Mengenal Kegembiraan dan Ratapan Ibadah Puasa Umat Yahudi

Reporter: Arbi Sumandoyo - Selasa, 6 Juni 2017 02:24 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Banyak ibadah puasa umat Yahudi untuk memperingati malapetaka yang berkisar pada hancurnya Bait Suci dan upaya pembersihan bangsa Yahudi.
tirto.id - David Abraham, seorang warga Indonesia keturunan keluarga Yahudi, pernah berujar kepada saya bahwa di antara agama yang berumur tua di dunia, yang paling dekat adalah Islam dan Yahudi.

“Islam dan Yahudi itu agama yang paling dekat,” katanya. “Contohnya sunat dan memotong hewan secara halal."


Sebagaimana muslim, penganut Yudaisme pun berpuasa. Puasa ini ditentukan dalam kalender Ibrani, sebagaimana muslim berpuasa saat Ramadan dalam kalender Hijriah.


Dalam kalender Ibrani, ada beberapa hari puasa yang dijalankan penganut Yudaisme, banyak di antaranya memperingati malapetaka yang berkisar pada hancurnya Bait Suci atau upaya penghancuran bangsa Yahudi. Misalnya, pada 3 Tishrei, umat Yahudi melakukan puasa Gedaliah, hari puasa memperingati pembunuhan Gedalya, seorang gubernur Judea yang saleh. Pembunuhan itu mengakhiri otonomi Yahudi dan berlanjut penghancuran Bait Salomo.

Pada 10 Tishrei, umat Yahudi melakukan puasa Yom Kippur, sebuah hari paling kudus bagi umat Yahudi sepanjang tahun. Yom Kippur adalah hari umat Yahudi mendekatkan diri pada tuhan dan menyucikan jiwa. Hari ini disebut pula “hari penebusan” atau "hari perdamaian". Ini sebagaimana ditulis dalam Imamat 16:30 TB: “Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan Tuhan”.

Puasa ini dilakukan selama hampir 25 jam, beberapa menit sebelum matahari terbenam pada 9 Tishrei sampai matahari terbenam pada 10 Tishrei. Tahun lalu Yom Kippur jatuh pada 12 Oktober, sementara pada tahun ini jatuh pada 30 September.

Mirip dengan puasa Ramadan bagi umat muslim, puasa Yom Kippur adalah hari paling khidmat sepanjang tahun bagi umat Yahudi. Yom Kippur mengungkapkan suatu rasa percaya bahwa Tuhan menerima pertobatan, mengampuni dosa, dan menyegel tahun dengan kehidupan, kesehatan, dan kebahagiaan atau biasa disebut “Hari Raya Perdamaian”.


Selain puasa Yom Kippur, umat Yahudi masih memiliki hari lain untuk menjalankan puasa, yakni Asarah B’Tevet dan puasa Esther. Puasa Asarah B’Tevet jatuh pada 10 Tevet dalam kalender Ibrani, sedangkan puasa Esther jatuh pada 13 Adar dalam kalender Ibrani.

Puasa Asarah B’Tevet adalah puasa menandai awal mula pengepungan Yerusalem selama pemerintahan Nebukadnezar, yang berujung pada penghancuran Bait Hamikdash (Bait Allah) Pertama. Saat ini, Asara B’Tevet memiliki makna tambahan, yakni Yom Ha-Kaddish Ha-Klali, hari peringatan orang-orang Yahudi yang tewas selama peristiwa Holokaus yang hari kematiannya (Yahrzeit) tidak diketahui, dan bagi korban Holokaus dibacakanlah Kaddish.

Sedangkan puasa Esther adalah hari puasa yang dianggap hari raya paling menyenangkan sepanjang tahun. Ia menambah kegembiraan hari-hari Purim dan membuat umat Yahudi mengingat kembali tangan Allah dalam penghancuran Haman.

Puasa Esther dimulai sejak subuh 13 Adar dalam kalender Ibrani untuk memperingati tiga hari ketika Ester berpuasa sebelum menghadap Raja Ahasyweros atas nama bangsa Israel. Puasa ini merupakan hari peringatan orang Israel berperang menghadapi musuh mereka dari Kekaisaran Persia.

Infografik HL Puasa Revisi

Duka Tiga Minggu dan Hancurnya Bait Suci

Dua puasa lain dilakukan umat Yahudi adalah Shivah Asar B’Tammuz dan Tisha B’Av. Puasa ini jatuh pada 17 Tammuz dan 9 Av dalam kalender Ibrani. Kedua puasa ini masuk dalam “Masa Tiga Minggu”, masa berduka selama tiga pekan yang terkait hancurnya Bait Suci.

Ia memperingati saat tembok Yerusalem diruntuhkan dan diterobos oleh tentara. Masa ini mencapai puncaknya dan berakhir pada 9 Av (Tisha B’Av) saat Bait Suci Pertama maupun Kedua dilalap api. Ini adalah hari tersedih sepanjang kalender Ibrani. Ada banyak tragedi yang dialami bangsa Yahudi.

Ada tradisi yang harus dipatuhi dalam menjalankan puasa “Masa Tiga Minggu”. Misalnya, mengurangi kegiatan yang membuat hati senang, misal merayakan pesta pernikahan, tidak mendengarkan lagu atau musik, tidak mengucapkan berkat Shehecheyanu (perayaan hari spesial), dan tidak mencukur atau memotong rambut.

Sementara sembilan hari terakhir dimulai dari 1 Av dalam kalender Ibrani. Ini masa berduka paling intensif. Umat Yahudi pantang untuk makan makanan mewah, tidak minum anggur beralkohol, dan tidak memakai pakaian yang bersih. Sedangkan pada 9 Av atau Tisha B’Av, yakni hari puasa paling ketat, dijalani sejak matahari terbenam di hari sebelumnya: umat Yahudi berkumpul di sinagoga untuk membaca Kitab Ratapan.

Selain berpuasa, pada tanggal itu, umat Yahudi menahan diri dari kenikmatan duniawi seperti mandi, memakai pelembab, memakai sepatu kulit, dan berhubungan seksual. Sampai siang, umat Yahudi harus duduk di lantai atau kursi paling rendah.

Namun kedua puasa ini tidak berlaku jika jatuh di hari Sabat atau Sabtu, yang oleh umat Yahudi diyakini sebagai hari istirahat atau berhenti bekerja. Seperti pada 2016 lalu, kedua puasa itu jatuh di hari Sabat, maka umat Yahudi menangguhkan sampai hari berikutnya. Mereka akan menjalani puasa Shivah Asar B’Tammuz dan Tisha B’Av pada hari Minggu.

Baca juga artikel terkait PUASA atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Arbi Sumandoyo
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Fahri Salam

Artikel Lanjutan
DarkLight