Misbar

Parasite: Tragikomedi Kesenjangan Sosial yang Nyaris Sempurna

Infografik Misbar Parasit
Film Parasite. FOTO/imdb
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 27 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Film ini bisa menjadi penuntas rindu pada thriller-drama ala Bong Joon-ho, yang khas Korea dan pernah berjaya pada era 2000-an.
tirto.id - Permulaan Parasite adalah panggung tragedi bagi keluarga miskin Kim Ki-taek (Song Kang-ho). Ia bekas supir yang menganggur. Sehari-hari bekerja borongan melipat kardus pizza dengan dibantu istrinya, Choong Sook (Jang Hye-jin), dan kedua anaknya Ki-woo (Choi Woo-shik) dan Ki-jeong (Park So-Dam).

Berapapun akan mereka terima asal bisa untuk makan sehari-hari di rumah semi-basement di ujung sebuah gang. Isinya sempit dan lembab. Jendela kacanya sejajar dengan jalan sehingga mereka bisa menonton setiap kejadian di gang—termasuk tetangga pemabuk yang suka kencing sembarangan.

Saking miskinnya, Ki-woo dan Ki-jeong hanya bisa main ponsel di area toilet rumah dengan menumpang WiFi tetangga. Di lain waktu Ki-taek membiarkan jendela dibuka agar isi rumah terpapar fogging gratis.

Permulaan film produksi Korea Selatan ini juga panggung komedi sebab adegan-adegan tersebut dibungkus secara humoris. Mereka tidak terlihat depresif. Bahkan bisa dibilang santai. Atau barangkali mereka sudah terbiasa dengan penderitaan hidup serta sudah terlatih untuk menjadikannya lelucon.

Cerita mulai menarik saat teman Ki-woo menawarinya pekerjaan sebagai guru les seorang siswi SMA yang berasal dari keluarga kaya. Berbekal ijasah yang dipalsukan Ki-jeong, Ki-woo yang berkali-kali gagal ujian masuk kampus kemudian berangkat ke sebuah rumah bergaya modern di kawasan warga kelas atas.


Babak selanjutnya adalah panggung kesejahteraan keluarga Park. Mereka terdiri dari Tuan Park (Lee Sun-kyun), Nyonya Park (Cho Yeo-jeong), anak perempuannya Da-hye (Jung Ziso)—yang akan diajar oleh Ki-woo—dan adik laki-lakinya yang masih anak-anak, Da-song (Jung-Hyeon-jun).

“Dari luar bagus ya rumahnya,” komentar Ki-woo sambil mengagumi rerumputan lapang di halaman depan. “Di dalamnya juga bagus,” jawaban pembantu rumah Moon-gwang (Lee Jung-eun) ini bersifat serta-merta dan memancing tawa.

Awalnya Nyonya Park menyeleksi Ki-woo dengan metode wawancara—berjalan mulus karena Ki-woo jago menjual omong kosong. Lalu berlanjut ke sesi pengajaran pertama, yang turut memercik kemesraan antara Da-hye dan guru lesnya.

Sejak resmi bekerja untuk keluarga Park, Ki-woo sudah berpikir tentang cara terbaik untuk mengeksploitasi kesempatan berharga tersebut.

Saat Nyonya Park bercerita bahwa anak laki-lakinya juga membutuhkan guru les menggambar, Ki-woo mengatakan dirinya kenal dengan seorang pengajar seni untuk anak-anak dengan latar belakang dan kemampuan serba-menarik.

Keesokan harinya ia membawa Ki-jong, adik perempuannya. Ki-jong tidak menyandang latar belakang yang semenarik pernyataan kakaknya. Ia cukup datang dengan mengenakan seragam rapi, berakting seakan-akan paham dunia seni, sampai akhirnya disetujui untuk mendidik Da-song.

Misi penipuan berantai belumlah selesai. Lewat fitnah-fitnah terstruktur, Ki-taek berhasil menjadi supir baru Tuan Park, sementara Choong Sook mampu menggantikan posisi pembantu lama.

Keluarga Park tentu tidak mengetahui jika keempat orang yang bekerja di rumahnya, yang digaji secara memuaskan, ialah satu keluarga. Namun kegembiraan Ki-taek sekeluarga juga tak berlangsung lama. Pangkalnya adalah penemuan yang mengejutkan di ruang bawah tanah rumah Tuan Park.


Parasite (berjudul asli Gisaengchung) adalah film dengan pemain, penulis naskah, dan kru asli Korea Selatan pertama yang bekerja untuk sutradara Bong Joon-ho dalam satu dekade terakhir. Sebelumnya ia asyik berkolaborasi dengan pihak-pihak dari Amerika Serikat.

Bagi saya pribadi, entah mengapa, kolaborasi tersebut menghasilkan film-film yang kurang nyaman untuk ditonton (Snowpriercer dan Okja). Kesan yang muncul ialah alur hingga dialog yang disusun Joon-ho bakal memikat untuk konteks Korea, tapi cenderung lemah jika melibatkan elemen-elemen Barat.

Saya jauh lebih mengapresiasi Memories of Murder (2003) dan Mother (2009)—dua film Joon-ho yang berstatus 100 persen Korea. Saya tidak sendirian. Quentin Tarantino, misalnya, memandang Memories of Murder sebagai “karya agung” dan mendaulat Joon-ho sebagai sineas Korea favoritnya.

