Menuju konten utama

Mencegat Drone Murah Perang Iran Bikin AS Boncos, Apa Alasannya?

Serangan drone Iran jauh lebih ekonomis ketimbang saat sistem pertahanan AS mesti mencegatnya menggunakan rudal Patriot. Bagaimana perbandingan ongkosnya?

Mencegat Drone Murah Perang Iran Bikin AS Boncos, Apa Alasannya?
Gambar selebaran yang dirilis oleh Kantor Angkatan Darat Iran pada tanggal 13 Januari 2025 menunjukkan sistem pesawat nirawak (UAS), yang umumnya dikenal sebagai pesawat tanpa awak, yang diserahkan kepada Angkatan Darat Iran oleh Kementerian Pertahanan negara tersebut, dalam sebuah upacara di Teheran. (Foto oleh Kantor Angkatan Darat Iran / AFP)

tirto.id - Perang Iran telah memasuki hari ke-10 per Senin (9/3/2026). Korban jiwa di Iran terus berjatuhan dan jumlahnya terus melonjak. Namun, serangan drone dari Teheran kini berpotensi membuat AS boncos atau rugi dari sisi keekonomian, mengapa begitu?

Selama lebih dari sepekan sejak serangan pertama AS-Israel ke Iran pada 28 Februari, Iran terus digempur rudal. Serangan udara AS-Israel bahkan telah menghancurkan fasilitas penyimpanan dan penyulingan minyak di Teheran pada Sabtu (7/3), dikutip dari Al Jazeera.

Di sisi lain, Iran terus melakukan serangan ke wilayah sekutu AS di Teluk dengan drone dan rudal. Pada Minggu (8/3), drone Iran dilaporkan telah merusak sejumlah fasilitas di Bahrain dan Arab Saudi.

Meskipun sejauh ini skala kerusakan serangan udara AS-Israel di Iran jauh lebih besar daripada dampak serangan drone yang diluncurkan Teheran, namun pola serangan Iran berpotensi membuat dana perang AS membengkak hingga jutaan dolar.

Potensi kerugian AS dalam perang Iran ini disebabkan karena pola serangan drone Teheran dan cara AS beserta sekutunya mencegat serangan itu. Sistem pertahanan udara sekutu AS di kawasan Teluk dan Israel dapat mencegah kerusakan, namun tidak dapat mencegah kerugian dari sisi keekonomian.

Perbandingan Harga Drone Iran dengan Rudal Patriot

Potensi AS boncos dalam perang Iran terkait spesifikasi drone Teheran. Iran sejauh ini kerap menggunakan drone Shahed, pesawat kamikaze tanpa awak yang mampu membawa hingga 40 kg.

Serangan drone Shahed dari Teheran itu sejauh ini dapat dicegat oleh AS dan sekutunya di Teluk melalui rudal Patriot (MIM-104). Rudal Patriot akan ditembakkan ke arah drone Shahed milik Iran hingga mengenai pesawat tanpa awak tersebut di udara, mencegah bahan peledak mengenai target awalnya.

Pola pencegahan drone dengan rudal Patriot itu terbukti efektif. Terutama di negara-negara Teluk macam Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE).

Akan tetapi, setiap pencegatan drone oleh sekutu AS itu memiliki biaya yang jauh lebih tinggi daripada serangan drone itu sendiri.

Seturut Der Standard, rasio biaya serangan drone dan operasi pencegatannya bisa mencapai 60 banding 1. Artinya untuk setiap satu serangan drone, biaya yang perlu dikeluarkan untuk menangkalnya adalah 60 kali lipat daripada biaya drone itu sendiri.

Rasio itu diungkapkan CEO perusahaan produksi drone asal Texas Hylio, Arthur Erickson. Menurutnya, serangan drone Iran adalah "permainan uang".

"Jelas lebih mahal untuk menembak jatuh drone daripada menerbangkan drone," kata Arthur, dikutip dari Der Standard.

Sebuah drone Shahed milik Iran dilaporkan membutuhkan biaya produksi antara USD20.000 hingga USD50.000. Dengan biaya itu, Iran diproyeksikan telah memiliki ribuan drone tipe Shahed yang siap diterbangkan.

Sementara itu, rudal Patriot diproduksi dengan biaya yang jauh lebih besar. Setiap rudal pencegat dari AS itu diproduksi dengan biaya lebih dari USD3 juta.

Artinya, setiap satu drone seharga USD50.000, ada rudal seharga USD3 juta yang dihabiskan untuk mencegahnya mengenai target.

Iran diperkirakan telah menembakkan lebih dari 2.000 drone kamikaze sejak AS dan Israel menyerang pada 28 Februari lalu. Tanpa de-eskalasi konflik, jumlah pelepasan drone Iran tersebut diprediksi terus meningkat.

AS Punya Sistem Anti-Drone Tapi Belum Tentu Efektif

Militer AS sebenarnya memiliki sistem anti-drone yang lebih murah daripada Patriot. Salah satu di antaranya adalah Raytheon Coyote.

Center for a New American Security melaporkan bahwa Raytheon Coyote "hanya" memerlukan biaya USD126.500 untuk mencegat satu drone musuh. Biaya tersebut masih lebih dari dua kali harga drone Iran, namun jauh lebih "hemat" jika dibandingkan Patriot.

Selain Raytheon Coyote, ada pula beberapa teknologi pelumpuh drone, termasuk perangkat pengganggu frekuensi radio yang digunakan untuk menavigasi arah drone. Ada pula perangkat khusus untuk membajak laju drone, membuat drone gagal mencapai target.

Akan tetapi, efektivitas sistem anti-drone tersebut masih kalah dibandingkan Patriot. Rekam jejak keberhasilan perangkat-perangkat itu masih terlalu berisiko mengancam kehidupan sipil.

Menjadikan Patriot sebagai andalan juga tak hanya mengkhawatirkan bagi AS dalam hal biaya. Persediaan dan laju produksi rudal Patriot kini diproyeksikan tak cukup menjanjikan guna menangkal serbuan drone Iran.

Lembaga think tank Center for Strategic and International Studies pernah melacak data publik tentang pengadaan militer AS akan fasilitas pencegat rudal/drone. Dalam laporan yang dirilis pada Desember 2025, lembaga itu menemukan bahwa tingkat pengadaan pencegat rudal AS hanya berkisar ratusan dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan laju produksi dan pengadaan sistem pencegat rudal/drone itu, penggunaan rudal Patriot dalam Perang Iran juga menyisakan pertanyaan tentang jumlah stok yang dimiliki AS.

Pada Rabu, Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengakui kekhawatiran atas ketersediaan stok pencegat rudal/drone. Hal itu diungkap Caine meski ia mencoba meyakinkan publik bahwa persediaan yang dimiliki AS masih cukup.

"Kita memiliki amunisi presisi yang cukup untuk tugas yang ada—baik dalam serangan maupun pertahanan," katanya. "Tetapi saya ingin memberi tahu kalian, rekan-rekan setim, sebagai bagian dari latihan, saya tidak ingin membicarakan soal kuantitas."

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar