Mengenal Anggrek Bulan, Salah Satu Bunga Nasional Indonesia

Oleh: Khairul Ma'arif - 21 Oktober 2019
Dibaca Normal 1 menit
Anggrek bulan, salah Bunga Nasional Indonesia sebagai puspa pesona.
tirto.id - Anggrek bulan merupakan puspa pesona Indonesia atau salah satu dari tiga Bunga Nasional yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 4/1993.

Tiga bunga yang dimaksud yaitu bunga melati (Jasminum sambac) sebagai puspa bangsa, bunga padma raksasa (Rafflesia arnoldii) sebagai puspa langka, dan bunga anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai puspa pesona.

Dikutip dari journal.uajy, anggrek bulan ditemukan pada abad ke-17 oleh Rumphius. Spesies anggrek bulan pertama kali ditemukan di Ambon pada tahun 1750, yang kemudian diberi nama Epidendrum albummajus.

Ada perbedaan pendapat mengenai penemu anggrek bulan ini. Ada juga yang mengatakan anggrek bulan pertama kali ditemukan oleh ahli botani asal Belanda bernama Dr. C.L. Blume.

Anggrek bulan merupakan salah satu spesies dari genus Phalaenopsis yang dianggap cukup penting karena peranannya sebagai induk dapat menghasilkan berbagai keturunan atau hibrida. Anggrek bulan termasuk anggrek epifit monopodial yang tumbuh menjuntai.

Batang anggrek bulan sangat pendek dan terbungkus oleh seludang daun. Daunnya berjumlah tidak lebih dari lima helai, berwarna hijau, tebal, berdaging, berbentuk lonjong bulat telur sungsang atau jorong, melebar di bagian ujungnya, berujung tumpul, atau sedikit meruncing, dengan panjang 20-30 cm dan lebar 5-8 cm.

Menurut Rukmana dalam Budi Daya Anggrek Bulan (2008), akar tanaman anggrek bulan terdiri dari dua macam yaitu akar lekat dan akar udara. Akar lekat berfungsi untuk melekat dan menahan keseluruhan tanaman agar tetap berada pada posisinya, sedangkan akar udara 9 berperan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena berkemampuan menyerap unsur hara.

Anggrek bulan dapat tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan dan umumnya hidup pada ketinggian 50-600 mdpl, juga dapat berkembang dengan baik pada ketinggian 700-1.100 mdpl. Anggrek ini tumbuh epifit atau menempel di pohon yang cukup rindang dan menyukai tempat yang teduh serta lembab, terutama di hutan basah dengan curah hujan 1.500-2.000 mm/tahun.

Walau tumbuh di daerah tropis, anggrek ini membutuhkan sedikit cahaya matahari (12.000-20.000 lux) sebagai penunjang hidupnya karena tidak tahan terhadap sengatan matahari langsung.

Rukmana dalam buku yang sama menulsikan, kedudukan tanaman anggrek bulan dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut ini.
  • Kerajaan: Plantae
  • Divisi: Spermatophyta
  • Kelas: Monocotyledonae
  • Bangsa: Orchidales
  • Suku: Orchidaceae
  • Marga: Phalaenopsis
  • Jenis: Phalaenopsis amabilis
Tumbuhan dengan suku ini memiliki kecenderungan organ-organ yang sukulen atau "berdaging" tebal dengan kandungan air yang tinggi. Dengan begitu tumbuhan ini dapat hidup pada kondisi ketersediaan air yang rendah.

Air diperoleh dari hujan, tetesan, embun, atau uap air di udara. Namun, anggrek tidak ditemukan di daerah gurun karena perakarannya tidak intensif. Tanaman anggrek ini tersebar luas mulai dari Malaysia, Indonesia, Filipina, Papua, hingga ke Australia.


Baca juga artikel terkait ANGGREK atau tulisan menarik lainnya Khairul Ma'arif
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Khairul Ma'arif
Penulis: Khairul Ma'arif
Editor: Dipna Videlia Putsanra
DarkLight