Mengapa Orang Amerika Benci Subtitle dan Film Berbahasa Asing?

FIlm Parasite. FOTO/imdb
Oleh: Faisal Irfani - 17 Januari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Bahasa menjadi ganjalan besar bagi masyarakat AS untuk menikmati film-film berbahasa asing.
Film Parasite kembali menorehkan tinta emas. Setelah beberapa bulan lalu didapuk sebagai pemenang Palem Emas—Palme d’Or—Festival Film Cannes, Kamis awal Januari kemarin giliran ajang Golden Globe yang memberinya penghargaan serupa: Film Berbahasa Asing Terbaik.

Kemenangan Parasite memang patut dirayakan. Namun, pidato sang sutradara, Bong Joon-ho, juga tak boleh dilewatkan begitu saja.

“Ketika Anda bisa mengatasi hambatan bahasa [dalam film], maka Anda akan diperkenalkan dengan banyak film yang luar biasa,” katanya, dibantu penerjemah, seperti diberitakan Dazed Digital.

“[…] Saya pikir kami hanya menggunakan satu bahasa: film.”


Apa yang diungkapkan Bong seperti merangkum kondisi film berbahasa asing di pasar AS. Mari kita lihat data yang ada. Laporan Box Office Mojo, seperti dipacak Indiewire, menyebut bahwa film box office berbahasa asing telah mengalami penurunan pendapatan selama rentang tujuh tahun. Pada 2007, misalnya, lima film berbahasa asing teratas mengumpulkan $38 juta. Jumlah itu menurun jadi setengahnya, sekitar $15 juta, pada 2013.

Laporan Statista semakin menebalkan tren yang dialami film-film berbahasa asing. Data dari Statista mengambil film-film berbahasa asing yang masuk nominasi Oscar. Kesimpulan yang didapat yakni bahwa sekalipun film-film tersebut berjaya di Eropa dan sekitarnya, mereka melempem di pasar AS.

Film asal Italia garapan Paolo Sorrentino, The Great Beauty (2014), misalnya, hanya memperoleh $2,85 juta di AS—jauh ketimbang yang dikumpulkan di luar AS, yakni sebesar $18,5 juta. A Separation, film sineas Iran Asghar Farhadi yang menang Oscar untuk Film Berbahasa Asing Terbaik pada 2011, juga bernasib sama. Di luar AS, A Separation mendapatkan $12,8 juta. Sementara ketika diputar di AS, ia cuma memperoleh $7,1 juta.

Apa yang jadi penyebabnya? Anthony Kaufman, dalam laporannya berjudul “The Lonely Subtitle: Here's Why U.S. Audiences Are Abandoning Foreign-Language Films” yang diterbitkan Indiewire (2014), mencoba menjawab permasalahan tersebut.

Menurut Kaufman, faktor pertama yang menjadi pemicunya adalah kurangnya rumah produksi yang merilis film-film berbahasa asing. Tercatat, di Hollywood, hanya ada Miramax, Weinstein Company, dan Sony Picture Classics yang cukup rutin mendistribusikan film-film berbahasa asing di pasar AS. Dari mereka, publik AS mengenal The Artist (2011), The Grandmaster (2013), The Intouchables (2011), Amour (2012), A Separation, The Lunchbox (2013), hingga The Raid: Redemption (2011) yang dibintangi jagoan lokal kita: Iko Uwais.

Layanan streaming seperti Netflix, tulis Kaufman, sebetulnya dapat menjadi solusi kurangnya rumah produksi itu. Namun, alih-alih membantu, layanan streaming justru kian mempersempit akses bagi penyebaran film-film berbahasa asing. Alasannya sederhana: penyedia layanan streaming cenderung memilih film-film yang jelas laku, ketimbang mesti berjudi dengan film antah berantah. Jika pun ada, mereka lebih memasang film-film berbahasa asing yang berstatus klasik seperti Seven Samurai (1954) garapan Akiro Kurosawa atau Amelie (2001) yang dibintangi Audrey Tautou.

Walhasil, banyak dari film-film berbahasa asing tersebut yang kemudian lari ke platform yang kecil macam MUBI, Fandor, hingga SnagFilm. Kendati pertumbuhan layanan ini tergolong pesat, tapi pendapatan yang dihasilkan masih kalah jauh dari pemain besar seperti Netflix.

Faktor ketiga, dan ini yang paling krusial, adalah bahasa. Stephen Galloway, lewat “How Hollywood Conquered the World (All Over Again)” yang dipublikasikan Foreign Policy (2012), mengatakan orang-orang AS tidak suka fasilitas alih bahasa dan tak terlalu akrab dengan sulih suara. Padahal, dua hal itu memudahkan film-film berbahasa asing dinikmati di luar negara asalnya.

Soal alih bahasa, atau populer dengan subtitle, memang jadi masalah lawas di Hollywood. Jurnalis The New York Times, Judith Shulevitz, dalam laporannya bertajuk “Film; Subtitles Have the Last Word in Foreign Films” (1992), menjelaskan subtitle adalah hambatan utama menuju film-film berbahasa asing.

