tirto.id - Malam Satu Suro menjadi hari yang dinantikan banyak pihak, terlebih bagi masyarakat di Jawa. Malam 1 Suro menandai Tahun Baru Jawa. Umumnya, malam 1 Suro akan jatuh bersamaan dengan 1 Muharram yang merupakan Tahun Baru Hijriah.
Tahun Jawa dan Hijriah sama-sama menggunakan sistem qomariyah alias kalender yang berpatok pada peredaran bulan terhadap bumi. Alhasil, tahun baru Jawa umumnya jatuh di hari yang sama dengan Muharram.
Kalender Jawa ditilik dari sejarahnya juga tak lepas dari pengaruh Hijriah. Ini dimulai saat raja Mataram Islam, Sultan Agung, mengganti tahun Jawa yang sebelumnya bertapatok pada Saka Hindu menjadi mengacu pada Hijriah. Armelia F. dalam "Seri Penemuan Kalender (2019)" menyebutkan, perubahan itu dimulai sejak tahun Jawa 1555 atau bertepatan dengan 1043 H dan 1633 M.
Meski sebenarnya identik, namun penetapan 1 Suro dengan 1 Muharram sebenarnya menggunakan metode berbeda. Kalender Jawa umumnya memiliki ketetapan pasti berdasarkan tahun. Misalnya tahun Dal (355 hari) sedangkan tahun Alip (354 hari). Sebaliknya, tahun baru Hijriah biasanya ditetapkan berdasarkan sejumlah metode seperti hisab hingga rukyatul hilal.
Malam 1 Suro Tahun 2025 Kapan Menurut Kalender
Dilansir dari Kalender Bank Indonesia Tahun 2025, malam 1 Suro 1959 Dal jatuh pada malam Jumat Kliwon atau pada Kamis Wage malam, 26 Juni 2025. Sedangkan hari 1 Suro dimulai pada Jumat Kliwon, 27 Juni 2025. Sebagai catatan, hari dalam penanggalan qomariyah umumnya dimulai dari petang.
Malam 1 Suro sekaligus menandai transisi dari tahun 1958 Je menjadi 1959 Dal. Merunut polanya, 1 Suro yang bertepatan dengan Jumat Kliwon, menandai dimulainya tahun Dal. Umumnya, tahun Dal berisi 355 hari dalam setahun.
Malam 1 Suro akan jatuh tepat dengan 1 Muharram 1447 H. Mengacu kalender Hijriah Kemenag, 1 Muharram 1447 H akan berlangsung mulai Kamis, 26 Juni 2025 petang hingga Jumat, 27 Juni 2025 sore.
Kalender Bulan Suro Tahun 2025
Mengacu kalender BI, bulan Suro 1959 Dal terdiri dari 29 hari yang bertepatan dengan Juni-Juli 2025 M. Bulan pertama 1959 Dal akan berlangsung dari Jumat Kliwon, 27 Juni 2025 (1 Suro 1959) sampai dengan Jumat Pon 25 Juli 2025 (29 Suro 1959).
Bulan Suro kerap diangap sakral, terutama bagi mayarakat jawa. Sehingga ada beberapa pantangan yang masih dipercaya sebagian masyarakat, seperti untuk tidak mengadakan hajatan (pernikahan, sunatan, dll), dilarang keluar rumah, dilarang pindah rumah.
Sama seperti tahun Hijriah, tahun Jawa akan diisi 12 bulan yang dimulai dari Suro. Selanjutnya setelah Suro, kalender Jawa akan diisi bulan Sapar, Mulud, Bakdamulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rajab, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar. Berikut ini, rincian tanggal bulan Suro 1959 Dal:
- 27 Juni 2025: 1 Suro 1959 Dal
- 28 Juni 2025: 2 Suro 1959 Dal
- 29 Juni 2025: 3 Suro 1959 Dal
- 30 Juli 2025: 4 Suro 1959 Dal
- 1 Juli 2025: 5 Suro 1959 Dal
- 2 Juli 2025: 6 Suro 1959 Dal
- 3 Juli 2025: 7 Suro 1959 Dal
- 4 Juli 2025: 8 Suro 1959 Dal
- 5 Juli 2025: 9 Suro 1959 Dal
- 6 Juli 2025: 10 Suro 1959 Dal
- 7 Juli 2025: 11 Suro 1959 Dal
- 8 Juli 2025: 12 Suro 1959 Dal
- 9 Juli 2025: 13 Suro 1959 Dal
- 10 Juli 2025: 14 Suro 1959 Dal
- 11 Juli 2025: 15 Suro 1959 Dal
- 12 Juli 2025: 16 Suro 1959 Dal
- 13 Juli 2025: 17 Suro 1959 Dal
- 14 Juli 2025: 18 Suro 1959 Dal
- 15 Juli 2025: 19 Suro 1959 Dal
- 16 Juli 2025: 20 Suro 1959 Dal
- 17 Juli 2025: 21 Suro 1959 Dal
- 18 Juli 2025: 22 Suro 1959 Dal
- 19 Juli 2025: 23 Suro 1959 Dal
- 20 Juli 2025: 24 Suro 1959 Dal
- 21 Juli 2025: 25 Suro 1959 Dal
- 22 Juli 2025: 26 Suro 1959 Dal
- 23 Juli 2025: 27 Suro 1959 Dal
- 24 Juli 2025: 28 Suro 1959 Dal
- 25 Juli 2025: 29 Suro 1959 Dal
Mengapa 1 Suro Disebut Angker?
Malam 1 Suro identik dengan kata angker, lantaran beberapa masyarakat menyakralkan hari tersebut hingga memberikan beberapa pantangan. Di sisi lain, malam 1 Suro juga menandai sejumlah tradisi sakral, terutama dari lembaga-lembaga adat di Jawa.
Keraton Kasultanan Yogyakarta misalnya, punya tradisi Mubeng Beteng atau mengitari kawasan beteng Keraton Jogja dengan berlawanan arah jarum jam. Serupa namun sedikit berbeda juga terdapat dalam tradisi Keraton Kasunanan Surakarta (Solo). Keraton Solo akan menggelar kirab dengan menyertakan Kebo Bule Kiai Slamet.

Tradisi yang sama juga ditemukan di Pura Mangkunegaran (Solo) hingga Pura Pakualaman (Yogya). Umumnya, kerajaan atau kadipaten pecahan Mataram Islam itu juga menggelar jamasan pusaka atau menyucikan pusaka di bulan Suro.
Penulis: Rachma Dania
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id







































