tirto.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) merilis hasil survei terkait kondisi ekonomi di Indonesia. Hasil survei menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih buruk dibanding tiga bulan sebelumnya.
Sebagian besar pakar, 30 dari 64 (47 persen), menilai kondisi ekonomi saat ini telah memburuk dan jauh lebih buruk dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara 24 pakar memandangnya tidak berubah.
Sebagian kecil dari 8 pakar (12,5 persen) menganggapnya lebih baik, hanya 2 yang menganggapnya jauh lebih buruk, dan tidak ada pakar yang memandangnya jauh lebih baik.
Secara keseluruhan, respons rata-rata terhadap kondisi ekonomi saat ini adalah -0,41 dengan tingkat keyakinan yang sangat tinggi yaitu 8,88. Temuan ini menunjukkan kekhawatiran yang berkelanjutan di antara para pakar mengenai kondisi ekonomi.
"Hasil ini sejalan dengan konsensus survei sebelumnya pada Maret 2025, di mana sebagian besar pakar (55 persen) memandang kondisi ekonomi telah memburuk pada saat itu," tulis laporan LPEM FEB UI dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (22/10/2025).
Sebagian ahli juga mulai melihat tekanan inflasi terhadap ekonomi meningkat. Dari 64 responden, 39 persen (25 ahli) menilai tekanan inflasi lebih tinggi dibanding sebelumnya, dan 5 ahli lainnya menilai jauh lebih tinggi. Sementara itu, 45 persen (29 ahli) menilai dampaknya masih sama, dan hanya 5 orang yang melihat tekanannya menurun.
"Sebanyak 27 dari 64 ahli menilai kondisi pasar tenaga kerja memburuk dari periode sebelumnya, dan 10 ahli bahkan menilai jauh lebih buruk. 24 ahli menilai tidak berubah, dan hanya 3 orang yang menilai lebih baik," tulis LPEM FEB UI.
Sementara terkait lingkungan usaha, mayoritas ahli menilai sektor tersebut makin memburuk dibanding tiga bulan lalu. 29 dari 64 ahli menilai situasinya lebih buruk, 4 ahli bahkan menilai jauh lebih buruk.
Sementara itu, 23 ahli menilai tidak ada perubahan, dan 8 ahli melihat kondisi usaha telah membaik. Ini berarti pelaku usaha masih menghadapi beban dan tantangan yang cukup berat.
Diketahui, survei independen oleh LPEM FEB UI bertujuan untuk mendapatkan wawasan para pakar tentang lanskap ekonomi Indonesia, memperkuat dedikasinya terhadap diskusi kebijakan yang terinformasi serta pembangunan negara di masa depan.
Survei ini secara khusus menangkap persepsi para ahli tentang kondisi ekonomi dan sosial, serta perkembangan kebijakan, dengan membandingkannya dengan periode sebelumnya dan menilai ekspektasi ke depan.
Survei dilakukan pada 6-16 Oktober 2025 melalui platform survei daring. Ini adalah semester kedua survei pakar ekonomi pada tahun 2025.
Sampel terdiri dari 64 pakar ekonomi, yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti di Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Aceh, Banten, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, dan Lampung. Responden di luar negeri berasal dari Australia, Belanda, Amerika Serikat, dan Inggris.
Sampel survei terdiri dari para pakar yang memiliki gelar doktor dan bagi mereka yang berafiliasi dengan akademisi atau universitas, dan setidaknya gelar magister bagi mereka yang bekerja di lembaga lain, seperti sektor swasta, lembaga think tank. Para ahli yang berafiliasi dengan atau saat ini bekerja di lembaga pemerintah dikeluarkan dari sampel untuk menghindari potensi bias terkait dengan posisi kebijakan resmi.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