Kekeliruan terjemahan menjadi pemandangan yang sering dijumpai di film-film berbahasa asing. Ini, tulis Shulevitz, memperlihatkan betapa serampangannya perusahaan-perusahaan di Hollywood dalam memperlakukan film berbahasa asing. Mereka tak ingin mengeluarkan sedikit lebih banyak uang untuk mempekerjakan penerjemah yang kompeten. Keadaan tersebut kemudian berimbas pada turut berubahnya persepsi penonton terhadap suatu adegan maupun film secara keseluruhan hanya gara-gara kesalahan penerjemahan.



Selain soal teknis, alasan lain yang kerap dijadikan justifikasi ialah keberadaan subtitle merusak esensi dan orisinalitas film bersangkutan. Oleh para penggemar film puritan, eksistensi subtitle dinilai tak ubahnya seperti dosa yang mesti dijauhi. Jonas Mekar, Direktur Artistik Anthology Film Archives, New York, mengatakan kepada Shulevitz bahwa subtitle “benar-benar mengubah pandangan Anda tentang film.”

Padahal, mengutip penelitian David Orrego-Carmona, pengajar studi alih-bahasa di Aston University, penonton lebih suka subtitle, termasuk di negara-negara yang punya tradisi panjang soal film. Penggunaan subtitle lebih praktis ketimbang sulih-suara, subtitle tak ‘merusak’ film sebab suara asli pemain tetap dipertahankan, serta terjemahan bahasa membuka kesempatan para penonton untuk menikmati film-film di luar negara asalnya. Pendeknya, fasilitas terjemahan bahasa menawarkan kesempatan yang lebih luas bagi audiens—dan produser.

“Semua bentuk terjemahan menawarkan peluang untuk meningkatkan aksesibilitas. Upaya distributor dalam menyediakan banyak pilihan [bahasa], selain masuk akal secara komersial, juga merupakan langkah positif untuk sosial maupun budaya. Tetapi, upaya tersebut tak boleh sekadar karena kepentingan komersial. Kalau begitu, upaya yang ada berisiko tak membuahkan hasil,” demikian tulis Orrego-Carmona.

Kurangnya minat terhadap film-film berbahasa asing rupanya turut merembet ke kompetisi sekelas Oscar. Sejarah mencatat, belum pernah ada film berbahasa asing yang menang di kategori Film Terbaik (Best Picture). Paling-paling film-film tersebut hanya masuk nominasi, seperti yang terjadi pada Amour, Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000), Roma (2018), dan yang terbaru Parasite (2019).

Tak jarang, situasi tersebut melahirkan perdebatan di kalangan penikmat film. Mereka mengkritik standar penilaian Oscar yang kelewat abai akan film-film berbahasa asing yang—jika boleh diadu—tak kalah kualitas ketimbang film bikinan Hollywood.

“Anda bisa menonton film-film hebat dari sutradara dunia seperti Godard, Ozu, Fellini, atau Bergman dan bertanya: ‘Apakah tidak ada film mereka yang memenuhi persyaratan ‘bagus’ dari Hollywood?’” tulis Steve Rose dalam artikelnya di The Guardian (2019).


Asal Tak Bikin Remake

Untungnya kesadaran untuk menyebarluaskan film-film berbahasa asing mulai tumbuh di kalangan pelaku industri Hollywood. Di era kiwari, bermunculan nama-nama baru yang reputasinya cukup mentereng. Selain Sony Picture Classics, ada IFC Films, Magnolia, Annapurna, hingga A24 yang konsisten dalam menggarap ceruk pasar film-film berbahasa asing.

“Film berbahasa asing itu penting dan layak untuk dilihat di AS,” tegas Arianna Bocco, petinggi IFC Films, kepada Variety (2019). IFC sendiri, sejauh ini, telah mendistribusikan film-film garapan Olivier Assayas (Perancis), Alfonso Cuaron (Meksiko), Susanne Bier (Denmark), sampai Mia Hansen-Love (Perancis).

Meski demikian, hitung-hitungan laba tetap menjadi pertimbangan distributor. Yang paling kentara: mereka tidak terlalu banyak menyebarkan film berbahasa asing.

“Film berbahasa asing tidak pernah menjadi bisnis besar. Tapi, kami masih percaya pada film berkualitas apa pun bahasanya,” terang Michael Barker, Wakil Presiden Sony Picture Classics. “Ada publik yang ingin melihat film-film itu. Anda hanya harus berhati-hati soal berapa banyak yang Anda beli dan apa yang Anda belanjakan.”

Ya, setidaknya upaya yang diambil tidak melulu dengan jalan remake. Ingat bagaimana Oldboy (2003) garapan Park Chan-wook dibikin ulang oleh Spike Lee satu dekade berselang dan hasilnya luar biasa jelek?

Baca juga artikel terkait FILM HOLLYWOOD atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight