Menuju konten utama

Menag Soal Rencana ke Vatikan: Jika Diberi Izin Presiden

Nasaruddin mengatakan juga tengah bersiap sebagai Amirul Hajj dalam penyelenggaraan haji tahun ini.

Menag Soal Rencana ke Vatikan: Jika Diberi Izin Presiden
Menteri Agama, Nasaruddin Umar menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Pemimpin Umat Katolik, Paus Fransiskus. Senin (21/4/2025).FOTO/ Dokumentasi: Kemenag

tirto.id - Menteri Agama, Nasaruddin Umar, merespons soal kemungkinan dirinya berangkat ke Vatikan untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus. Dia mengaku siap hadir jika mendapat izin dari Presiden Prabowo Subianto.

“Karena saya menjadi pejabat publik, tentu tergantung Presiden kita, ya. Karena, kami ini sekarang bukan lagi pribadi, tetapi kami lagi sebagai menteri. Tentu ada kaitannya dengan izin Bapak Presiden dan juga banyak kerjaan lain,” ujar Nasaruddin kepada wartawan usai mengunjungi Kedubes Vatikan pada Selasa (22/4/2025).

Selain tanggungjawab kenegaraan yang padat, Nasaruddin mengatakan juga tengah bersiap sebagai Amirul Hajj dalam penyelenggaraan haji tahun ini.

“Tetapi, yang namanya Tuhan, ya, tentu punya kemampuan untuk mengatur segalanya,” ujarnya.

Imam besar Masjid Istiqlal itu juga bercerita bahwa dirinya sangat terkejut dengan meninggalnya Paus Fransiskus pada Senin kemarin. Pasalnya, tak lama sebelumnya dia pernah menanyakan kabar Paus usai dirawat di Rumah Sakit akibat pneumonia ganda.

“Saya tanyakan keadaan Paus, ‘Bagaimana keadaan Paus?’ [dijawab] sudah getting better. Karena sudah keluar dari rumah sakit dan sudah mungkin di ruang publik, jadi alhamdulillah sudah mulai baik. Saya berharap kita bisa ketemu lagi,” katanya.

Lebih lanjut, Nasaruddin juga menyinggung soal Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani olehnya bersama Paus Fransiskus saat bertemu pada akhir 2024 lalu. Nasaruddin mengatakan bahwa dalam dokumen itu terdapat dua gagasan yang diangkat, salah satunya terkait penolakan terhadap kekerasan.

“Kekerasan itu tidak ada tempatnya dalam dunia kemanusiaan atas nama apa pun juga, apalagi agama. Itu tidak boleh namanya kalau itu melegalkan kekerasan. Jadi, kekerasan apa pun alasannya tidak boleh diterima,” katanya.

Gagasan kedua adalah kesepakatan bahwa agama harus berperan dalam menyelamatkan lingkungan. Pasalnya, kedua tokoh itu menganggap bahwa bahasa formal, bahasa politik, bahasa hukum tak bisa dapat menjadi jalan keluar.

“Kami berdua bersepakat bagaimana kalau kita menggunakan bahasa agama, bahasa hati nurani manusia, mengajak kepada semua umat beragama apa pun agamanya untuk memelihara alam semesta,” katanya.

Baca juga artikel terkait PAUS FRANSISKUS MENINGGAL atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi