martua masuk peringkat ke-25 dari 50 orang terkaya di Indonesia di 2015. Tahun ini peringkatnya membaik menjadi ke-16 terkaya. Kekayaan Martua terkini yang tercatat mencapai 1,25 miliar dolar AS.

Sementara itu, Ganda Sitorus hanya tamatan Sekolah Menengah Atas Taman Siswa di Pematangsiantar. Ganda membangun Ganda Group yang fokus bisnisnya pada perkebunan sawit, pertambangan, dan properti. Ia banyak membawahi berbagai perusahaan di Indonesia. Media globalcement.com pernah menulis Ganda Group melalui PT Cemindo Gemilang membangun pabrik semen senilai 450 juta dolar AS di kawasan seluas 500 hektar di Bayah, Banten. Mereka juga berinvestasi 150 juta dolar AS untuk infrastruktur pelabuhan dan jaringan listrik yang mendukung pabrik mereka.

Selain mengembangkan bisnis semen di Indonesia, PT Cemindo Gemilang telah mengakuisisi sebagian besar saham Chinfon Cement Corporation, Vietnam pada 2012. Di Indonesia, mereka menjual semen dengan merek "Semen Merah Putih" berlogo badak bercula satu ke 20 provinsi di Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Geliat bisnis Ganda dan Martua tak cukup membangun pabrik semen nan megah di kawasan terpencil. Di kawasan segitiga emas Jakarta, Jalan Rasuna Said Kuningan, mereka membangun gedung pencakar langit yang memecahkan rekor baru.

Gama Tower atau Rasuna Tower atau juga Cemindo Tower sebagai simbol kerajaan bisnis mereka berdua yang memiliki 63 lantai. Gedung ini akan dilengkapi perkantoran premium grade A seluas 60.000 meter persegi. Selain itu, di atas perkantoran akan ada hotel The Westin Jakarta setinggi 20 lantai dengan fasilitas 280 kamar.

Bangunan megah ini di bawah kendali Gamaland yang juga didirikan pada 2011, bersamaan dengan pabrik semen Bayah. Dalam 5 tahun, perusahaan pengembang duo Ganda dan Martua ini sudah memiliki banyak portofolio di dalam dan luar negeri. Gamaland memilik segmen properti seperti pengembangan kota, komersial, kawasan industri, perkantoran, hunian, hotel, hingga kampus bisnis bernama Wilmar Bisnis Indonesia. Properti mereka di luar negeri antara lain Aviva Tower setinggi 118 meter di London.

Geliat bisnis pengusaha bersaudara ini tentunya sebuah capaian yang positif. Keberadaan Gama Tower seolah menjadi simbol kesuksesan mereka. Di berbagai negara, pembangunan gedung pencakar langit juga sebagai simbol kebangkitan ekonomi dan keberhasilan pembangunan, termasuk yang terjadi di ASEAN.



Perlombaan Pencakar Langit


Empat tahun lalu pengusaha Tomy Winata juga berambisi membangun gedung pencakar langit tertinggi di Indonesia. Proyek bernama Signature Tower setinggi 638 meter dengan 111 lantai hendak dibangun di kawasan SCBD, Jakarta. Selain Signature Tower, PT Pertamina juga sempat berencana membangun gedung setinggi 530 meter dengan 99 lantai.

Awalnya, Signature Tower akan dibangun oleh Artha Graha pada 2012. Beberapa tahun berlalu, tak ada kabar kelanjutan pembangunan megaproyek itu. Kelesuan ekonomi diduga menjadi penyebab maju mundurnya proyek properti multifungsi tersebut. Memasuki 2016, Tomy Winata akhirnya memastikan proyek senilai 1 miliar dolar AS itu akan kembali digarap.

“Jadi dibangun. Sekarang ada penyempurnaan desain dan peningkatan kualitas agar masuk kelas kategori bintang 7 dan penyempurnaan art culture karakter Indonesia-nya. Insya Allah tahun ini bisa mulai,” kata pemilik Artha Graha Group, Tomy Winata kepada tirto.id, Kamis (24/3/2016)

Signature Tower dan Pertamina Tower belum terealisasi di Indonesia. Secara mengejutkan, Kamboja mengumumkan rencana pembangunan proyek gedung kembar pencakar langit setinggi 500 meter dengan 133 lantai pada Maret 2016. Gedung ini bernama Thai Bon Roong Twin Tower Trade Center Kamboja akan menjadi gedung tertinggi di Asia Tenggara. Saat ini, gedung tertinggi di Asia Tenggara masih dipegang oleh Menara Kembar Petronas (Malaysia) setinggi 452 meter dengan 88 lantai, Menara Telekom Towers (Malaysia) setinggi 310 meter mencakup 55 lantai.

Vietnam juga punya gedung tertinggi kedua di kawasan setinggi 345 meter dengan 77 lantai. Gedung dengan nama Keangnam Hanoi Landmark Tower di Hanoi itu rampung digarap sejak 2011. SementaraThailand memiliki Baiyoke Tower II setinggi 304 meter dengan 84 lantai di Bangkok.

Pada 2014, Thailand mengumumkan sebuah proyek properti ambisius di Bangkok dengan nama Rama IX Super Tower. Gedung ini dirancang setinggi 615 meter dengan 125 lantai. Calon gedung tertinggi yang akan menjadi maskot baru Thailand itu digadang-gadang masuk dalam daftar sepuluh besar gedung tertinggi di dunia. Proyek yang dikerjakan oleh pengembang lokal Grand Canal Land ini targetnya bisa rampung dalam 6 tahun.

Malaysia juga punya proyek serupa. Tak puas dengan Menara Kembar Petronas, Malaysia menyiapkan proyek gedung pencakar langit yang diberi nama Merdeka PNB118. Gedung yang disiapkan sebagai ikon baru Malaysia dirancang hingga 118 lantai dengan ketinggian hingga 630 meter. Bila jadi, gedung ini hanya lebih rendah 8 meter dari rencana Signature Tower di Jakarta. Perusahaan investasi pemerintah Malaysia, Permodalan Nasional Berhad (PNB) menjadi pelaksana proyek ini.

Proyek ambisi biasanya tak semuanya terealisasi, termasuk yang terjadi di Kamboja. Pengalaman selama ini pembangunan gedung pencakar langit sensitif terhadap perkembangan ekonomi. Ketika ekonomi lesu, biasanya proyek mercusuar pun ikut berhenti. Selama tiga tahun terakhir ekonomi Indonesia juga mengalami kelesuan. Namun, Gama Tower yang dibangun Ganda dan Martua Sitorus bersaudara mampu berdiri, dan mengangkangi gedung-gedung sekitarnya. Ini lah sebuah bukti, bisnis butuh keberanian seperti mambangun pabrik di kawasan terpencil.

Baca juga artikel terkait EKONOMI atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti