Menakar Dampak Kudeta Taliban di Afghanistan terhadap Indonesia

Oleh: Alfian Putra Abdi - 23 Agustus 2021
Dibaca Normal 2 menit
Noor Huda menilai pemerintah mesti mengambil langkah preventif agar euforia di media sosial tidak menjadi gerakan aksi nyata.
tirto.id - Kelompok militan Taliban mengambil alih Afghanistan untuk kedua kali. Pertama pada 1995 dan kedua Agustus 2021. Taliban yang didominasi kaum Pashtun menguasai kota-kota besar Afghanistan. Okupasi tersebut dilakukan sebelum pasukan militer Amerika Serikat benar-benar hengkang dari negara itu pada akhir Agustus ini—setelah 20 tahun berada di sana.

Taliban terbentuk pada 1994. Kelompok ini terdiri dari mantan pejuang perlawanan Afghanistan, yang dikenal sebagai mujahidin. Mereka memerangi pasukan Soviet pada 1980-an. Taliban bertujuan memaksakan interpretasi mereka terhadap hukum Islam di negara itu, dan menghilangkan pengaruh asing.

Muncul asumsi Afghanistan akan menuju dunia konservatisme religi (khusus isu perempuan) setelah dikuasai Taliban. Namun Jubir Taliban Zabihullah Mujahid membantah, mereka mengklaim akan memberikan hak-hak perempuan meski tetap dengan batasan hukum syariah.

Taliban berusaha meyakinkan masyarakat yang khawatir kalau organisasi itu akan kembali membawa hukum dan ketertiban ke Afghanistan seperti dulu. Untuk itu, Taliban berjanji, kengerian akibat aturan sebelumnya tidak akan terulang lagi. "Kami ingin dunia mempercayai kami," kata Mujahid.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Muhammad Syauqillah menilai gejolak yang terjadi di luar negara semisal di Afghanistan selalu menjadi topik menarik bagi masyarakat di Indonesia karena isu keislamaan. Sehingga wajar apabila terjadi euforia di Indonesia terutama di media sosial atas kudeta Taliban di Afghanistan.

Namun ia tidak bisa memprediksi kemungkinan euforia di media sosial mampu memantik aksi terorisme di Indonesia. Meski demikian, ia menyarankan agar pemerintah tetap melakukan mitigasi. Mengingat Jamaah Islamiah (JI) memiliki koneksi dengan Taliban.

“Ini yang perlu kita lihat lebih jauh, apakah propaganda kelompok tertentu itu bisa berhasil,” ujarnya kepada reporter Tirto, Jumat (20/8/2021).



Sementara itu, menurut pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh, Al Chaidar situasi di Afghanistan bisa menimbulkan berbagai efek di Indonesia. Terutama memantik JI melakukan tindakan nyata.

“Ada yang ingin hijrah ke sana, ada yang ingin melihat bendera tauhid berkibar di kedutaan Afghanistan di Jakarta, ada juga yang ingin mengikuti jejak Taliban mendapatkan futuh. Juga ada yang ingin mencapai futuh dengan cara terorisme,” kata Al Chaidar saat dihubungi reporter Tirto, Jumat (20/8/2021).

Berdasarkan sisi afiliasi, JI berafiliasi dengan Al-Qaeda, organisasi teroris internasional yang berdiri sejak tahun 1988 dan dipimpin Osama Bin Laden dan kini dilanjutkan Ayman Al-Zawahiri. Sekutu Al-Qaeda di antaranya adalah Taliban, Boko Haram dan Abu Sayyaf.

Kelompok militan JI dilatih di berbagai medan, dari Afghanistan, Thailand, Malaysia, dan Filipina.

Namun Pakar Terorisme dan Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail menilai kejadian di Afghanistan tidak akan memberikan efek secara langsung atau mampu menumbuhkan sel-sel terorisme baru di Indonesia. Mengingat para kombatan jebolan Afghanistan di Indonesia jumlahnya tak banyak.

“Utamanya dalam jaringan pertemanan Hambali di dalam tubuh JI. Alumni yang lain tidak terlibat teror langsung,” ujarnya kepada reporter Tirto, Jumat (20/8/2021).

Hambali alias Encep Nurjaman alias Riduan Isamuddin ialah mantan pemimpin kelompok teroris Jemaah Islamiyah. Hambali disebut sebagai otak di balik serangan Bom Bali 2002 dan serangan bom ke Hotel JW Marriot Jakarta pada 2003. Sejak 2006, ia ditahan di penjara militer Amerika Serikat di Guantanamo.

“Dampak paling nyata dari kemenangan Taliban, ya adanya euforia di kalangan pro Taliban utamanya dari jaringan JI bukan ISIS,” ujarnya.



Salah satu kelompok teroris di Indonesia yang berafiliasi dengan ISIS ialah Jamaah Ansharut Daulah (JAD). JAD berafiliasi kepada ISIS yang dipimpin Abu Bakar Al-Baghdadi. JAD mulai ada sejak 2000 dan bergabung dengan Al-Qaeda pada 2004.

Meski demikian, menurut Noor Huda, pemerintah mesti mengambil langkah preventif, agar euforia di media sosial tidak menjadi gerakan aksi nyata.

Preventive seperti edukasi publik terutama dengan memakai ‘credible voice’ dari para mantan yang sudah tidak lagi pro-kekerasaan,” tukasnya.

Perihal euforia media sosial tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sudah mendeteksi penggalangan simpatisan atas kemenangan Taliban di Indonesia. BNPT berharap kejadian Taliban di Afghansitan tidak dicontoh masyarakat di Indonesia.

“Kita harus antisipasi jangan sampai salah menyikapi. Ini patut diwaspadai karena dapat menimbulkan aksi terorisme. Awalnya bersimpati, tapi kita mempelajari dari sosmed, ada pihak-pihak tertentu yang mencoba menggalang simpatisan,” ujar Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar dalam keterangan tertulis, Jumat.


Baca juga artikel terkait KONFLIK AFGHANISTAN VS TALIBAN atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight