tirto.id - Direktur Eksekutif Lokataru, Delpedro Marhaen, menyatakan banyak anggota kepolisian yang membuat unggahan provokatif mengajak pelajar, khususnya siswa STM, turun aksi dan bertarung di lapangan. Menurutnya, oknum kepolisian aktif memanipulasi pelajar melalui pesan-pesan yang menyerukan kekerasan di sosial media.
“Banyak dari anggota kepolisian yang membuat unggahan-unggahan memprovokasi STM dan pelajar. Seperti pelajar tidak ada kemampuan untuk bertarung, kapan kita bertarung lagi, dan tindakan-tindakan lainnya," kata Delpedro di YLBHI, Jakarta, Jumat (29/8/2025).
Ia menambahkan bahwa, tindakan aparat kepolisian ini membuktikan bahwa keberadaan mereka di lapangan bukan untuk keamanan, tetapi untuk memancing bentrokan dengan pelajar.
“Jadi ketika di lapangan niatnya memang bukan untuk keamanan, tapi untuk perang dengan masyarakat terutama dengan pelajar,” ujarnya.
Tak hanya di sosial media, berdasarkan pantauan Lokataru, tindakan provokatif juga dilakukan oleh oknum aparat yang melakukan pengamanan di lapangan.
“Betul. Baik di lapangan dan di sosial media banyak anggota kepolisian yang memprovokasi,” tambahnya.
Hingga kemarin, Lokataru mencatat sebanyak 600 orang telah ditangkap oleh Polda Metro Jaya beserta jajarannya, sebagian besar pelajar, dalam aksi demo di depan Gedung DPR, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025).
Banyak dari pelajar yang ditangkap mengalami luka-luka, intimidasi verbal, hingga patah tulang.
"Mereka banyak mengalami kekerasan, dipukul, diintimidasi secara verbal, secara fisik, dan juga banyak mukanya yang bonyok, dan mayoritas adalah kebanyakan pelajar laki-laki," jelasnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id
