Joon-ho, yang matang di genre thriller-misteri, menurut saya mampu menyejajarkan Parasite dengan Memories of Murder dan Mother dari segi kualitas. Dalam konteks tragikomedi, film ini nyaris sempura karena tereksekusi dengan baik dari berbagai aspek.

Mencampuradukkan tragedi dan komedi adalah pekerjaan yang beresiko. Jika gagal, film akan menghasilkan cringe demi cringe yang membuat penonton tidak nyaman dalam arti negatif. Jika berhasil, penonton justru diajak menertawakan kisah sedih dalam perasaan tidak nyaman dalam arti positif.

Modal Joon-ho untuk menyuguhkan gado-gado emosi tersebut adalah alur cerita yang matang serta eksplorasi mendalam terkait benturan antar-kelas sosial.


Sejak awal penonton bersimpati dengan kemiskinan yang mendera keluarga Ki-taek. Meski melakukan penipuan berantai, mereka cenderung bisa dimaklumi. Bukan karena mereka ditempatkan sebagai para tokoh utama semata, tapi karena mereka dinarasikan sebagai korban kemiskinan sistematis.

Kemiskinan sistematis yakni ketika seseorang menderita karena warisan keluarganya, korban kebijakan pemerintah, tinggal di wilayah kumuh, atau kondisi-kondisi yang tak terhindarkan lainnya. Masyarakat cenderung simpatik—bahkan memaklumi jika mereka bertindak kriminal atas nama keterpaksaan.

Kebetulan saja Ki-woon bertemu Nyonya Park yang kelewat polos, lalu insting nakalnya memunculkan ide penipuan berantai. Kebaikan hati Nyonya Park sempat dibahas keluarga Ki-taek pada suatu malam yang mereka isi dengan mabuk-mabukan di ruang tengah rumah Tuan Park.

“Jika aku kaya, aku juga akan jadi orang yang baiik banget. Uang adalah setrika, yang mengaluskan segala problem yang berkerut,” kata Choong Sook.

Selama masing-masing anggota keluarga Ki-taek menjalankan pekerjaannya masing-masing dengan baik, skenario menjadi parasit di tubuh keluarga Park sesungguhnya tidak merugikan kedua belah pihak.

Pengecualiannya tentu saja pada supir dan pembantu lama. Tapi Joon-ho menambal problem moralitas itu dengan argumen-argumen seperti “tenang saja, si supir masih muda dan berbakat, pasti akan mudah mendapat pekerjaan di tempat lain.”

Kejahatan yang mereka lakukan awalnya mirip perfect crime film-film noir. Namun Joon-ho tidak membungkus Parasite sebagai skenario kejahatan tunggal. Sejak dua per tiga film para tokoh utama justru terjebak oleh situasi yang serba-tidak menguntungkan dan yang tidak mereka diduga sebelumnya.


Saat bekerja di genre drama/thriller/misteri, Joon-ho hampir tidak pernah menciptakan konflik yang hitam-putih. Parasite mendorong penonton untuk merasa gemas bukan karena disuguhi kejahatan murni versus kebaikan murni, tetapi sesederhana kemalangan para tokoh.

Aroma ketegangan pun menyeruak saat keluarga Ki-taek mencoba keluar dari masalah yang mereka hadapi secara tiba-tiba, setapak demi setapak, hingga mencapai klimaks yang berdarah-darah.

Pada bagian akhir saya tersadar bahwa yang antagonis bukan keluarga A atau B, tapi sistem yang melanggengkan kesenjangan sosial-ekonomi secara ekstrem.

Mengingat sistem itu membelah masyarakat di berbagai tempat, termasuk Jakarta, menonton Parasite bisa berfungsi sebagai semacam katarsis sekaligus refleksi atas kesenjangan sosial-ekonomi yang terpampang nyata di sekitar kita.



Ada detil-detil yang pada awalnya terasa sepele namun di bagian tengah atau akhir berperan penting baik sebagai simbolisme unik, terciptanya plot-twist, atau kemunculaan konsekuensi tragis. Tanpa mengesampingkan selipan-selipan komedi segar, muncul pula adegan romantis yang pas.

Parasite terjamin secara visual berkat kehadiran Hong Kyung-pyo, salah satu sinematografer terbaik Korea saat ini. Anda bisa menyaksikan hasil kerjanya di The Wailing (2016), atau Burning (2018), yang tahun lalu menuai pujian dari para kritikus serta masuk nominasi Palme d'Or di Festival Film Cannes.

Para pemeran menampilkan akting yang baik. Sorotan utama masih tertuju pada Song Kang-ho, aktor papan atas yang jadi langganan Joon-ho sejak Memories of Murder. Barangkali tipikal, tapi menempatkannya ke dalam karakter ayah dari keluarga miskin adalah penugasan yang tepat.

Parasite diganjar Palm d’Or pada Festival Film Cannes 2019—prestasi pertama untuk film asal Korea Selatan. Kesan mendalam dirasakan oleh para penonton—yang mempersembahkan standing ovation untuk Joon-ho bahkan sebelum kredit film habis.

Baca juga artikel terkait SINOPSIS FILM atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight