Menuju konten utama

Luhut Sebut Tarif Nol untuk AS Bukan Karpet Merah, tapi Strategi

Penyederhanaan tarif terhadap sebagian besar produk impor dari AS merupakan bagian dari pendekatan timbal balik yang terukur.

Luhut Sebut Tarif Nol untuk AS Bukan Karpet Merah, tapi Strategi
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan paparan dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI di Menara Mandiri, Senayan, Jakarta, Selasa (8/4/2025). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/Spt.

tirto.id - Indonesia memberikan pembebasan tarif terhadap produk Amerika Serikat (AS) yang masuk ke Indonesia. Tarif 0 persen untuk AS ini, diberikan sebagai bagian dari kesepakatan penurunan tarif impor menjadi sebesar 19 persen dari sebelumnya 32 persen untuk produk Indonesia ke AS.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan penyesuaian tarif impor oleh pemerintah terhadap produk AS bukan berarti memberi karpet merah untuk asing. Sebaliknya, itu merupakan bagian dari langkah kebijakan yang bersifat strategis untuk memperkuat rantai pasok, menarik investasi berbasis nilai tambah, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra dagang yang dihormati.

“Kita tidak sedang memberi karpet merah untuk pihak luar, tetapi justru membuka jalan yang lebih besar bagi produk dan pelaku usaha Indonesia untuk bersaing di pasar global. Ini adalah diplomasi ekonomi dengan visi jangka panjang yang jelas, yang berlandaskan kepentingan nasional,” ujar dia, dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (17/7/2025).

Menurut Luhut, penyederhanaan tarif terhadap sebagian besar produk impor dari AS merupakan bagian dari pendekatan timbal balik yang terukur dan menguntungkan kedua belah pihak. Kebijakan ini bukanlah konsesi sepihak.

Di sisi lain, DEN telah melakukan simulasi ekonomi dengan dua skenario utama untuk mengukur dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, investasi, tenaga kerja, dan kesejahteraan masyararakat.

Pada skenario pertama, tarif tambahan terhadap produk Indonesia tetap tinggi di angka 32 persen, sedangkan skenario kedua tarif berhasil diturunkan menjadi 19 persen disertai dengan penyesuaian tarif impor Indonesia terhadap sebagian besar produk dari AS.

"Hasil simulasi menunjukkan bahwa skenario kedua memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih positif. Produk domestik bruto (PDB) diprediksi naik sebesar 0,5 persen, didorong oleh peningkatan investasi dan konsumsi. Penyerapan tenaga kerja tumbuh sebesar 1,3 persen, sementara kesejahteraan masyarakat meningkat sebesar 0,6 persen," jelas Luhut.

Simulasi juga memperkirakan lonjakan investasi hingga 1,6 persen, yang menunjukkan potensi relokasi industri global ke Indonesia, terutama di sektor-sektor padat karya seperti tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, serta perikanan.

“Indonesia menjadi negara dengan tambahan tarif AS paling rendah dibandingkan negara yang memiliki surplus perdagangan dengan AS dan juga diantara negara ASEAN lainnya. Ini tentunya memberikan kesempatan yang besar bagi Indonesia.” imbuhnya.

Lebih lanjut, Luhut mengatakan penurunan tarif ini membuka peluang besar bagi industri padat karya di Indonesia seperti tekstil dan produk tekstil, alas kaki, serta furnitur. Dus, diharapkan dapat memperluas akses pasar di Amerika Serikat dengan hambatan biaya yang lebih rendah.

Selain mendorong ekspor, kebijakan ini juga berpotensi menarik minat investor asing untuk merelokasi industrinya ke Indonesia, demi memanfaatkan keunggulan tarif dalam mengakses pasar AS.

"DEN juga melihat kesepakatan ini sebagai pijakan penting untuk mempercepat agenda deregulasi dan menurunkan biaya logistik serta produksi di dalam negeri (high cost economy). Dengan demikian, bukan hanya ekspor yang terdorong, tetapi juga daya saing ekonomi nasional secara menyeluruh," tutur dia.

Karenanya, DEN mendorong sinergi lintas kementerian untuk mengoptimalkan momentum ini demi perluasan basis pelaku ekspor nasional dan berkomitmen untuk mendampingi pemerintah dalam memantau implementasi kebijakan ini agar seluruh manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan pelaku usaha.

“DEN percaya bahwa arah kebijakan ekonomi nasional yang tepat dan berbasis data akan menjadi kunci dalam mengakselerasi pertumbuhan inklusif dan berdaya saing di era global,” pungkas Luhut.

Baca juga artikel terkait TARIF TRUMP atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra